NATO Tuduh Rusia Lakukan Latihan Militer Nuklir Besar-besaran

NATO menuduh Rusia melakukan latihan militer berskala besar, dan bahkan memasukan 'komponen nuklir' dalam latihan militer biasa mereka

Wakil Sekretaris Jendral NATO Alexander Vershbow menuduh Rusia melakukan latihan militer berskala besar, dan bahkan memasukan 'komponen nuklir' dalam latihan militer biasa mereka. Tuduhan tersebut disangkal oleh Kementerian Luar Negeri Rusia, Kamis (5/3).

"Kami menyimak pidato Wakil Sekretaris Jendral NATO Alexander Vershbow pada Senin (2/3) lalu di Doha, Qatar, terkait kontrol senjata, pelucutan senjata dan nonproliferasi, dan asumsi adanya penggunaan senjata pemusnah massal pada konflik Ukraina. Ia secara dogmatis menyatakan bahwa Rusia melakukan latihan militer berskala besar, bahkan melibatkan komponen nuklir dalam latihan senjata biasa. Kami juga mendengar Rusia dianggap melakukan penerbangan militer mendekati wilayah perbatasan negara-negara NATO. Semua tuduhan tersebut sungguh tak berdasar, dan kami sudah berulang kali membuktikan hal ini pada mitra asing kami."

Menurut pihak kementerian, upaya Vershbow untuk menakut-nakuti dunia dengan senjata nuklir Rusia terasa tak pantas mengingat NATO-lah yang justru sejak lama melibatkan negara-negara non-nuklir yang bergabung dalam blok tersebut untuk melakukan misi nuklir, seperti merencanakan dan melakukan latihan serangan nuklir, termasuk mengirimkan bom nuklir pada musuh.

"AS memiliki senjata nuklir yang disimpan di Eropa dan prajurit NATO dilatih untuk menggunakan senjata tersebut. Latihan terbaru mereka, Steadfast Noon, dilakukan pada musim gugur lalu di Italia," lanjut pernyataan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengingatkan bahwa negara nuklir dan non-nuklir yang bergabung dengan NATO telah menandatangani Trakat Nonproliferasi Senjata Nuklir, yang salah satu poinnya menyebutkan pelarangan terhadap negara nuklir untuk mentransfer senjata nuklir dan kontrol atas senjata tersebut pada negara non-nuklir, dan negara non-nuklir dilarang menerima senjata maupun kontrol atas senjata nuklir dari negara pemilik nuklir."Artinya, strategi nuklir NATO yang memungkinkan semua anggota sekutu menggunakan senjata bersama, membuat negara non-nuklir dapat meluncurkan bom nuklir milik AS, bertolak belakang dengan hal yang mereka tanda tangani dalam trakat tersebut."

Baca selanjutnya: Pertengahan 2015, AS dan Ukraina Akan Lakukan Latihan Militer Bersama

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.