Sekretaris DK Rusia: Sanksi AS Bertujuan Ciptakan Protes Massa di Rusia

Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikola Patrushev berpendapat, AS berharap dapat memengaruhi kualitas hidup masyarakat Rusia dengan menjatuhkan sanksi pada Rusia.

Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikola Patrushev berpendapat, AS berharap dapat memengaruhi kualitas hidup masyarakat Rusia dengan menjatuhkan sanksi pada Rusia.

"Dengan memberi sanksi pada Rusia, Gedung Putih berharap terjadi penurunan drastis kualitas hidup di Rusia dan menciptakan protes massa," kata Patrushev. "Namun Rusia memiliki fondasi ekonomi dan politik yang kuat, serta terus didukung oleh solidaritas mitra asing, termasuk melalui beragam format multilateral," kata Nikolay.

Mengomentari hasil kunjungannya ke Mesir dan Uni Emirat Arab, Patrushev menyebutkan bahwa 'upaya untuk memengaruhi Rusia tidak pernah berhenti'. Ia menyebutkan, AS sendiri mengklaim upaya tersebut sebagai 'usaha untuk memperbaiki situasi demokrasi di Rusia'.

"Tiongkok dan beberapa negara lain menggunakan istilah 'revolusi warna' untuk hal ini. Metode yang digunakan Washington tidak berubah selama beberapa abad terakhir," lanjut Nikolay.

"Mereka telah menerapkan hal ini di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, serta beberapa negara lain," kata Patrushev.

Ia menyebutkan, suntikan dana untuk para oposisi terus berlanjut dengan dalih 'perlindungan hak asasi manusia dan kebutuhan untuk membentuk institusi masyarakat sipil'.

"Sanksi unilateral ini bisa dilihat sebagai contoh kampanye anti-Rusia yang dilakukan AS, dengan bersembunyi di balik konflik Ukraina," kata Patrushev.

Pemerintah dan beberapa perusahaan negara Rusia masuk dalam daftar target sanksi pertama, termasuk pelarangan visa dan pembekuan aset, setelah Rusia mengambil alih Krimea pada pertengahan Maret 2014, pascakudeta yang terjadi di Ukraina pada Februari 2014.

Meski Moskow terus mengulang pernyataan bahwa Referendum Krimea untuk memisahkan diri dari Ukraina telah memenuhi hukum internasional dan Piagam PBB, sama seperti pemisahan Kosovo dari Serbia pada 2008, Barat dan Ukraina menolak mengakui bergabungnya Krimea dengan Rusia.

Barat kemudian mengumumkan pembatasan sektoral terhadap Rusia pada akhir Juli lalu, karena Barat menganggap Moskow bersalah atas kekacauan di Ukraina tenggara.

Sebagai balasan, Rusia memberikan sanksi pada Australia, Kanada, Uni Eropa, AS, dan Norwegia dengan menolak mengimpor daging sapi, daging babi, ikan, keju, buah, sayur, dan produk olahan susu dari negara-negara tersebut.

Barat kembali mengirim sanksi untuk Rusia pada September dan Desember 2014. Rusia secara konsisten menyangkal tuduhan 'menganeksasi' Krimea, karena penyatuan kembali Krimea dengan Rusia dilakukan secara sukarela melalui referendum, begitu pula tuduhan bahwa Moskow terlibat dalam konflik di Ukraina.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.