Rusia Sangkal Tuduhan Kirim Senjata untuk Pemberontak di Yaman

“Laporan tersebut sungguh absurd, tak bertanggung jawab, dan sangat provokatif,” kata perwakilan Kementerian Luar Negeri Rusia Alexander Lukashevich.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyangkal tuduhan Menteri Luar Negeri Yaman Riyadh Yasin yang menyatakan bahwa pesawat Rusia yang mengevakuasi warga Rusia dari Yaman diduga mengirimkan senjata untuk para pemberontak Houthi dan menerbangkan mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

“Laporan tersebut tak benar, sungguh absurd, tak bertanggung jawab, dan sangat provokatif. Pemberitaan semacam ini tak butuh dikomentari,” demikian pernyataan perwakilan Kementerian Luar Negeri Rusia Alexander Lukashevich yang dipublikasikan di situs resmi kementerian, seperti dikutip Interfax.

Lukashevich menjelaskan, dalam kondisi sulit seperti ini Rusia memutuskan mengevakuasi warganya dan warga negara-negara lain, termasuk dari negara-negara yang tergabung dalam koalisi anti-Houthi di Yaman. "Tak seperti yang lain, kami tidak mau mencampuri konflik internal di Yaman,” tegas diplomat Rusia tersebut.

“Kami menyarankan Menteri Luar Negeri Yaman—yang kami yakini saat ini sedang berada di luar negeri—untuk berhenti berkhayal dan lebih memperhatikan penderitaan warga sipil Republik Yaman. Korban tewas akibat konflik ini sudah mencapai ratusan,” kata Lukashevich pada Interfax.

Ia juga kembali menegaskan perlunya implementasi inisiatif Rusia untuk mendeklarasikan gencatan senjata demi kemanusiaan di Yaman, yang saat ini menjadi bahan perdebatan di Dewan Keamanan PBB.

Situasi menegangkan muncul di Yaman sejak awal minggu lalu. Pemberontak Shiite mengambil alih kontrol sebagian besar wilayah negara tersebut. Sementara, Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi melarikan diri ke luar negeri.

Negara anggota koalisi Teluk Persia yang dipimpin oleh Arab Saudi telah meluncurkan operasi militer ke Yaman. Mereka mengirim serangan udara ke titik-titik pertahanan para pemberontak di negara tersebut. Koalisi Teluk Persia kini tengah mempertimbangkan untuk melakukan operasi militer darat untuk menyerang para pemberontak Houthi.

Baca selengkapnya mengenai konflik di Timur Tengah. >>>

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.