Rubel Melemah, Masyarakat Rusia Pilih Tak Berlibur ke Luar Negeri

Jumlah masyarakat Rusia yang bepergian ke luar negeri pada libur musim dingin menurun.

Jumlah masyarakat Rusia yang bepergian ke luar negeri pada libur musim dingin menurun, demikian hal tersebut dilaporkan media Rusia RT. Alasan mengapa banyak masyarakat Rusia pergi ke Sankt Peterburg, wilayah Moskow, dan Sochi sederhana — mata uang rubel yang lemah dan pemesanan yang murah untuk tiket domestik.

“Satu setengah bulan yang lalu, harga tiket meningkat sangat tinggi, bahkan untuk wilayah yang dianggap mudah dicapai, telah menjadi semakin mahal. Ini pun berlaku pada Eropa Tengah dan Timur, begitu pula dengan kawasan yang terpencil,” kata Natalya Rosenbylum, mitra Hospitality Income Consulting kepada gazeta.ru.

Menurut Cushman & Wakefield, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti, turis Rusia biasa menjadi lima besar penggunaan uang untuk perjalanan luar negeri.

RT mencatat, negara-negara pada zona Euro atau mereka yang menerima dolar akan terkena dampak negatif dari hilangnya turis Rusia. Menurut Cushman & Wakefield, mungkin banyak dari destinasi wisata yang dapat mengganti turis Rusia yang hilang dengan turis dari negara lain. Namun demikian, keuntungan tidak akan sama besar. Negara-negara dengan kehilangan terbesar diperkirakan seperti Italia, Prancis, Austria, dan Republik Ceko.

Masyarakat Rusia sedang mencari tujuan alternatif, dan banyak pelancong memilih bekas negara Soviet yang tidak tepengaruh oleh fluktuasi mata uang.

“Georgia dan Armenia telah menjadi tren pada 2015. Negara-negara ini menawarkan beragam kegiatan. Di Georgia, memungkinkan untuk dapat liburan musim panas di pinggir laut, pergi ke resor olahraga musim dingin, wisata kuliner, atau sekadar berjalan-jalan,” kata Rosenblyum, sebagaimana yang dikutip RT.

Alasan lain bagi sebagian masyarakat Rusia menghidari Eropa adalah karena krisis pengungsi. “Banyak resor yang diisi oleh tenda-tenda pengungsi, seperti pesisir Ital dan Yunani, dan setiap turis merespon untuk keamanannya sendiri,” kata Profesor Galina Dekhtyar dari Akademi Kepresidenan Rusia untuk Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik (RANHiGS).

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.