Konflik Suriah Bisa Diselesaikan pada 2012 Jika Barat Mau Dengarkan Rusia

Perang di Suriah bisa diselesaikan pada 2012 lalu jika saja semua pihak yang terlibat dalam konflik mendengarkan Rusia.

Lakhdar Brahimi, mantan Utusan Khusus Suriah untuk PBB dan Liga Arab (2012 – 2014), meyakini bahwa perang di Suriah bisa diselesaikan pada 2012 lalu jika saja semua pihak yang terlibat dalam konflik mendengarkan Rusia.

"Kita harus mengatakan bahwa Rusia memiliki analisis yang jauh lebih realistis atas situasi yang terjadi di sana daripada yang lainnya," kata Brahimi dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, sebagaimana yang dikutip Sputnik.

"Dan mungkin semua pihak seharusnya berdiskusi dan mendengarkan mereka (Rusia) lebih banyak. Mereka tahu betul seperti apa situasinya (di Suriah). Ada kemungkinan untuk mengakhiri konflik pada 2012 lalu, jika saja semua orang benar-benar memiliki analisis yang lebih tajam dan lebih memahami apa yang terjadi di Suriah."

Mantan diplomat tersebut menjelaskan bahwa hampir semua pihak yang terlibat jatuh ke dalam sebuah analisis yang sangat dangkal terhadap situasi yang terjadi di Suriah.

"Ingat Arab Spring? Presiden Tunisia — saat itu semua dimulai — jatuh dalam tempo sekitar tiga minggu. Presiden Mesir jatuh bahkan kurang dari itu. Namun, dalam kasus Suriah, kejadian itu tampak seperti diambil begitu saja — bahwa pemerintah di Damaskus pun akan runtuh dalam waktu singkat," jelasnya.

Arab Spring

Kebangkitan dunia Arab atau Arab Spring adalah gelombang revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi di dunia Arab. Sejak 18 Desember 2010, telah terjadi revolusi di Tunisia dan Mesir; perang saudara di Libya; pemberontakan sipil di Bahrain, Suriah, dan Yaman; protes besar di Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, dan Oman, dan protes kecil di Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi, Sudan, dan Sahara Barat. Kerusuhan di perbatasan Israel bulan Mei 2011 juga terinspirasi oleh kebangkitan dunia Arab ini.

Protes ini menggunakan teknik pemberontakan sipil dalam kampanye yang melibatkan serangan, demonstrasi, pawai, dan pemanfaatan media sosial, seperti Facebook, Twitter, YouTube, untuk mengorganisasikan, berkomunikasi, dan meningkatkan kesadaran terhadap usaha-usaha penekanan dan penyensoran internet oleh pemerintah.

Lakhdar Brahimi mengatakan lebih dari sekali bahwa dunia Muslim telah mengkhianati Suriah. "Dan tidak hanya dunia Muslim — seluruh dunia," tambahnya.

"Apa yang Amerika lakukan? Apa yang Prancis lakukan? Apa yang Inggris lakukan? Tidak ada yang membantu Suriah. Mereka terus mengulangi seruan yang sama: pertama adalah bahwa Assad harus turun, selebihnya — semua orang adalah teroris."

Mantan politikus ini pun menjelaskan bahwa Daesh (ISIS) "tidak datang dari planet Mars." Menurut Brahimi, ISIS adalah sebuah organisasi Irak. Ia mengatakan, hanya ada sedikit orang Suriah yang terlibat dalam organisasi ini, bahkan hanya ada sedikit orang Suriah yang berada di dalam jajaran petinggi ISIS di Suriah. "Ini adalah sebuah organisasi Irak yang telah berkembang di belakang marjinalisasi kaum Sunni di Irak," kata Brahimi.

"Pemerintah Irak dan orang-orang yang mendukung pemerintah Irak — Iran dan AS — harus memahami bahwa al-Qaeda muncul di Irak akibat invasi Irak oleh AS," katanya menjelaskan lebih lanjut.

"Tidak ada orang baik dalam tragedi Suriah dan saya juga akan menyalahkan banyak hal kepada kekuatan asing — pasukan, pemerintah, dan lain-lain — yang mendukung satu pihak atau yang lainnya," tambahnya.

"Tak satu pun dari negara-negara ini yang menempatkan kepentingan rakyat Suriah sebagai prioritas pertama mereka. Kepentingan rakyat Suriah (maksimal) ada di tempat kedua," sesalnya.

Klaim serupa muncul pada musim gugur 2015 ketika banyak sumber media Barat mengklaim bahwa mantan presiden Finlandia dan peraih hadiah Nobel perdamaian Martti Ahtisaari mengatakan bahwa lebih dari tiga tahun yang lalu. Rusia mengusulkan bahwa Presiden Suriah Assad bisa mundur sebagai bagian dari kesepakatan damai. Martti Ahtisaari kemudian menyatakan bahwa "negara-negara Barat gagal merebut proposal."

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.