Merkel: Sanksi Anti-Rusia Juga Rugikan Uni Eropa

Uni Eropa seharusnya menyusun kebijakan ekonomi untuk bekerja sama dengan Rusia, bukan malah menentang Rusia, demikian disampaikan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Sanksi ekonomi yang dilayangkan Uni Eropa untuk Rusia juga merugikan semua negara pemberi sanksi, demikian disampaikan Kanselir Jerman Angela Merkel di Helsinki, Senin (30/3). "Rusia tak bisa kami dekati menggunakan pendekatan umum," kata Merkel. "Jadi kami memutuskan untuk bertindak secara terkoordinasi dan melayangkan sanksi ekonomi bersama, meski itu juga berdampak pada kami sendiri."

Padahal, lanjut Merkel, Uni Eropa perlu membangun kebijakan untuk bekerja sama dengan Rusia, bukan bertentangan dengan Rusia. "Ketika Perang Dingin berakhir dan Uni Soviet bubar, kami selalu menganggap Rusia sebagai mitra kami. Kami telah mencoba berinteraksi dalam lingkup ekonomi, kami juga saling bergantung dalam hal pasokan energi. Namun, itu berubah ketika kami melihat peristiwa yang terjadi di Georgia dan Ukraina timur," kata Merkel.

Pejabat dan beberapa pemilik perusahaan Rusia masuk dalam daftar target sanksi Barat gelombang pertama, berupa pelarangan penerbitan visa dan pembekuan aset, setelah Rusia mengambil alih Krimea pada pertengahan Maret 2014, pascakudeta di Ukraina sebulan sebelumnya. Meski Moskow terus menekankan bahwa referendum Krimea untuk memerdekakan diri dari Ukraina sesuai dengan peraturan hukum internasional dan Piagam PBB, sama seperti Kosovo yang melepaskan diri dari Serbia pada 2008, Barat dan Kiev menolak untuk mengakui keabsahan reunifikasi Krimea dengan Rusia.

Barat mengumumkan sanksi sektoral baru untum Rusia pada akhir Juli 2014, secara khusus karena Moskow dituduh terlibat dalam aksi protes di Ukraina tenggara. Sebagai langkah balasan, Rusia mengeluarkan sanksi pelarangan impor daging, babi, ikan, keju, buah, sayur, dan produk susu dari Australia, Kanada, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Norwegia selama satu tahun. Selanjutnya, Barat kembali mengirim sanksi berskala besar untuk Rusia pada September dan Desember 2014.

Rusia terus menyangkal tuduhan 'aneksasi' Krimea karena Krimea menggabungkan diri dengan Rusia secara sukarela setelah melalui tahap referendum, begitu pula tuduhan bahwa Moskow terlibat dalam kejahatan kemanusiaan di Ukraina.

Ingin tahu asal-usul konflik di Ukraina? Baca lebih lanjut. >>>

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.