Forum Ekonomi Dunia untuk Asia Timur, Indonesia Punya Banyak Potensi Pasar

Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia Sofyan A. Djalil (kiri) dan Wakil Perdana Menteri Rusia Arkady Dvorkovich. Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia

Pada hari pertama Forum Ekonomi Dunia untuk Asia Timur ke-20, para pejabat pemerintah dan pengusaha satu suara menginginkan reformasi struktural di Asia Tenggara untuk meningkatkan rasa percaya diri terhadap pasar keuangan regional dan mengantisipasi peningkatan suku bunga di Amerika Serikat.

Negara-negara Asia yang kini tengah berada di bawah pemerintahan pemimpin baru seperti India dan Indonesia tengah merancang reformasi yang diperlukan untuk memperkuat dan menyuntikan kepercayaan diri terhadap pasar mereka. “Rusia sangat tertarik melihat perkembangan pasar Asia,” kata Wakil Perdana Menteri Rusia Arkady Dvorkovich. Ia menambahkan bahwa perdangan Rusia dengan Asia diperkirakan dapat meningkat dua kali lipat dalam lima hingga tujuh tahun ke depan.

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia Sofyan A. Djalil, Indonesia dengan jumlah penduduk sebesar 250 juta orang dan 60 persen di antaranya berada di usia kurang dari 30 tahun, telah cukup matang untuk menjadi target investasi. “Banyak potensi di pasar kami,” ujar Sofyan sambil menyebutkan bahwa lebih dari 30 smelter tengah dibangun, sektor jasa berkembang dengan pesat, dan sektor produksi juga kembali bangkit. Ia menyebutkan, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah minimnya infrastruktur.

Sementara John Riady, Direktur Eksekutif Lippo Group yang menjadi Wakil Kepala Forum Ekonomi Dunia untuk Asia Timur menyebutkan, institusi harus berkaca dari kenyataan yang ada untuk bisa meningkatkan kepercayaan terhadap pasar regional.

“Jika kita mulai mengubah institusi kita untuk merefleksikan realita di Asia yang lebih baik, investor akan lebih percaya pada Asia,” kata John.

Ia mengingatkan, perekonomian Asia telah berubah drastis dibanding tahun 1996. Kini Asia berada di posisi yang lebih baik berhadapan dengan suku bunga AS. “Kami memiliki lebih dari 4,5 kali lipat cadangan dana dibanding yang kami miliki pada 1996,” kata John. “Asia berada di posisi yang jauh lebih baik untuk menangani dampak kebijakan moneter di AS.”

Forum Ekonomi Dunia Asia Timur diselenggarakan di Jakarta untuk kedua kalinya sejak 2011. Selain membicarakan Asia Timur, pertemuan ini juga memfasilitasi konferensi untuk Eropa Tengah dan Timur, Timur Tengah, serta Afrika Utara. Konferensi ini akan diteruskan di Davos, resort ski Alpine yang terkenal di dunia, serta mempertemukan semua orang-orang paling berpengaruh di dunia: kepala negara dan pemerintahan, para pebisnis dunia, ilmuwan dan ekonom terkemuka, serta pakar politik selama beberapa hari.

Delegasi Forum Ekonomi Dunia juga akan mendiskusikan perubahan yang terjadi sehubungan didirikannya Komunitas Ekonomi ASEAN yang bertujuan membentuk pasar barang dan tenaga kerja bersama di sepuluh negara kunci. Komunitas Ekonomi ini diperkirakan mulai beroperasi pada akhir tahun ini. 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.