Militer Rusia Dapatkan Laporan Satu Kota Suriah Diserang Militan Turki

Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa pasukan dari Turki datang dengan menggunakan artileri berat.

Pusat pemantauan gencatan senjata Rusia di dekat Latakia, Suriah, mengatakan bahwa Rusia tengah memverifikasi kabar yang melaporkan bahwa terjadi serangan terhadap kota Kurdi Beritahu Abyad di Suriah utara yang dilakukan oleh militan yang berasal dari Turki. Demikian hal tersebut dilaporkan media Rusia RT.

Letnan Jenderal Sergei Kurylenko yang mengepalai pusat rekonsiliasi Suriah mengungkapkan, dalam laporan tersebut dikatakan bahwa pasukan dari Turki datang dengan menggunakan artileri berat.

"Informasi ini diverifikasi melalui beberapa saluran, termasuk perwakilan dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang merupakan aliansi pemberontak — yang mencakup Kurdi, Arab, dan kelompok etnis lainnya — yang beroperasi di wilayah tersebut," kata Kurylenko sebagaimana yang dikutip RT.

Menurut sang jenderal, Rusia juga telah meminta klarifikasi dari pusat pemantauan AS yang berbasis di Amman, dengan pertimbangan bahwa AS memiliki pengaruh terhadap Turki yang juga merupakan anggota koalisi antiteroris yang dipimpin Amerika.

Sementara, surat kabar Turki Hurriyet, mengutip sumber militer, menyangkal bahwa militer Turki terlibat dalam penembakan lintas perbatasan pada Minggu (28/2).

Rusia dan AS telah menengahi gencatan senjata di beberapa bagian wilayah Suriah, yang diharapkan akan dipatuhi oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik di negara tersebut, sementara pertempuran melawan ISIS, front al-Nusra, dan kelompok teroris lainnya akan terus berlanjut.

Ankara saat ini tengah menghantam milisi Kurdi dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang dianggap sebagai organisasi teroris di Turki. Sementara serangan berfokus pada daerah yang didominasi Kurdi di Turki tenggara, bentrokan sesekali terjadi di lintas perbatasan daerah-daerah Suriah dan Irak yang didiami oleh suku Kurdi.

Milisi Kurdi di Irak dan Suriah adalah salah satu dari beberapa kelompok kekuatan yang berhasil menghambat penyebaran ISIS dan telah didukung oleh AS. Ankara mengkritik sikap Washington, dan mengatakan bahwa Amerika harus memilih antara Kurdi dan Turki.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.