Tak Dukung Charlie Hebdo, Masyarakat Rusia: Hinaan Terhadap Islam Tak Bisa Ditoleransi

Berdasarkan data dari lembaga Pusat Penelitian Pendapat Masyarakat Seluruh Rusia (VTsIOM), lebih dari setengah penduduk Rusia meyakini penyerangan majalah satir mingguan Charlie Hebdo adalah akibat provokasi para wartawan media itu sendiri.

Berdasarkan hasil survei lembaga Pusat Penelitian Pendapat Masyarakat Seluruh Rusia (VTsIOM), 74 persen responden mengaku mengetahui aksi penembakan kantor pusat majalah Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang pada 7 Januari lalu. Dari jumlah tersebut, 30 persen di antaranya menilai penyebab utama dari peristiwa tersebut adalah tindakan penghinaan para wartawan Perancis terhadap nilai-nilai religi umat Islam.


Adapun para pendukung partai Edinnaya Rossiya dan KPRF memberikan penilaian yang sama terhadap hal tersebut. Sebanyak 25 persen responden menyatakan bahwa aksi terorisme tersebut terjadi akibat kebijakan dari Pemerintah Prancis yang membiarkan media menghina nilai-nilai agama Islam, sementara 11 persen lainnya menyebutkan tindakan Pemerintah Prancis yang mengizinkan umat Islam masuk dalam jumlah besar ke Prancis sebagai penyebab dari tragedi penembakan tersebut.

Dalam survei tersebut, ada pula responden yang menyatakan bahwa permasalahan terletak pada sikap dari beberapa kaum ekstrimis Islam yang menjawab sindiran karikatur tersebut dengan kekerasan. Namun, jumlahnya hanya 8 persen. Sementara itu, 6 persen lainnya menganggap bahwa aksi terorisme tersebut terjadi karena kinerja pasukan khusus Prancis yang tidak profesional, dan hanya 5 persen responden saja yang mengaitkan tragedi penembakan tersebut dengan ISIS. Menurut responden, para pekerja media tersebut dibunuh akibat kebencian kaum ekstremis Islam terhadap pemerintahan moderat dan juga kebebasan berpendapat.

Keapada Kommersant, Kepala VTsIOM Valeriy Fedorov menyatakan, ancaman ekstremisme Islam terlihat jelas. “Orang-orang menilai tindakan ‘menggoda angsa’ (kiasan bahasa Rusia yang berarti memprovokasi) adalah salah,” ujarnya. “Islam adalah salah satu agama tradisional di Rusia. Umat Islam sudah ribuan tahun tinggal di sini. Bagi orang Rusia, hinaan terhadap Islam adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi.”

Fedorov juga meyakini bahwa karikatur bertemakan agama yang dipublikasikan layaknya hasil karya budaya modern telah mengundang reaksi negatif dan bagi sebagian besar dinilai telah melewati batas. Sosiolog ini juga mengatakan, saat para responden ditanya apa pendapat mereka mengenai kemungkinan peristiwa yang terjadi di Prancis pada awal Januari lalu akan terulang di negara mereka, sebanyak 50 persen menjawab optimis tidak akan terjadi, sedangka 35 persen lainnya mengatakan bahwa tetap ada kemungkinan.

“Berarti, terdapat ketakutan di masyarakat. Diperlukan pengambilan sikap yang aman (oleh masyarakat), dan oleh sebab itu tindakan para pembuat karikatur dinilai sebagai tindakan yang berisiko,” ungkap Fedorov.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Kommersant.

Kadyrov Kritik Standar Ganda Barat dalam Lawan Terorisme

Kepala Republik Chechnya Ramzan Kadyrov mengkritik standar ganda yang diterapkan Barat dalam melawan terorisme. Selain itu, Kadyrov menegaskan tak ada seorang pun yang boleh menghina Nabi Muhammad dan menyinggung perasaan umat Islam.

“Kami mengapresiasi aksi antiterorisme yang dilakukan para kepala negara adidaya di Paris. Tapi, terorisme mana yang mereka gugat? Terorisme di seluruh dunia, atau hanya di Prancis?” tulis Kadyrov dalam akun Instagramnya, mengomentari aksi yang digelar di Prancis, Minggu (11/1) kemarin.

Baca artikel selengkapnya. >>>

Warga Rusia Protes Keras Karikatur Baru Charlie Hebdo yang Memuat Nabi Muhammad

Di Moskow, kegelisahan yang disebabkan oleh kartun baru majalah tersebut telah memicu perkelahian di masjid terbesar kota itu. Sementara di Chechnya, warga berencana melakukan demonstrasi demonstrasi tengah dijadwalkan untuk memprotes kartun baru yang memuat Nabi Muhammad tersebut. Sekitar setengah juta orang akan turun ke jalan untuk melakukan aksi protes.

Baca artikel selengkapnya. >>>

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.