Militer Rusia Merasa Tak Perlu Gunakan Misil Balistik untuk Lawan ISIS

Pada pertengahan November, Rusia melibatkan pesawat pengebom strategis untuk menyerang militan di Suriah.

Rusia tak perlu menggunakan misil balistik antarbenua non-nuklir untuk melawan kelompok teroris ISIS, demikian disampaikan Komandan Pasukan Misil Strategis Rusia Kolonel Jenderal Sergey Karakayev.

"Saya melihat tak ada gunanya menggunakan misil balistik antarbenua untuk menghancurkan target ISIS. Ada banyak langkah lain yang lebih sesuai. Perencanaan rasional berbasis pada fakta bahwa tiap fasilitas dapat dihancurkan dengan metode tertentu yang paling efektif," kata sang jenderal dalam konferensi pers di Hari Pasukan Misil Strategis, saat ditanya apakah mereka berencana menggunakan misil balistik non-nuklir untuk melawan ISIS.

Karakayev mengingatkan bahwa penggunaan misil balistik yang dilengkapi dengan hulu ledak harus disetujui oleh Komandan Tertinggi, Presiden Rusia Vladimir Putin. "Jika keputusan politik yang relevan diambil, Pasukan Misil Strategis siap menjalankan misi yang ditugaskan," katanya.

Angkatan Udara Rusia mulai menyerang fasilitas ISIS dan Jabhat al-Nusra di Suriah sejak 30 September lalu, atas permintaan langsung Presiden Suriah Bashar Assad.

Kelompok udara tersebut terdiri dari lebih dari 50 pesawat dan helikopter, termasuk Sukhoi Su-24M, Su-25SM, dan Su-34. Mereka ditempatkan di Markas Hmeimim, provinsi Latakia.

Pada 7 Oktober lalu, empat kapal misil AL Rusia menembakkan 26 rudal jelajah Kalibr (julukan NATO: Sizzler) pada fasilitas militan di Suriah. Esoknya, tentara Suriah menggelar serangan skala besar.

Pada pertengahan November, Rusia meningkatkan jumlah pesawat yang dikerahkan dalam operasi militer di Suriah menjadi 69 pesawat, termasuk pesawat pengebom strategis.

Target pesawat Rusia antara lain termasuk tanker dan kilang minyak.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

Baca lebih banyak mengenai Terorisme >>>

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More