Dubes Rusia: Barat Kerap Menuduh Rusia, tapi Tak Bisa Hadirkan Bukti

Fauzan Al-Rasyid
Rusia tidak pernah menutupi informasi terkait perkembangan situasi di Suriah. Hal tersebut disampaikan oleh Duta Besar Fedarasi Rusia untuk Republik Indonesia Mikhail Y. Galuzin saat ditemui dalam sesi jumpa pers di kediamannya yang terletak di Kuningan, Jakarta, Kamis (5/11).

Dalam konferensi pers tersebut, Galuzin menyatakan bahwa setiap harinya di Moskow, Kemenhan Rusia menggelar jumpa pers kepada para jurnalis Rusia dan asing. “Bahkan salah satu jumpa pers pernah dilakukan di pangkalan udara militer di dekat kota Latakia, Suriah. Kami mengundang para jurnalis internasional ke sana untuk melihat langsung bagaimana pesawat-pesawat kami disiapkan, bagaimana militer Rusia bekerja di sana, dan bagaimana mereka berlatih di sana. Ini merupakan suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Galuzin menjelaskan.

“Saya pikir, kami telah mendemonstrasikan suatu tingkat keterbukaan dan transparansi yang tak pernah ada sebelumnya — terkait operasi militer antiteroris Rusia di Suriah,” katanya melanjutkan.

Galuzin menegaskan bahwa keterbukaan tersebut merupakan satu poin yang sangat penting karena Rusia selalu dituduh dan dikiritik (oleh Barat) tidak pernah transparan. “Dengan fakta ini, apakah kami terlihat menutupi atas apa yang kami lakukan di Suriah saat ini? Kami menyediakan informasi setiap harinya mengenai perkembangan di sana kepada para jurnalis mengenai apa yang kami lakukan, target yang kami serang — yang merupakan fasilitas teroris, kamp teroris, bahkan pabrik-pabrik senjata dan bom milik teroris, serta segala hal ditujukan untuk kegiatan teroris mereka.”

Namun demikian, Galuzin menyayangkan berbagai tuduhan dari Barat yang diperkuat dengan publikasi di berbagai media, khususnya terkait tuduhan serang militer Rusia ke warga sipil di Suriah. Menurut sang dubes, Pemerintah Rusia telah meminta bukti atas tuduhan tersebut, tapi permintaan tersebut justru ditolak dan tetap disebarkan di media.

“Sebagai contoh, ada wawancara antara satu media Barat dengan Kemenlu Rusia. Media ini mengabarkan bahwa ada serangan terhadap warga objek sipil, yaitu rumah sakit, yang dilakukan oleh AU Rusia. Ternyata setelah dikonfirmasi, tidak ada serangan udara apa pun dari AU Rusia di sana yang menyerang rumah sakit. Namun, media ini tetap tidak memberikan koreksi apa pun terhadap kesalahan informasi ini,” kata Galuzin.

“Ada juga pemberitaan dari media Barat lainnya yang menginformasikan bahwa ada beberapa misil Rusia yang diluncurkan dari Laut Kaspia untuk menghancurkan fasilitas teroris di Suriah jatuh di wilayah Iran. Padahal, itu tidak benar. Tidak ada satu pun misil yang jatuh di wilayah Iran. Semua misil jatuh di target teroris di Suriah dengan keakuratan 3 – 5 meter. Namun, tetap saja tidak ada dari media Barat yang secara jujur dan terbuka mengatakan bahwa informasi ini salah.”

Rusia Harapkan Pertukaran Informasi

Dalam kegiatan jumpa pers hari ini, sang dubes juga menekankan bahwa di Moskow, tepatnya di Kemenhan, Pemerintah Rusia justru mendorong bagi siap saja yang memiliki informasi bahwa AU Rusia menyerang warga sipil Suriah agar segera melaporkan ke pemerintah.

“Kami mengharapkan adanya informasi, seperti kapan dan di mana hal itu terjadi, sehingga kami bisa mengambil tindakan dan mengivestigasinya apakah hal itu benar atau tidak. Jika hal itu benar, tentunya kami akan mengambil langkah serius. Namun, hingga kini kami tidak mendapatkan informasi apa pun bahwa AU kami menyerang target lain selain teroris,” kata Galuzin menjelaskan. “Kami sangat terbuka terhadap berbagai bentuk pertukaran informasi dengan media-media internasional mengenai apa yang terjadi.”

Amerikalah Pihak yang Harus “Bersih-bersih”

Menyinggung soal Amerika Serikat, sang dubes mengatakan bahwa Rusia berbeda dari AS. Tidak seperti Rusia, Amerika justru tidak pernah memublikasikan informasi apa pun tentang segala tindakan mereka di dunia. “Jadi, siapa yang terbuka dan siapa yang tertutup? Siapa yang seharusnya menjelaskan kebijakan luar negerinya ke masyarakat internasional? Tentunya bukan Rusia. Itu adalah kewajiban AS dan sekutunya,” kata Galuzin.

“Apa yang harus Rusia lakukan untuk ‘membersihkan’ segala tindakannya di hadapan komunitas internasional? Tidak ada yang harus ‘dibersihkan’ Rusia. Amerikalah yang harus ‘bersih-bersih’ di hadapan komunitas internasional atas apa yang mereka lakukan di Irak, Libya, Yugoslavia, dan Ukraina. Bukan kami, itu sama sekali bukan tugas kami karena kami (Rusia) bersih. Kami mendemonstrasikan keterbukaan dan transparansi sebagaimana yang kami lakukan di Suriah, soal tragedi MH-17, juga soal Krimea, dan Ukraina. Presiden kami selalu terbuka dan menjelaskan semuanya,” jelas sang dubes.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More