Dubes Rusia: Kami Tak Pernah Minta Barat Cabut Sanksi

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam sesi jumpa pers di Jakarta, Kamis (25/1).

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam sesi jumpa pers di Jakarta, Kamis (25/1).

Fauzan Al-Rasyid
Jika Barat siap melanjutkan sanksi terhadap Rusia, berarti Barat siap menghadapi konsekuensi atas sanksi tersebut. Demikian hal tersebut diungkapkan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam sesi jumpa pers di Jakarta, Kamis (25/1).

"Kalau Barat ingin terus merugi akibat sanksi tersebut, silakan, ini bukan masalah kami," kata Dubes Galuzin menegaskan. Menurut sang dubes, Rusia tak pernah meminta Barat untuk mencabut sanksi tersebut karena sanksi tersebut sepenuhnya dijatuhkan secara sepihak tanpa melibatkan PBB.

"Jika negara-negara Eropa terus menjalankan sanksi sepihaknya terhadap Rusia, ini berarti mereka pun siap untuk terus merugi karena Rusia pun akan tetap menjalankan kebijakan sanksi balasan terhadap Barat," kata sang dubes.

Dalam kesempatan tersebut, dubes Rusia juga mempertanyakan independensi Eropa yang terkesan terlalu didikte oleh AS. "Kalau Barat siap memasang sanksi berdasarkan permintaan AS, lantas apakah Barat memang benar-benar independen?"

Seruan Cabut Sanksi

Pada bulan ini, mantan PM Prancis François Fillon dan mantan PM Italia Italia Silvio Berlusconi sama-sama menyerukan Uni Eropa untuk segera mencabut sanksi anti-Rusia.

"Sanksi ekonomi anti-Rusia harus segera dicabut. Ini adalah langkah konyol. Sanksi ini sama sekali tidak mengubah kebijakan politik Rusia di dunia internasional, melainkan hanya menciptkan gangguan dalam hubungan antara Barat dan Rusia," kata Fillon kepada saluran televisi France 5.

Senada dengan Fillon, kepada harian Il Tempo, Berlusconi mengatakan bahwa alih-alih bekerja sama dengan Rusia, Eropa justru berusaha untuk mengisolasi Rusia dengan menerapkan sanksi ekonomi yang tidak masuk akal, yang pada akhirnya menghantam perekonomian Italia dan Eropa itu sendiri.

Bulan Januari lalu, harian Italia Il Giornalemengkritik kebijakan Eropa yang terus memperuncing ketegangan dengan Rusia, yang sebenarnya merupakan 'sekutu Barat yang paling nyata'. Il Giornale menulis, daripada terus melayani (memenuhi semua 'keinginan') AS, negara-negara Eropa harus mengakhiri iklim ketidakpercayaan dalam menjalin hubungan dengan Rusia.

Harian tersebut berpendapat, sanksi sepihak yang dijatuhkan AS terhadap Rusia — dan negara-negara Eropa lainnya yang dipaksa untuk mendukung kampanye ini — secara efektif mengasingkan Rusia yang selama ini selalu menjadi bagian budaya dan politik Eropa.

Sanksi Barat Terhadap Rusia

Pada 2014 lalu, Uni Eropa, AS dan sekutu-sekutunya memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi terhadap Rusia karena Moskow dianggap telah ikut campur dalam urusan internal Ukraina dan meningkatkan krisis militer di negara itu.

Menanggapi tuduhan tersebut, Rusia berulang kali membantah terlibat dalam konflik bersenjata di timur Ukraina, dan memperingatkan bahwa sanksi Barat terhadap Rusia bersifat nonproduktif.

Mulai Menyerah?

Setelah hampir dua tahun diberlakukannya sanksi, media Rusia RT menyebutkan bahwa kini semakin banyak negara Uni Eropa yang tidak senang dengan penerapan sanksi tersebut. Hal ini dikarenakan sanksi terhadap Rusia juga berpengaruh negatif terhadap perekonomian mereka.

Januari lalu, Menteri Ekonomi, Industri, dan Urusan Digital Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Paris akan membantu mencabut sanksi Barat terhadap Rusia pada musim panas ini.

Hal serupa juga disepakati oleh perwakilan Kamar Dagang Jerman-Rusia, yang meyakini bahwa sanksi terhadap Rusia harus ditinjau kembali.

Kepala Kamar Dagang Jerman-Rusia Rainer Seele menyebutkan bahwa 80 persen bisnis Jerman telah merasakan dampak ekonomi dari sanksi tersebut.

Pada bulan Desember, Italia menunda keputusan Uni Eropa untuk memperpanjang sanksi ekonomi terhadap Rusia, dan menuntut untuk membahas lebih lanjut masalah ini setelah pertemuan utusan Uni Eropa di Brussels.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.