Rusia dan Indonesia Luncurkan Sejumlah Proyek Besar Kerja Sama Bilateral

Menurut Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia, Indonesia merupakan salah satu mitra utama Rusia.

Dalam pertemuan menteri luar negeri dan menteri perdagangan APEC, Menteri Pembangunan Ekonomi Aleksey Ulyukayev mengadakan pembicaraan dengan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Thomas Lembong.

Ulyukayev mengatakan bahwa di dalam ekonomi APEC, Indonesia merupakan salah satu mitra utama Rusia. “Kami bermaksud untuk memperkuat hubungan perdagangan dan ekonomi dengan Indonesia, termasuk melalui pemeliharaan dialog Rusia-Indonesia di arena internasional,” ujar Ulyukayev.

Namun, dengan latar belakang ketegangan geopolitik secara keseluruhan, penurunan nilai mata uang dan kegiatan ekonomi Rusia, serta situasi yang tidak menguntungkan dari pasar energi, faktor-faktor tersebut mempengaruhi penurunan perdagangan Rusia-Indonesia. Dalam sembilan bulan pertama di tahun 2015, omzet perdagangan bilateral menurun sebesar 24,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2014.

“Untuk memperbaiki situasi ini, kita dihadapkan dengan masalah bagaimana menyukseskan pelaksanaan proyek Rusia-Indonesia yang telah ada dan mencari titik pertumbuhan baru,” ujar Ulyukayev.

Pada pertemuan tersebut Ulyukayev juga menuturkan adanya sejumlah proyek besar kerja sama bilateral. Di antara proyek berskala besar tersebut adalah proyek pembangunan jalur kereta api dan infrastruktur terkait untuk pengangkutan batubara di Kalimantan yang dimulai pada 20 November 2015 mendatang.

“Kami memiliki kemajuan yang sangat baik dalam proyek-proyek besar. Proyek pembangunan jalur kereta api di Kalimantan yang awalnya diasumsikan dalam bentuk mono akan diformat ulang ke dalam bentuk jalur kereta api universal,” katanya menjelaskan. Proyek ini, menurut sang menteri, akan menciptakan jalur kereta api dari kabupaten Kutai Barat sampai pelabuhan laut Balikpapan dengan panjang 217 kilometer untuk mengangkut lebih dari 20 juta ton batubara dan kargo lainnya setiap tahunnya. Pendanaan akan diselenggarakan dalam dua tahap. Pertama, direncanakan peningkatan hingga 200 juta dolar AS ekuitas modal oleh investor Rusia, dan kedua, setelah penyelesaian pengerjaan proyek, sekitar 700 juta dolar AS dialokasikan untuk utang pembiayaan proyek. Penyelesaian proyek ini diperkirakan pada tahun 2020.

Ulyukayev juga menaruh perhatian pada interaksi antara kedua negara di bidang energi nuklir. Pada bulan September, perusahaan negara Rosatom telah menandatangani nota kesepakatan untuk pembangunan PLTN berkapasitas tinggi dan PLTN terapung dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

“Indonesia memiliki minat yang besar pada sumber energi nuklir, seperti PLTN terapung ini, yang jika ditinjau dari segi perlindungan lingkungan dan kenyamanan logistik sangat menarik bagi negara kepulauan seperti Indonesia,” ujar Ulyukayev.

Selain itu, sang menteri mencatat perkembangan kerja sama antara Gazprombank dan Indonesia Eximbank yang bertujuan menangani isu-isu keuangan dan operasi perdagangan luar negeri dalam mata uang rubel Rusia dan rupiah Indonesia.

Kedua belah pihak juga membahas kedatangan misi bisnis perusahaan-perusahaan Rusia ke Indonesia.

“Jakarta akan dikunjungi sejumlah delegasi besar, termasuk perwakilan dari perusahaan-perusahaan Rusia terkemuka yang telah merencanakan proyek-proyek di Indonesia dan tertarik pada pelaksanaannya,” ujar Ulyukayev.

Ulyukayev pun turut mengundang Thomas Lembong dan sejumlah pengusaha-pengusaha Indonesia untuk ikut serta dalam Forum Ekonomi Internasional Sankt Peterburg yang akan diselenggarakan pada 16 hingga 18 Juni 2016.

Pertama kali dipublikasikan oleh Kementerian Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.