Moskow Pertimbangkan Operasi AU di Irak Jika Ada Permintaan dari Baghdad

Rusia tidak akan menyerang ISIS ke Irak karena belum ada permintaan resmi untuk hal itu.

Ketua Dewan Federasi Valentina Matviyenko mengatakan bahwa dalam kasus permintaan resmi dari Irak, Rusia akan mempertimbangkan tujuan keterlibatan politik dan militer pasukan kedigantaraan Rusia yang beroperasi di negara tersebut.

“Mengenai permintaan resmi dari Irak kepada Federasi Rusia, kami akan meninjau kepentingan politik dan partisipasi Angkatan Udara kami dalam operasi udara di Irak. Sementara, permintaan seperti itu belum ada,” kata Ketua Dewan Federasi Rusia seusai pertemuannya dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Yordania Nasser Judeh.

“Kami tidak mengirimkan serangan ke Irak karena hingga saat ini belum ada permintaan akan hal itu. Kami adalah orang-orang yang sopan, jika tidak diundang maka kami tidak akan masuk,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov

Pada Rabu (30/9), Dewan Federasi Rusia telah memberikan persetujuan kepada Presiden Federasi Rusia untuk menggunakan Angkatan Udara Rusia di Suriah. Seperti yang ditekankan oleh Kepala Administrasi Presiden Sergei Ivanov, Rusia hanya akan menggunakan pesawat di Suriah untuk melawan kelompok teroris ISIS atas permintaan Presiden Bashar al-Assad. Angkatan Udara Rusia mulai menerapkan titik serangan terhadap kelompok teroris ISIS sejak tanggal 30 September. Kelompok penerbangan ini terdiri lebih dari 50 pesawat tempur dan helikopter, termasuk Su-24M, Su-25, dan Su-34 terbaru yang multifungsi. Selama beberapa hari terakhir, pesawat Rusia telah menyerang puluhan wilayah yang menjadi sarang teroris.

Operasi di Suriah tidak Pengaruhi Tingkat Ancaman Teroris untuk Federasi Rusia

“Partisipasi Rusia dalam operasi udara terhadap militan ISIS di Suriah tidak mempengaruhi tingkat ancaman terorisme terhadap Rusia yang datang dari kelompok teroris ini,” tekan Matvienko.

“Bepartisipasi atau tidaknya Rusia dalam operasi internasional tidak meningkatkan atau pun mengurangi ancaman teroris yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok radikal bersenjata ilegal,” ujar sang ketua Dewan Federasi menanggapi pertanyaan wartawan tentang kemungkinan meningkatnya bahaya serangan teroris di Rusia dengan mempertimbangkan partisipasi Rusia pada operasi antiteroris di Suriah.

Menurut Matvienko, lembaga keamanan dan penegak hukum Federasi Rusia harus mengambil semua langkah untuk menjamin keamanan nasional dan warga negaranya. Sang senator menekankan bahwa Rusia betul-betul paham dengan masalah terorisme internasional.

“Lembaga penegak hukum kami memiliki pengalaman yang sangat luas dalam mengatasi terorisme internasional, dan dalam beberapa tahun terakhir, setiap tahunnya kami berhasil mengurangi jumlah tindak teroris,” ujar sang senator. Matvienko pun memuji upaya pencegahan ancaman teroris dalam struktur bisnis dan lembaga keamanan yang dinilai sangat efektif.

Pertama kali dipublikasikan di TASS.
 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.