Vladimir Putin: Kami Tak Ingin Terlibat dalam Konflik Antaragama di Suriah

Vladimir Putin menjelaskan kebijakan luar negeri Rusia dalam di saluran televisi Rusia.

Saluran televisi Rusia menayangkan sebuah wawancara eksklusif dengan Presiden Rusia Vladimir Putih dalam program “Minggu Malam” pada Minggu (11/10). Dalam tayangan tersebut, sang pemimpin Rusia menjawab berbagai pertanyaan terkait operasi militer di Suriah, perang melawan terorisme, perlombaan senjata, dan ambisi kebijakan luar negeri Rusia.

Mengenai Teroris

“Rusia ingin bergabung dalam memerangi kejahatan. Apa yang terjadi di Turki adalah serangan teroris yang nakal. <...> Hal ini hanyalah provokasi selama kampanye pemilu.”

Bom Ankara

Sepasang bom yang dipasang di dua tersangka penyerang bunuh diri meledak dalam kerumunan massa aktivis sayap kiri dan pro-Kurdi. Kejadian ini terjadi saat mereka menggelar aksi damai pada Sabtu (10/10) di ibu kota Turki, Ankara.

“Rekan kami di Eropa dan Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka memerangi terorisme, tapi kita semua tidak melihat hasil yang nyata. Selain itu, Amerika telah menutup program untuk persiapan yang mereka sebut sebagai Tentara Pembebasan Suriah. Pada awalnya, mereka merencanakan akan mempersiapkan 12 ribu orang. Kemudian, mereka meralat dengan mengabarkan tengah mempersiapkan enam ribu tentara. Kemudian, mereka mempersiapkan enam puluh orang, tapi pada kenyataannya, hanya empat hingga lima orang tentara yang bertempur melawan ISIS. Hal tersebut telah menghabiskan 500 juta dolar AS. Akan lebih pintar jika AS memberikan uang tersebut pada kami. Kami bisa memakai uang itu lebih pintar untuk memerangi terorisme internasional.”

Mengenai Suriah

“Kami telah memperingatkan semua mitra kami, terutama negara-negara di kawasan, terkait niat dan rencana kami. Ada pihak yang mengatakan bahwa kami terlambat memberi tahu, tapi saya ingin Anda tahu bahwa faktanya tidak ada yang pernah memperingatkan kami sebelumnya mengenai perencanaan dan operasi semacam ini. Namun, kini kami telah melakukannya.”

“<...> Menanggapi tuduhan terhadap Rusia bahwa Rusia memberikan serangan ke oposisi moderat dan bukannya ISIS maupun organisasi teroris lainnya, kami akan katakan: misalnya, Anda lebih mengetahui situasi di wilayah itu, Anda hadir di sana lebih dari satu tahun secara ilegal, berikan kami target dan kami akan memenuhi itu. Menolak? Menolak.”

“Kami pernah mempersiapkan operasi militer itu. Kami mengumpulkan pasukan, sarana, dan amunisi yang memadai di tempat yang diperlukan dan pada waktu yang tepat. Kami menghabiskan waktu yang lama untuk mengumpulkan informasi dari udara dan ruang angkasa. <...> Sebagai hasil dari pertukaran data, kami menerima informasi tambahan. Jadi, segala sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi, itu bukan aksi spontan dan merupakan tindakan yang telah direncanakan sebelumnya.”

“Kami sama sekali tidak membeda-bedakan antara Syiah dan Sunni. Sepuluh persen populasi penduduk Rusia memeluk agama Islam. Mereka adalah warga negara Rusia, seperti pemeluk agama Kristen dan Yahudi lainnya. Kami tidak ingin telibat dalam konflik antaragama di Suriah.”

Mengenai Senjata dan Tindakan Rusia

“Ini bukanlah perlombaan senjata. <...> Program Persenjataan Negara diciptakan beberapa tahun yang lalu di lingkungan internasional yang tenang. Program ini dilaksanakan bukan karena kami mempersiapkan tindakan agresif, melainkan karena kami memiliki kompleks serangan dan sistem keamanan yang sudah tua. Sudah waktunya untuk mengganti senjata tersebut.”

“Kebijakan luar negeri Rusia adalah kebijakan yang cinta damai dan tak dilebih-lebihkan. Jika Anda melihat peta dunia dan melihat Rusia, di sana jelas bahwa Rusia tidak memerlukan wilayah asing atau sumber daya alam asing. Rusia adalah negara yang mandiri.”

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.