Jenderal AS: Rusia Bantu Suriah Dapatkan Kembali Sebagian Wilayahnya

Serangan udara militer Rusia di Suriah membantu pasukan negara tersebut untuk mendapatkan kembali kontrol atas beberapa wilayahnya.

Serangan udara Pasukan Kedirgantaraan Rusia di Suriah telah membantu pasukan pemerintah negara tersebut untuk mendapatkan kembali kontrol atas beberapa wilayahnya. Demikian hal tersebut diungkapkan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph F. Dunford Jr.

Karena serangan udara yang dilancarkan Rusia, Presiden Suriah Bashar al-Assad "kembali mendapatkan kembali sejumlah kecil wilayahnya," tulis surat kabar online The New York Times, pada Rabu (20/1) mengutip ucapan sang jenderal kepada para wartawan.

Dunford percaya bahwa tentara Suriah mampu mengonsolidasikan dan memperkuat posisi mereka di daerah-daerah yang sebelumnya menjadi tempat serangan bagi pasukan oposisi.

Sebelumnya, pemerintah Suriah berada "dalam posisi yang sulit, tapi kondisi rezim kini lebih baik," kata sang jenderal AS.

Pasukan aviasi Rusia menjatuhkan serangan udara terhadap organisasi teroris ISIS di Suriah sejak tanggal 30 September 2015 atas permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sejak 17 November 2015, pengelompokan penerbangan Rusia di Suriah beralih untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap militan, termasuk dengan melibatkan pesawat pengebom strategis. Sebagaimana yang dilaporkan Kementerian Pertahanan Rusia, pasukan udara Rusia difokuskan untuk menghancurkan penambangan minyak, gudang penyimpanan, transportasi, dan fasilitas penyulingan yang dikendalikan teroris.

Sejak 2014, koalisi pimpinan AS juga telah melancarkan serangan udara terhadap gerilyawan di Suriah dan Irak

Moskow dan Washington sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman terkait penerbangan yang aman di langit Suriah demi mencegah insiden udara antara pesawat tempur dari kelompok udara Rusia dan kelompok koalisi yang dipimpin AS.

Sementara, Kemenhan Rusia telah berulang kali mendesak mitra-mitra asingnya untuk bertukar informasi terkait target di Suriah. Namun, Pentagon juga berulang kali mengatakan bahwa mereka tak akan memberikan data pengintaian ke Rusia selama Moskow mendukung Assad.

Pada akhir November lalu, Rusia dan Prancis telah setuju untuk mengoordinasikan aktivitas mereka dalam melawan teroris.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.