Dalam 18 Bulan, Serangan Udara Koalisi AS Tewaskan Lebih dari Seribu Warga

Jumlah tersebut 50 kali lebih banyak daripada jumlah yang diakui koalisi tersebut.

Lebih dari seribu warga sipil telah tewas dalam 18 bulan terakhir akibat serangan udara koalisi pimpinan AS terhadap kelompok teroris ISIS di Irak dan Suriah. Demikian hal tersebut dilaporkan media Rusia Sputnik.

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan Airwars, sebuah lembaga pengawas pemantauan serangan udara, pada Rabu (9/3), jumlah tersebut 50 kali lebih banyak daripada jumlah yang diakui koalisi tersebut.

Airwars

Airwars adalah suatu proyek nonprofit transparan dan kolaboratif yang bertujuan untuk melacak dan mengarsipkan aktivitas perang udara terhadap ISIS dan kelompok-kelompok teroris lainnya di Irak dan Suriah.

Menurut laporan tersebut, Airwars telah mengidentifikasi 352 kasus penyerangan korban sipil yang melibatkan koalisi pimpinan AS.

"Berdasarkan laporan masyarakat yang kredibel dan berbagai serangan koalisi yang telah dikonfirmasi di daerah sekitarnya, sekitar 166 insiden dinilai kemungkinan menyebabkan kematian warga sipil, dengan jumlah warga sipil yang tewas berkisar antara 1.004 hingga 1.419 orang," tulis laporan tersebut.

Namun demikian, sejauh ini Pentagon mengaku hanya 21 orang warga sipil yang tewas dalam satu tahun terakhir dan hanya setengah dari jumlah tersebut yang disebabkan oleh serangan udara koalisi pimpinan AS.

Koalisi internasional yang dipimpin AS telah melakukan serangan udara terhadap kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak sejak September 2014. Berbeda dengan Rusia, koalisi pimpinan AS sama sekali tidak menerima permintaan resmi dari Damaskus untuk melakukan serangan di Suriah atau izin yang sesuai dari Dewan Keamanan PBB.

Tuduhan Terhadap Rusia

Isu tewasnya warga sipil akibat operasi militer yang tengah berlangsung juga kerap dilayangkan kepada pihak Rusia. Namun demikian, Rusia selalu membantah bahwa militernya menyerang warga dan fasilitas sipil di Suriah. Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta bulan Januari lalu, Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin menegaskan bahwa Rusia justru berharap media internasional melaporkan kepada Moskow jika memiliki bukti konkret atas serangan AU Rusia terhadap fasilitas sipil di Suriah.

"Kami sering kali dituduh bahwa AU Rusia menyerang fasilitas sipil di Suriah. Namun di satu sisi, hal ini sangat menarik untuk dicermati karena tuduhan tersebut hampir selalu dilayangkan oleh Barat," kata Galuzin. Menurut dubes Rusia, berbagai tuduhan tanpa bukti tersebut dipublikasikan oleh media-media yang negaranya mengebom Suriah serta negara-negara lain tanpa berbekal izin apa pun.

"Mereka yang menuduh adalah media-media yang negaranya, pertama, mengebom Suriah tanpa izin apa pun — berdasarkan hukum internasional, dan kedua, mereka adalah media-media yang angkatan udara negaranya telah mengebom dan merusak fasilitas sipil, rumah sakit, dan permukiman di Afganistan, Pakistan, dan bahkan Suriah. Jadi, ini jelas merupakan contoh nyata penerapan standar ganda," kata Galuzin menegaskan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.