Pergerakan Massa Udara Dingin dari Siberia Bawa Hujan Lebat ke Jakarta

Pergerakan massa udara dingin dalam skala besar dari Siberia telah menyebabkan hujan lebat yang mengakibatkan ibukota Indonesia, Jakarta, tergenang banjir.

“Massa udara dingin dari Siberia telah memasuki bagian barat pulau Jawa,” ungkap Tri Handoko Seto, seorang ahli bidang meteorologi iklim tropis kepada portal berita online Detik.com.

Akibat hujan lebat yang disebabkan oleh pergerakan masa udara dingin tersebut, hingga Rabu siang, media setempat melaporkan ada lebih dari 2.600 kepala keluarga yang rumahnya terendam banjir. Ketinggian air di beberapa kelurahan di kota metropolis yang dihuni hingga 25 juta jiwa itu mencapai setengah meter. Selain itu, kantor pemerintahan dan jalur transportasi di pusat kota Jakarta pun ikut tergenang air, tulis koran Jakarta Globe.

Untuk mencegah terjadinya korsleting, lebih dari 400 stasiun listrik telah dipadamkan. Banjir benar-benar mengganggu lalu lintas ibukota. Perjalanan dari bandara ke pusat kota Jakarta tanpa kemacetan yang biasanya bisa dilalui selama sekitar 30 menit, pada hari Senin lalu memerlukan waktu hingga 10 jam, cerita sejumlah saksi mata kepada RIA Novosti.

Ada beberapa faktor yang secara bersamaan terjadi sehingga menyebabkan banjir di Jakarta. Pertama, hujan yang sangat lebat. Menurut data dari seorang meteorolog Indonesia, curah hujan di Jakarta sempat mencapai 170 mm dalam waktu singkat pada Senin (9/2) kemarin. Kedua, ketinggian permukaan air laut di Laut Jawa saat ini menambah ketinggian permukaan air di sepuluh sungai yang melalui kota Jakarta. Akibatnya, air tidak dapat mengalir secara normal ke laut. Kini stastus siaga sudah diberlakukan di beberapa pintu air di Jakarta.

Namun, penyebab utama dari banjir yang terjadi di kota Jakarta setiap tahunnya adalah akibat dari tindakan manusia sendiri. Lapisan tanah yang di atasnya berdiri kota Jakarta ini terus menurun sebanyak 10 cm/tahun akibat penggunaan air tanah secara aktif dan tidak adanya mekanisme penggantian air tersebut. Saat ini sudah lebih dari setengah wilayah kota berada di bawah permukaan laut. Ini menyebabkan air tidak dapat mengalir secara alami keluar dari kota ke laut. Air harus disedot keluar menggunakan pompa. Ketika pompa tidak lagi dapat menjadi solusi, setiap hujan lebat yang terjadi akan mengancam meluasnya bencana banjir di sejumlah wilayah di Jakarta.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di RIA Novosti.

Baca selanjutnya tentang kesan seorang mahasiswa Rusia yang baru pertama kali mengunjungi Jakarta. >>>

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.