Pejabat Militer AS: Melawan Ancaman Misil Strategis Rusia Terlalu Sulit dan Mahal untuk AS

Melawan ancaman misil balistik antarbenua Rusia terlalu berat dan mahal untuk AS.

Melawan ancaman misil balistik antarbenua Rusia merupakan langkah yang terlalu berat dan mahal untuk AS, demikian disampaikan Wakil Kepala Staf Gabungan AS Laksamana James Winnefeld, Selasa (19/5), demikian diberitakan Sputnik.

Menurut Winnefeld, ancaman utama yang dihadapi AS saat ini adalah serangan nuklir masif dari Rusia, atau musuh potensial lain seperti Tiongkok.

“Kami sudah bilang bahwa upaya untuk menghadapi ancaman-ancaman terbaru tersebut terlalu sulit dan mahal, dan akan mengganggu stabilitas bahkan untuk sekadar dicoba,” kata Winnefeld terkait ancaman serangan nuklir dari Rusia atau Tiongkok dalam pidato di Center for Strategic International Studies, seperti dikutip Sputnik.

Winnefeld menambahkan, akhir tahun ini AS akan mendirikan sistem Aegis Ashore Ballistic Missile Defense (BMD) di Romania, melengkapi Fase 2 European Phased Adaptive Approach.

Moskow telah berulang kali menentang langkah proliferasi AS terkait sistem pertahanan misil mereka di dekat perbatasan Rusia dan menganggap hal tersebut sebagai ancaman sistem nuklir strategis Rusia.

Sistem BMD sebelumnya hanya terbatas di bawah Trakat Anti-Ballistic Missile (ABM) antara AS dan Rusia untuk menghindari ketidakseimbangan strategis. AS mundur dari trakat tersebut sejak 2001.

Beberapa pihak menuduh sistem pertahanan misil AS dan Eropa ditujukan untuk menghadapi ancaman misil jarak jauh dari Korea Utara dan Iran.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.