Lavrov: AS Harus Patuhi Keputusan Kelompok Internasional Pendukung Suriah

Kerja sama dengan Rusia sangatlah penting, kata Lavrov.

Kerja sama antara militer AS dan Rusia harus dilakukan demi menyelesaikan masalah kemanusiaan dan gencatan senjata di Suriah. Demikian hal tersebut ditegaskan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam Konferensi Keamanan Munich, Sabtu (13/2).

"Instrumen kunci dalam penyelesaian masalah kemanusiaan dan gencatan senjata di Suriah adalah dengan bekerja sama dan berkoordinasi secara terus menerus antara militer koalisi yang dipimpin AS dengan militer Rusia — karena kami bekerja di Suriah atas permintaan pemerintah Suriah," kata Lavrov

Sang menlu mengatakan, kerja sama dengan Rusia sangatlah penting karena Moskow "memiliki pengaruh tertentu terhadap Damaskus".

"Yang terjadi, pembahasan terkait gencatan senjata justru bergerak keluar jalur menjadi suatu upaya untuk menghentikan pasukan AU Rusia. Hal ini pun menimbulkan kecurigaan dan memberikan alasan untuk menyesali berbagai gagasan atas apa yang bisa dihasilkan dari pertemuan Munich pada dokumen ini (komunike Kelompok Internasional Pendukung Suriah yang diadopsi pada 12 Februari -red.)," kata Lavrov. "Jika tidak ada komunikasi yang jujur setiap harinya di antara militer — di wilayah itu — di satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk melihat dengan jelas apa yang terjadi pada di wilayah itu, di satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk bisa untuk mengelola dan memperbaiki apa yang terjadi, maka tidak ada yang bisa diimplementasikan."

"Dalam deklarasi (komunike Kelompok Internasional Pendukung Suriah) disebutkan bahwa kontak antara militer akan diperbaiki," kata Lavrov. "Jika AS 'bergerak mundur' (tak mematuhi), AS akan bertanggung jawab penuh."

49% vs 51%

Ada 49 persen peluang terjadinya gencatan senjata di Suriah dalam sepekan ke depan, kata Lavrov.

"Empat puluh sembilan persen," kata Lavrov dengan segera saat menjawab pertanyaan terkait besarnya kemungkinan untuk mencapai gencatan senjata di Suriah sejalan dengan kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan Kelompok Internasional Pendukung Suriah pada 11 Februari.

Sementara, Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier lebih optimistis. Menurutnya, peluang terjadinya gencata senjata sekitar sekitar 51 persen.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.