Manipulasi Makna dalam Pilihan Kata

Sebuah kata tidak selalu memberi definisi netral mengenai suatu peristiwa atau gagasan. Kata-kata yang digunakan politikus dan pelaku propaganda bisa jadi memiliki konotasi tersendiri, yang bertujuan membersihkan nama salah satu pihak atau mencoreng wajah pihak lain.

Klik untuk memperbesar gambar. Ilustrasi oleh Niyaz Karim.

Kita umumnya menggunakan kata-kata berkonotasi positif untuk menggambarkan hal yang kita setujui dan kata-kata berkonotasi negatif untuk membicarakan hal yang tidak kita sukai. Seseorang yang suka memberi uang pada orang lain akan disebut dermawan oleh pihak yang menyetujui tindakannya, sekaligus disebut pemboros oleh orang yang tidak sepemikiran dengannya. Hal yang sama berlaku bagi mereka yang suka menyimpan uangnya, mereka bisa disebut hemat atau pelit.

Cerminan perbedaan perspektif dalam pilihan kata juga terlihat saat menyebut orang yang bekerja untuk dinas rahasia negara. Mereka disebut intelejen oleh negaranya sendiri, namun disebut mata-mata oleh orang lain. Begitu pula kelompok bersenjata yang berjuang melawan rezim penjajah. Secara simpatik mereka bisa disebut gerilyawan, tetapi bagi penjajah mereka adalah bandit.

John Harington pernah menulis sebaris puisi yang berbunyi, “Pengkhianatan tidak pernah berhasil, karena jika berhasil tidak ada yang menyebutnya pengkhianatan”. Kalimat tersebut menjadi populer dan sering dikutip di Rusia setelah sastrawan Soviet Samuil Marshak menerjemahkannya. Revolusi Bolshevik 1917 pada awalnya disebut Kudeta Oktober dan “pemberontakan bersenjata”. Namun, saat kekuasaan Soviet telah mapan, peristiwa historis ini secara resmi dilabeli sebagai Revolusi Besar Sosialis Oktober. Saat ini, umumnya orang menyebut revolusi tersebut dengan istilah yang singkat dan netral yakni “Revolusi Oktober”.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Agustus 1991, yang mengakibatkan runtuhnya Uni Soviet, jarang disebut “revolusi”, malah dikenal sebagai Kudeta Agustus. Tindakan tersebut merupakan sebuah upaya untuk mencegah perpecahan Uni Soviet, melanggengkan kekuasaan Partai Komunis, dan menghentikan reformasi. Karena gagal, dalam sejarah upaya tersebut dirujuk dengan istilah negatif, yakni putsch (путч).

Sebuah “putsch” lain terjadi pada musim gugur 1993, ketika Dewan Tertinggi (parlemen yang terpilih pada zaman Soviet) mencoba menurunkan Presiden Boris Yeltsin dari tampuk kekuasaan. Pemberontakan yang gagal itu disebut “Putsch Oktober”, yang pada praktiknya benar-benar mengakhiri kekuatan Soviet di Rusia. Sedangkan menurut mereka yang mendukung Dewan Tertinggi, Yeltsin memainkan sandiwara “kudeta inkonstitusional” dan menyebut penggunaan kekuatan militer melawan “Gedung Putih” Moskow (gedung parlemen pada saat itu) sebagai “pemberontakan parlemen”.

Manipulasi istilah sangat lazim di masa perang, ketika masing-masing pihak mencoba meyakinkan pihak lain bahwa tindakannya merupakan hal yang benar dan bijaksana. Sebagai contoh, dalam buku pelajaran sejarah Soviet, invasi Tentara Merah ke Polandia pada September 1939 disebut sebagai pembebasan Ukraina Barat dan Belarus Barat. Sementara, propaganda Nazi menyebut invasi Jerman terhadap Uni Soviet pada Juni 1941 sebagai “serangan pencegahan”.

Beberapa eufemisme dalam menggambarkan tindakan militer juga muncul di paruh kedua abad ke-20. Invasi Soviet atas Cekoslowakia pada Agustus 1968 secara resmi disebut sebagai pengerahan pasukan militer secara terbatas dengan tujuan untuk memberi bantuan persaudaraan pada masyarakat Cekoslowakia atas permintaan pemimpin mereka. Pada Desember 1979, Uni Soviet mengirimkan “pasukan militer terbatas” ke Afghanistan, kali ini tidak untuk “bantuan persaudaraan” tetapi untuk menjalankan “kewajiban internasional”. 

Perang Chechen pada 1990-an memunculkan istilah lain, yakni zachistka (зачистка), yang berarti operasi membersihkan area tertentu dari pemberontak bersenjata atau “teroris”, yang sering kali memakan korban penduduk sipil. Tindakan Rusia selama konflik bersenjata dengan Georgia pada Agustus 2008 secara resmi disebut sebagai “tindakan yang dilakukan untuk terciptanya kedamaian”.

Sebuah lelucon Soviet yang populer pada 1970-1980-an berbunyi, “Apakah akan ada perang? Oh perang tidak akan terjadi, yang ada ialah perjuangan demi terciptanya perdamaian hingga semua rata dengan tanah.” 

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.