Bank Sentral Rusia Turunkan Suku Bunga Acuan, Nilai Rubel Menukik Tajam

Bank Sentral Rusia mengumumkan keputusannya untuk menurunkan suku bunga acuan dari 17 persen menjadi 15 persen.

Kebijakan Bank Sentral tidak sesuai dengan prediksi para analis keuangan dan banker yang berharap suku bunga tak akan berubah di tengah tingginya angka inflasi dan ekspektasi devaluasi.

Nilai mata uang Rusia menukik tajam setelah Bank Sentral Rusia—di luar dugaan—mengambil kebijakan untuk menurunkan suku bunga menjadi 15 persen pada Jumat (30/1).

Setelah Bank Sentral Rusia mengumumkan keputusannya untuk menurunkan suku bunga acuan dari 17 persen menjadi 15 persen, nilai tukar rubel terhadap dolar turun hingga 71,32 rubel per dolar, dan nilai tukar terhadap euro turun menjadi 80,99 rubel per euro.

Keputusan tersebut tak sesuai dengan prediksi analis keuangan dan para bankir yang berharap Bank Sentral akan mempertahankan tingkat suku bunga saat nilai inflasi masih tinggi, begitu pula ekspektasi devaluasi.

Namun pihak Bank Sentral menjelaskan, keputusan tersebut dikarenakan adanya perubahan keseimbangan antara risiko percepatan pertumbuhan tingkat konsumsi dengan kestabilan perekonomian.

Pada 15 Desember lalu, Bank Sentral meningkatkan suku bunga pinjaman dari 10,5 persen menjadi 17 persen untuk membantu rubel bertahan di tengah gempuran jatuhnya harga minyak dunia, pemberian sanksi Barat, goyahnya perekonomian Rusia, serta pelarian modal ke luar negeri.

Sebelumnya, Kepala Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina menyebutkan bahwa pihak Bank Sentral bisa menurunkan suku bunga jika tren yang terjadi dapat menurunkan tingkat inflasi serta harapan devaluasi.

Berdasarkan keterangan pihak Bank Sentral, keputusan untuk meningkatkan suku bunga secara drastis pada pertengahan Desember lalu berhasil menstabilkan nilai inflasi dan ekspektasi devaluasi sesuai harapan.

“Pertumbuhan tingkat konsumsi mencapai 13,1 persen pada Senin (26/1), dan kondisi moneter saat ini  mengindikasikan penurunan inflasi dalam jangka menengah,” terang pihak Bank Sentral.

Sementara, pada Kamis (29/1), sebuah survei yang dilakukan TASS menunjukan bahwa para ahli keuangan dan bankir memprediksi Bank Sentral akan tetap mempertahankan suku bunga pada level 17 persen. Survei tersebut diikuti oleh Credit Suisse, HSBC, Gazprombank, UniCredit Bank, Alfa-Bank, Metalloinvestbank, Uralsib Bank, B&N Bank, Otkritie Capital, dan Renaissance Capital.

Dalam survei tersebut, analis Uralsib Capital Irina Lebedeva sangat yakin bahwa Bank Sentral tak akan menurunkan tingkat suku bunga. “Saya tidak melihat sinyal Bank Sentral akan menurunkan tingkat suku bunga saat ini, karena risiko peningkatan inflasi masih tinggi dan devaluasi nilai rubel pun masih mengintai,” ujarnya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.