Lawan ISIS, Rusia Siap Keluarkan Banyak Uang

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin meyakini, terlepas dari krisis yang tengah dihadapi Rusia, sebagain besar masyarakat Rusia mendukung kebijakan luar negeri Presiden Putin di Suriah.

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin meyakini, terlepas dari krisis yang tengah dihadapi Rusia, sebagain besar masyarakat Rusia mendukung kebijakan luar negeri Presiden Putin di Suriah.

Fauzan Al-Rasyid
Rusia harus melakukan operasi militer di Suriah demi mencegah meluasnya ancaman ISIS di dunia. Demikian hal tersebut diungkapkan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam sesi jumpa pers di Jakarta, Kamis (28/1).

Menurut Galuzin, keikutsertaan Rusia dalam perang melawan ISIS di Suriah bukan semata-mata untuk kepentingan Rusia, melainkan untuk kepentingan seluruh dunia.

"Keadaan dunia saat ini sangat serius. Jika kami tidak melawan ISIS di Suriah hari ini ini, mereka akan datang ke Rusia," kata Galuzin. "Namun lebih dari itu, ini bukan hanya soal Rusia. Jika ini hanya soal ancaman bagi Rusia, mungkin situasinya akan lebih mudah. Faktanya, ideologi ISIS sangat berbahaya bagi masyarakat internasional, bukan hanya bagi Rusia. Jadi, (operasi militer) ini bukan soal kepentingan Rusia, tapi soal kepentingan masyarakat dunia."

Tak Melebihi Anggaran

Meskipun kondisi perekonomian Rusia saat ini kurang baik dan bahkan cenderung melemah, Galuzin mengungkapkan bahwa operasi militer Rusia di Suriah sepenuhnya menggunakan anggaran Kementerian Pertahanan Rusia. Ia pun menegaskan, anggaran tersebut bahkan tidak melebihi anggaran yang diestimasikan.

"Operasi militer yang dilakukan Rusia menggunakan anggaran yang dialokasikan oleh Kemenhan Rusia. Pada 2015 lalu, biaya operasi militer di Suriah bahkan tidak melebihi estimasi anggaran Kementerian Pertahanan Rusia," kata Galuzin.

Ketika ditanya apakah operasi militer di Suriah berdampak pada perekonomian Rusia, Galuzin sepakat bahwa perang memang membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun, ia menekankan bahwa langkah tersebut memang dibutuhkan.

"Sekalipun biaya yang dikeluarkan sesuai anggaran — bahkan tak melebihi yang diestimasikan — perang, tentu saja, menyedot banyak uang," kata sang dubes. "Namun, kita harus memahami bahwa ada kondisi tertentu — sangat jarang sekali terjadi — ketika kita harus menggunakan kekuatan militer untuk menyelesaikan suatu masalah, seperti yang saat ini terjadi di Suriah. Ya, ini butuh uang, bahkan sangat banyak, tapi kebutuhan ini sangat tak terhindarkan."

Didukung Masyarakat

Galuzin pun meyakini, terlepas dari krisis yang tengah dihadapi Rusia, sebagain besar masyarakat Rusia mendukung keputusan presiden Rusia untuk mengirimkan pesawat militer ke Suriah.

"Jika kami harus mengalokasikan uang yang kami terima dari para wajib pajak kami untuk melawan teroris, saya yakin mereka sepakat dan mereka mendukung Presiden Putin meskipun saat ini sedang ada kesulitan ekonomi," kata sang dubes.

"Ini karena mayoritas penduduk kami mengerti bahwa operasi militer itu membutuhkan banyak biaya. Saya bisa mengatakan bahwa ini merupakan perkara menyelamatkan peradaban dunia," ujar Galuzin.

Dubes Rusia mengungkapkan, selain mengancam ketertiban dunia, ISIS merupakan ancaman bagi peradaban dunia karena telah menghancurkan berbagai macam situs warisan dunia di Suriah. "Ini sangat penting dan mereka merupakan ancaman besar. Jadi, kami siap untuk mengeluarkan banyak uang demi melawan ISIS," kata sang dubes menegaskan.

Rusia melancarkan operasi militer terhadap kelompok teroris ISIS dan Jabhat al-Nusra di wilayah Suriah pada 30 September 2015 atas permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Awalnya, kelompok udara Rusia terdiri dari sekitar 50 pesawat tempur dan helikopter, termasuk di antaranya adalah pesawat tempur Su-34 dan Su24M, pesawat penyerang Su-25, jet tempur Su-30SM, serta helikopter Mi-8 dan Mi-24. Kemudian, 12 pesawat pengebom dan jet tempur lainnya dikerahkan dan turut bergabung dengan kelompok tersebut. Kini, pasukan udara Rusia di Suriah memiliki 69 unit pesawat tempur.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.