Putin: Gencatan Senjata di Suriah, Peluang untuk Hentikan Pertumpahan Darah

Serangan terhadap ISIS dan kelompok teroris lainnya di Suriah akan tetap dilanjutkan setelah kesepakatan penghentian pertikaian ini diberlakukan, kata Putin meyakini.

Serangan terhadap ISIS dan kelompok teroris lainnya di Suriah akan tetap dilanjutkan setelah kesepakatan penghentian pertikaian ini diberlakukan, kata Putin meyakini.

Mikhail Metsel/TASS
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertikaian di Suriah, yang akan berlaku pada tengah malam tanggal 27 Februari, setelah seluruh pihak yang bertikai dalam konflik menyepakati keputusan tersebut. Demikian hal tersebut diungkapkan presiden Rusia dalam sebuah pernyataan yang dirilis di situs web Kremlin.

Putin dan Obama

"Saya baru saja berbicara dengan Presiden AS Barack Obama melalui telepon," kata Putin. "Meskipun pembicaraan dimulai atas inisiatif pihak Rusia, tapi tak diragukan bahwa ada kepentingan bersama antara Rusia dan AS. Selama pembicaraan, kami menyetujui deklarasi bersama dari Rusia dan AS, selaku kepala Kelompok Internasional Pendukung Suriah, terkait penghentian pertikaian di negara tersebut."

"Saya yakin bahwa upaya bersama yang disepakati dengan AS (untuk memastikan penghentian pertikaian -red.) mampu membalikkan arus yang paling radikal dalam penyelesaian krisis Suriah," kata Putin.

"Akhirnya, muncul peluang yang nyata untuk menghentikan pertumpahan darah penuh kekerasan yang telah berlangsung lama," kata sang presiden seraya menambahkan bahwa langkah tersebut juga akan menciptakan peluangan untuk menjalankan proses politik yang sebenarnya dalam format dialog inter-Suriah di Jenewa di bawah naungan PBB.

Selain itu, sang presiden Rusia mengatakan bahwa kesepakatan ini harus berdampak pada semakin mudahnya akses bantuan kemanusiaan ke semua warga Suriah yang membutuhkan.

Penghentian Pertikaian pada 27 Februari

Presiden Putin mengatakan bahwa para pakar Rusia dan Amerika telah bekerja keras demi meletakkan fondasi pada kesepakatan ini. Selain itu, sejumlah pengalaman positif dalam upaya bersama yang bertujuan menghancurkan senjata kimia di Suriah juga turut digunakan.

Setelah beberapa putaran konsultasi yang diadakan di balik pintu tertutup, hasil konkret yang signifikan akhirnya dapat tercapai, kata Putin.

"Perjanjian tersebut menyebutkan bahwa pertempuran akan berakhir di Suriah pada tengah malam waktu Damaskus, pada 27 Februari 2016, di bawah ketentuan yang merupakan bagian integral dari deklarasi bersama Rusia dan AS," kata presiden Rusia.

Secara khusus, Putin mengatakan, "Pada siang hari tanggal 26 Februari, semua pihak yang bertikai di Suriah perlu mengonfirmasi kepada kami atau kepada mitra Amerika kami bahwa mereka akan mematuhi kesepakatan gencatan senjata," katanya.

Setelah itu, militer Rusia dan AS akan menandai daerah yang menjadi tempat kelompok-kelompok ini beroperasi," katanya. Dengan begitu, menurut Putin, mereka tidak akan menjadi target Angkatan Bersenjata Suriah, serangan udara Rusia, atau koalisi pimpinan AS.

"Sebagai timbal balik, pasukan oposisi akan menghentikan aktivitas pertempuran mereka melawan Angkatan Bersenjata Republik Arab Suriah dan kelompok-kelompok yang mendukung mereka," kata sang kepala negara menambahkan.

Serangan kepada Teroris Akan Diteruskan

Serangan terhadap ISIS dan kelompok teroris lainnya di Suriah akan tetap dilanjutkan setelah kesepakatan penghentian pertikaian ini diberlakukan, kata Putin meyakini.

"Adapun ISIS, Jabhat al-Nusra, dan organisasi-organisasi teroris lainnya yang telah ditandai Dewan Keamanan PBB, tidak diikutsertakan dalam kesepakatan gencatan senjata," kata Putin.

"Serangan kepada ISIS akan terus dilancarkan," katanya.

"Saya harap pemerintah Suriah dan seluruh mitra kami di wilayah ini dan sekitarnya akan mendukung algoritma atas tindakan yang dipilih oleh Rusia dan AS," kata Putin.

Contoh dalam Memerangi Terorisme

Kesepakatan yang dicapai Rusia dan AS untuk mengakhiri pertikaian di Suriah dapat menjadi contoh atas tindakan masyarakat dunia yang bertanggung jawab dalam memerangi terorisme, kata Putin. Ia menyebutkan, tindakan sepihak — tanpa persetujuan PBB, demi mendukung keuntungan politik atau kepemimpinan sesaat — telah menyebabkan konsekuensi krisi yang tragis di Somalia, Irak, Libya, dan Yaman."

"Atas latar belakang ini, kesepakatan antara Rusia dan AS untuk menghentikan pertikaian di Suriah — penerapan tindakan yang berkoordinasi dengan semua negara anggota yang tergabung dalam Kelompok Internasional Pendukung Suriah — dapat menjadi contoh atas tindakan masyarakat dunia yang bertanggung jawab, yang berdasarkan norma-norma hukum internasional dan prinsip-prinsip PBB dalam menangkal ancaman terorisme," kata Presiden Putin.

Menurut statistik PBB, pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah dan gerilyawan sejak awal 2011 telah menewaskan lebih dari 220 ribu jiwa dan menelantarkan jutaan rakyat sipil. Berbagai kelompok militan di Suriah membentuk formasi bersenjata, tapi yang paling aktif melawan pasukan pemerintah adalah kelompok teroris ISIS dan front Jabhat al-Nusra.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.