Republiken: Pengaruh Rusia di Timur Tengah, Ancaman bagi Kepentingan AS

Pengaruh Rusia di Timur Tengah dianggap sebagai ancaman oleh para kandidat calon presiden Partai Republik.

Rusia sedang mencoba memperluas pengaruhnya di Timur Tengah, dan hal itu mengancam kepentingan AS. Demikian pendapat tersebut diungkapkan beberapa politisi Partai Republik yang di acara debat TV nasional, Selasa (11/11).

“Presiden Rusia Vladimir Putin berusaha untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Kawasan itu akan menjadi markas Rusia. Kita perlu secara efektif mengonfrontasi hal itu,” ujar mantan ahli bedah saraf Ben Carson, yang menurut jejak pendapat, berada di posisi kedua dalam popularitas calon presiden dari Parati Republik di kalangan pemilih setelah Donald Trump. “Harus dipahami bahwa ini adalah wilayah yang sangat sulit, wilayah yang terdiri dari Rusia, Tiongkok dan berbagai kekuatan lain.” Carson juga mendukung keputusan Washington untuk mengirim hingga 50 orang pasukan khusus AS ke utara Suriah.

“Tragisnya, Irak dan negara-negara lain di Timur Tengah kini sering gencar berdialog dengan Rusia. Padahal belum lama ini, Rusia sama sekali tidak memiliki pengaruh di wilayah tersebut. Jadi, Amerika harus memainkan perannya sebagai pemimpin di mana pun,” ujar mantan Gubernur Florida Jeb Bush. Ia secara khusus menganjurkan pembentukan zona larangan terbang di atas wilayah Suriah.

Sementara, mantan pemimpin perusahaan Hewlett-Packard Carly Fiorina juga menyampaikan perlunya menekan Moskow. “Jika mungkin, saya akan mengirim beberapa ribu pasukan ke Jerman. Bukan untuk memulai perang, melainkan untuk menjelaskan bahwa AS akan mendukung sekutu,” ujarnya. “Dan oleh karena itu, kami memerlukan zona larangan terbang di Suriah. Rusia tidak dapat mengetahui di mana dan kapan pesawat AS terbang.”

Republiken juga menyerukan pentingnya meningkatan kerja sama antara sekutu AS dengan Timur Tengah dalam perang melawan organisasi teroris ISIS.

Pertamakali dipublikasikan oleh TASS.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.