Dukung Presiden Yaman Melarikan Diri, Menlu Rusia Sebut AS Terapkan Standar Ganda

Menteri Luar Negeri Rusia membandingkan krisis di Yaman dengan kudeta di Ukraina pada 2014 lalu.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menganggap Amerika Serikat menerapkan standar ganda dengan mendukung presiden Yaman yang melarikan diri, sementara menolak membantu mantan Presiden Ukraina Victor Yanukovich saat dikudeta pada 2014 lalu.

“Ini klise, tapi sungguh jelas bahwa AS telah menerapkan standar ganda,” kata Lavrov dalam konferensi pers pada akhir kunjungannya ke Guatemala.

“Namun, baik krisis Ukraina maupun krisis Yaman, keduanya sama-sama membutuhkan upaya rekonsiliasi nasional,” tambahnya.

Sang menteri Rusia menyebutkan, ia yakin krisis Ukraina dapat dihindari jika pada 22 Februari 2014 lalu negara-negara Eropa, yang menjadi saksi saat oposisi Ukraina mencapai kesepakatan dengan Yanukovich, menggunakan pengaruh mereka dan meminta pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh para oposisi segera diperbaiki.

“Di Yaman, AS melakukan hal yang sebaliknya,” kata Lavrov.

Presiden Yaman Abed Rabbo Mansour Hadi kabur ke luar negeri setelah pemberontak Houthi menguasai wilayah Yaman. Saat ini, Hadi sedang berada di Arab Saudi.

Yaman dilanda krisis politik berat sejak Agustus tahun lalu. Pada akhir Januari, kelompok bersenjata Ansar Allah (pemberontak Houthi) menuntut presiden dan pemerintah Yaman untuk mengundurkan diri.

Pada Kamis (26/3) malam, Arab Saudi meluncurkan operasi militer ke negara tetangganya tersebut dan melancarkan serangan udara pada titik-titik keberadaan pemberontak Houthi. Sementara, pasukan propemerintah telah berhasil menguasai kembali Bandara Aden.

Ingin tahu lebih banyak tentang hubungan Rusia dan AS? Baca lebih lanjut >>>

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.