Bagaimana Orang Rusia Hidup Tanpa Matahari Selama 40 Hari Berturut-turut?

Namun demikian, bagi 307 ribu orang yang tinggal di sini, kota dengan malam kutub, angin yang menusuk, lereng-lereng es, dan "gaji" Utara ini adalah rumah. Mereka bahkan memanggil kota mereka dengan sebutan penuh kasih sayang: Monamourmansk. Sementara, dengan dikelilingi tundra, taiga, pegunungan, fyord, dan laut, kota ini menyajikan pemandangan yang lebih dari luar biasa.

Namun demikian, bagi 307 ribu orang yang tinggal di sini, kota dengan malam kutub, angin yang menusuk, lereng-lereng es, dan "gaji" Utara ini adalah rumah. Mereka bahkan memanggil kota mereka dengan sebutan penuh kasih sayang: Monamourmansk. Sementara, dengan dikelilingi tundra, taiga, pegunungan, fyord, dan laut, kota ini menyajikan pemandangan yang lebih dari luar biasa.

Sergei Ermokhin
... dan tetap waras.
Fotografer Rusia Sergei Ermokhin menunjukkan bagaimana para penduduk kota-kota di Lingkaran Arktik bertahan ketika matahari tak terbit selama berbulan-bulan dalam suatu waktu. Penduduk setempat hidup dalam kondisi gelap gulita selama 40 hari dan foto-foto yang menggambarkan kehidupan mereka bisa jadi terlihat sedikit aneh ketika pertama kali Anda melihatnya.
Di sini, di Rusia Utara, satu tahun dibagi menjadi malam kutub dan hari kutub (atau disebut juga matahari tengah malam). Hari kutub terjadi ketika matahari tidak pernah tenggelam di balik cakrawala, melainkan hanya tampak "berputar" di sekitar langit selama berhari-hari (22 Mei – 22 Juli).
Warga setempat mengatakan bahwa selama hari kutub, tagihan listrik mereka praktis nol. Namun, semua uang yang ditabung selama musim panas akan dihabiskan selama malam kutub.
Di Rusia, ada sekitar 30 kota yang berada di dalam Lingkaran Arktik. Murmansk, permukiman terpadat di Lingkaran Arktik, adalah kota terakhir yang didirikan pada masa Kekaisaran Rusia. Kota ini baru saja merayakan hari jadinya yang ke-100 dan kini menjadi rumah bagi 307 ribu jiwa.
Di Murmansk, akhir malam kutub dirayakan dua kali. Perayaan pertama disebut "Sinar Matahari Pertama". Pada perayaan ini, penduduk Murmansk akan berbondong-bondong pergi ke puncak gunung di kota itu untuk melihat matahari pertama yang terbit dalam 40 hari terakhir.
Sementara, malam kutub adalah sesuatu yang jauh lebih menyedihkan. Pada musim dingin lalu di Murmansk, matahari tidak terbit dari 2 Desember hingga 11 Januari.
Kemudian, pada hari Minggu terakhir di bulan itu, penduduk Murmansk merayakan Festival Matahari: konser di lapangan kota, festival rakyat terbuka, dan — tentu saja — sajian panekuk dalam porsi besar!
Murmansk lahir di tengah kondisi yang keras. Pada dasarnya, kota ini lahir karena perang dan untuk perang. Selama Perang Dunia I, Rusia sangat membutuhkan pasokan dari Sekutu. Satu-satunya solusi adalah membangun pelabuhan di Semenanjung Kola dan jalur kereta api dari sana ke Sankt Peterburg (pada masa PD I, kota Sankt Peterburg masih menjadi ibu kota Kekaisaran Rusia).
Para dokter memperkirakan bahwa malam kutub mengganggu fungsi tubuh manusia karena kurangnya cahaya ultraviolet dan vitamin. Banyak orang dari Utara menjadi depresi dan lesu selama periode ini.
Murmansk dianggap sebagai kota pelabuhan penting yang strategis dan penghubung kunci dalam berbagai sistem transportasi yang berbeda. Singkatnya, kota ini memberikan kontribusi ke Rusia dalam berbagai cara.
Namun, berkat Murmansk, Rusia dapat dengan bangga membangun platform minyak tahan es pertama di dunia, kapal selam pertama dengan fasilitas tenaga nuklir di dunia, satu-satunya armada pemecah es bertenaga nuklir di dunia, dan juga satu-satunya rute transportasi di dunia yang melalui Arktik yang terus-menerus dioperasikan.
Jika Anda mengangkat kepala dan melihat ke langit, Anda dapat melihat apa yang mungkin menjadi satu-satunya faktor pengurang "depresi" dalam menghadapi malam kutub yang panjang — Cahaya Utara yang berkilauan.