Enggan Kerja Sama dengan Moskow, Dubes Rusia: AS Seolah-olah Dukung Teroris

Sejak awal Rusia selalu mengajak dan tak menolak untuk bekerja sama dengan AS.

Sikap AS yang enggan bekerja sama dengan Rusia dalam memberantas terorisme membuat negara tersebut seolah-olah terlihat seperti mendukung kelompok teroris internasional. Demikian hal tersebut diungkapkan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam sesi jumpa pers di Jakarta, Kamis (25/1).

Sebelumnya, sebagaimana yang dikabarkan media Rusia Sputnik, Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Mark Milley kepada wartawan, Rabu (24/2), mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Rusia kemungkinan besar tidak akan melakukan operasi militer bersama di Suriah sekalipun baru-baru ini telah tercapai kesepakatan bersama terkait gencatan senjata demi menghentikan pertikaian di negara tersebut.

"Saya tidak akan terlalu berharap bahwa militer AS dan Rusia akan berdampingan melakukan operasi militer di Suriah. Itu tidak mungkin terjadi," kata Milley.

Menanggapi hal ini, Dubes Galuzin menegaskan bahwa sejak awal Rusia selalu mengajak dan tak menolak untuk bekerja sama dengan AS atau pihak-pihak lainnya demi memberantas terorisme internasional.

"Sayangnya, AS tak mau bekerja sama dengan Rusia," kata sang dubes. "Sekarang, pihak kami hanya sebatas melakukan koordinasi dengan pasukan AS, terkait insiden yang mungkin terjadi di Suriah. Menurut kami, Rusia dan AS memang seharusnya bekerja sama."

Galuzin menambahkan, pada 22 Februari lalu, perwakilan dari Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, telah menghubungi perwakilan tentara AS demi membangun jalur hotline antara kedua negara agar koordinasi operasi militer dapat lebih dikomunikasikan antara kedua belah pihak. "Sayangnya, tak ada respons dari pihak AS," kata dubes Rusia.

Pada Senin (21/2), Rusia dan Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka telah sepakat untuk menerapkan penghentian pertikaian di Suriah, demi menjamin tersalurkannya berbagai bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah yang terkepung, dan untuk lebih mendapatkan gambaran wilayah mana saja yang masih dikuasai teroris di negara tersebut.

Gencatan senjata dijadwalkan akan mulai berlaku pada tanggal 27 Februari. Langkah ini pun telah didukung dari 17 anggota Kelompok Internasional Pendukung Suriah.

Rusia dan Amerika Serikat sama-sama meluncurkan serangan udara terhadap target kelompok teroris di Suriah. Namun demikian, hingga kini kedua negara tersebut membatasi kerja sama mereka hanya di lingkup pembicaraan formal untuk menghentikan konflik.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.