Doa dan Sesajen Pagan di Hutan Mari El

Beberapa bangsa di dunia berhasil melestarikan budaya mereka yang unik. Namun, Mari (penduduk Republik Mari El, terletak di Sungai Volga) — suku Ural yang berakar dari suku Finno-Ugric — berhasil mempertahankan budaya tradisional mereka hingga hari ini: cara hidup, budaya, bahkan agama, yang masih merupakan paganisme.

Beberapa bangsa di dunia berhasil melestarikan budaya mereka yang unik. Namun, Mari (penduduk Republik Mari El, terletak di Sungai Volga) — suku Ural yang berakar dari suku Finno-Ugric — berhasil mempertahankan budaya tradisional mereka hingga hari ini: cara hidup, budaya, bahkan agama, yang masih merupakan paganisme.

Fedor Telkov
Suku Mari berhasil mempertahankan budaya tradisional mereka hingga hari ini.
Meski diburu oleh tsar dan pemerintahan Soviet, serta pengaruh Ortodoks, Islam, dan ateisme yang cukup kuat, Mari tetap berdoa secara diam-diam di balik kebun suci mereka.
Abad ke-16 merupakan awal dari migrasi beberapa suku 'Padang Rumput Mari' ke timur laut karena proses Kristenisasi. Kelompok 'Mari Timur' bermukim di daerah Sverdlovsk Oblast, di tenggara daerah Perm Oblast, dan utara Bashkiria.
Ibadah Mari dapat dibagi ke dalam tiga kelompok: komunal, kasual, dan keluarga. Selama berdoa, posisi bulan selalu diperhatikan. Sebelum melakukan ritus keagamaan, mereka perlu menyiapkan roti khusus.
Bagian pertama dan penutup dari perayaan digelar di rumah keluarga 'sang inisiator' ibadah. Kart (pemimpin spiritual Mari) mengenakan topi yang terbuat dari kain berbulu tebal bewarna putih. Daerah Sverdlovsk Oblast hanya memiliki tiga pemimpin keagamaan, salah satunya akan segera “pensiun”.
Kemampuan sang kart terletak terutama pada luasnya pengetahuan dan ruang lingkup permohonan pada dewa-dewa. Doa itu sendiri disampaikan dengan bebas, tanpa mantra khusus, tapi harus datang dari hati.
Dewa tertinggi Mari adalah Osh Kugu Yumo (“Dewa Putih Agung"). Ia merupakan satu-satunya yang menjadi tujuan penyerahan pengorbanan dan dari dewa inilah para kart memohon kepada dewa-dewa lainnya. Hingga hari ini, orang Mari berprofesi sebagai buruh tani. Karena itu, ladang dan ternak mereka bergantung pada kekuatan alam.
Tempat Mari menjalankan ritualnya disebut Hutan Keramat, atau dalam beberapa kasus, Pegunungan Keramat, yang dilindungi oleh kekuatan alam. Mari El, tanah air orang-orang Mari, memiliki sekitar 500 tempat semacam itu. Tempat ini harus dijaga kesuciannya. Jika ada yang menodai, pelakunya akan mendapat hukuman berat dari para dewa.
Gunung keramat dibagi ke dalam beberapa tingkat yang berbeda, tiap tingkat merupakan tempat pemujaan dewa tertentu. Hutan keramat juga sering disebut zona anomali, karena kerap terjadi fenomena aneh, tapi bagi orang Mari itu juga merupakan tempat mereka dapat mengisi kembali energi positif dan rileks.
Sebelum memanjat gunung keramat, mereka harus terlebih dahulu mandi di sebuah rumah pemandian (dengan air dari mata air suci) dan mengenakan pakaian bersih. Di area hutan pegunungan keramat, mereka tak boleh menebang pohon yang masih hidup, bersumpah-serapah, berteriak, membuang sampah sembarangan, buang air, atau mengonsumsi alkohol.
Mari Ural mengorbankan seekor domba jantan putih mulus yang sudah dewasa, sehat, dan tak bercela. Beberapa ritus Mari dipersembahkan pada kekuatan gelap, dan kala itu persembahan menggunakan binatang berbulu hitam.
Sang kart memotong organ vital binatang tersebut, mengikatnya pada tali, dan melemparnya ke tengah periuk makanan. Ini adalah petisi agar orang tersebut dan keluarganya selalu sehat.Daging dan sosis darah direbus di panci besar dan disajikan pada para peserta ritual untuk berterima kasih atas kebaikannya.
Sang kart memohon kesejahteraan bagi orang-orang Mari, panen yang berlimpah, pikiran jernih, dan dijauhkan dari obat-obatan terlarang, serta keputusan bijaksana dalam menjalankan pemerintahan. Saat sang kart membacakan doanya pada dewa-dewa, para 'tamu' harus berlutut (tuan rumah yang bertugas menyerahkan domba untuk dikorbankan).
Berdasarkan legenda, tak ada barang yang patut ditinggalkan di gunung keramat, sehingga domba bakar tersebut dan benda-benda lain harus dibawa pulang oleh para peserta. Mereka harus membaginya dengan teman dan orang-orang terkasih mereka.
Pada 1990-an, ritual massal tersebut kembali diizinkan oleh pemerintah. Kini, tentu, beberapa orang Mari adalah pemeluk Ortodoks, dan sisanya memeluk Islam dan bicara bahasa Tatar.