Latihan Militer AS-Ukraina Dianggap Ancam Keamanan Nasional Rusia

Moskow menyatakan, latihan militer AS-Ukraina yang diselenggarakan di Lviv, Ukraina barat, akan mengancam keamanan nasional Rusia.

Rencana latihan militer AS-Ukraina di Lviv, Ukraina barat, mengancam keamanan nasional Rusia, demikian dinyatakan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Alexander Lukashevich, Kamis (5/3).

Sebuah tender yang dipublikasikan pada Rabu (4/3) di situs resmi pemerintah AS menyatakan bahwa tentara AS berencana melakukan latihan militer gabungan dengan personel militer Ukraina antara 5 Maret-31 Oktober di International Peacekeeping and Security Centre (IPSC) di Yavorov, Lviv, Ukraina bagian barat.

Sebanyak 300 tentara AS dari Brigade Angkatan Udara 173 yang berbasis di Italia akan dikirim ke Yavarov. Para prajurit tersebut, menurut keterangan Lukashevich, akan melatih pasukan Ukraina mengenai 'bagaimana menggunakan peralatan militer dari luar negeri'.

"Jadi dapat dikatakan saat ini militer AS sudah berada di Ukraina. Ini adalah bukti bahwa mereka tak mau menyelesaikan konflik Ukraina secara damai," kata Lukashevich.

Sang diplomat menegaskan bahwa pemerintah Kiev dan seluruh warga Ukraina harus memikirkan konsekuensi dari langkah ini.

"Kita tak bisa memadamkan api perang sipil menggunakan senjata. Konflik ini hanya bisa diselesaikan melalui dialog politis antara pihak-pihak yang terlibat," tambahnya.

Lukashevich juga mengingatkan Washington bahwa hubungan Rusia-AS akan mengalami kerusakan parah jika 'warga Donbass dibunuh menggunakan senjata AS'.

Pada Agustus 2014, juru bicara Pentagon John Kirby menyatakan bahwa AS akan mengalokasikan 19 juta dolar AS untuk keperluan pelatihan militer dan pasokan peralatan bagi pasukan Pertahanan Nasional Ukraina, termasuk anggota kelompok ekstremis Sektor Kanan.

Tahun lalu, Kongres AS mengeluarkan Ukraine Freedom Support Act yang di antaranya berisi pemberian sanksi terhadap Rusia dan pasokan senjata untuk Kiev. Pada pertengahan Desember, Presiden AS Barack Obama menandatangani dokumen ini, namun menyebutkan bahwa pemerintah AS belum akan mengambil tindakan atas kebijakan baru tersebut.

Kapal NATO di Laut Hitam, Sinyal Mengkhawatirkan Bagi Rusia

Lukashevich juga menyinggung isu kehadiran kapal perang NATO di Laut Hitam. Sang jubir menyatakan bahwa itu merupakan sinyal mengkhawatirkan dan termasuk bentuk provokasi.

"Itu merupakan tindakan provokatif yang dapat mengganggu stabilitas dan proses perdamaian di Ukraina," tambah Lukashevich. "Kehadiran militer di wilayah konflik selalu menjadi manuver berbahaya yang dapat berujung pada konsekuensi yang sangat tidak menyenangkan," tegasnya.

Menurut Lukashevich, ini bukan pertama kalinya kapal asing memasuki Laut Hitam. "Kami berharap komandan militer AS paham bahwa kehadiran kapal militer AS di Laut Hitam tidak akan berdampak baik bagi konflik Ukraina. Itu jelas-jelas kontradiktif dengan pernyataan pemerintah AS mengenai perlunya penyelesaian politis yang eksklusif terkait konflik tersebut, yang dikonfirmasi berulang-ulang oleh perwakilan AS saat menghadiri pertemuan di Minsk pada Februari lalu," ujarnya. Ia menambahkan, komandan militer AS harus paham bahwa aksi provokasi semacam ini dapat mengakibatkan konsekuensi serius bagi penyelesaian konflik Ukraina.

Sebelumnya, layanan pers NATO menyampaikan bahwa kapal AS telah memasuki Laut Hitam untuk melakukan latihan militer gabungan dengan Bulgaria, Romania, dan Turki. Enam kapal akan bepartisipasi dalam latihan tersebut, termasuk kapal rudal kendali andalan AS USS Vicksburg, kapal Turki TCG Turgutreis, kapal fregat Italia ITS Aliseo, kapal Kanada HMCS Fredericton, kapal Romania ROS Regina Maria, serta kapal Jerman FGS Spessart.

Pasokan Senjata AS untuk Ukraina Ancam Keamanan Nasional Rusia

Lukashevich menegaskan bahwa rencana AS untuk memasok senjata bagi Kiev merupakan ancaman bagi keamanan nasional Rusia.

"Rencana AS untuk mengirim pasokan senjata besar-besaran pada Ukraina menjadi isu serius yang dikaji oleh Kementerian Luar Negeri Rusia," kata Lukashevich.

Rencana tersebut, lanjutnya, muncul di tengah pencapaian sukses pertemuan Minsk yang memerintahkan gencatan senjata di Donbass pada Februari lalu.

"Pasokan senjata ini bukan hanya merusak proses gencatan senjata dan menciptakan eskalasi ketegangan di Ukraina tenggara, tapi juga mengancam keamanan nasional Rusia," ujar Lukashevich. Ia mengingatkan, wilayah Rusia telah beberapa kali dibombardir dari sisi Ukraina.

Lukashevich menambahkan, Kongres AS bahkan mempertimbangkan untuk menganggarkan satu juta dolar AS untuk mempersenjatai dan melatih tentara Ukraina.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.