Mengapa Sistem Perbankan Syariah Sulit Diterapkan di Rusia?

Perbankan Syariah di Rusia sering kali terbentur masalah hukum.

Perbankan Syariah di Rusia sering kali terbentur masalah hukum.

Reuters
Upaya untuk mengenalkan perbankan Islam yang sudah dilakukan sejak 1997 kebanyakan tidak pernah berhasil. Para ahli meyakini bahwa tidak adanya kerangka hukum dan permintaan yang memadai terhadap sistem perbankan Syariah di Rusia sebagai faktor yang menghambat perkembangan sistem perbankan ini, bahkan di kota-kota yang mayoritas penduduknya muslim sekalipun.

Salah satu institusi perbankan Islam yang paling terkenal di Rusia saat ini tengah terganjal masalah serius akibat salah seorang eksekutif senior dari perusahaan induknya dituduh melakukan kecurangan. Kasus ini mencerminkan banyaknya rintangan hukum yang dihadapi lembaga keuangan Islam di Rusia.

Setahun yang lalu, ketika Tatagroprombank meluncurkan Pusat Kemitraan Perbankan yang beroperasi di bawah hukum Syariah, banyak analis yang percaya akan keberhasilannya. Lembaga ini juga berharap bahwa investasi akan mulai mengalir ke Kazan yang disebut-sebut sebagai ibu kota muslim Rusia dan sekaligus merupakan ibu kota Republik Tatarstan (salah satu subjek federal di Rusia).

Pusat Kemitraan Perbankan mulai beroperasi pada Maret 2016 sebagai anak perusahaan dari LLC Tatagroprombank. Lembaga ini menyediakan beragam layanan perbankan terlepas dari kepercayaan yang dianut masing-masing klien. Bank ini bekerja baik bersama individu maupun perusahaan dan memiliki kesepakatan dengan Bank Pembangunan Islam di Arab Saudi.

Saat ini, Robert Musin sebagai salah satu pemegang saham utama Tatagroprombank tengah dihadapkan dengan tuntutan pidana atas dugaan kecurangan berskala besar. Penahanannya terkait erat dengan aktivitasnya di bank besar lain di Kazan. Tatfondbank yang ia kepalai telah kehilangan lisensinya pada Maret 2017 lalu.

Kini masih belum diketahui apakah nasib Tatagroprombank akan mengikuti jejak Tatfondbank meski tersiar desas-desus mengenai klien yang mulai menarik dana dari rekening mereka. Perwakilan bank tersebut tidak memberikan informasi apa pun terkait nasib perusahaan tersebut sehubungan dengan kejadian yang baru-baru ini terjadi.

Selain perkembangan tersebut, pada tanggal 9 Maret, Majelis Rendah Perlemen Rusia (Duma) memutuskan untuk menolak RUU yang mengizinkan perbankan Islam beroperasi secara penuh dan legal di Rusia. Rais Suleimanov dari Institut Strategi Nasional meyakini bahwa salah satu alasan penolakan tersebut adalah akibat pernyataan tidak jelas dari Deputi Dmitriy Savelyev yang mengajukan RUU tersebut, demikian dilansir oleh EADaily.

Perbankan Syariah di Rusia

Upaya untuk mengenalkan perbankan Islam yang sudah dilakukan sejak 1997 kebanyakan tidak pernah berhasil, terlepas dari kenyataan bahwa sistem ini menyasar kota-kota dengan mayoritas penduduk muslim.

Bank pertama yang menerapkan sistem keuangan Islam di Rusia adalah Bank Badr-Forte di Moskow. Bank ini mendapat lisensi pada tahun 1991 dan mulai menggunakan metode keuangan Islam pada tahun 1997. “Secara perlahan-lahan, Badr-Forte mulai menjembatani Rusia dengan dunia Islam,” tutur Adalet Jabiyev, Direktur Bank Badr-Forte kepada majalah Keuangan Islam Global.

Pada Desember 2006, Bank Sentral Rusia tiba-tiba mencabut lisensi Badr-Forte karena ketidakpatuhannya terhadap regulasi standar perbankan dan undang-undang federal Rusia dalam melawan legalisasi pendapatan ilegal (money laundering) serta pendanaan terorisme.

Undang-undang federal menyatakan bahwa transaksi pertama setiap klien harus di bawah pengetahuan pengawas bank. Di sisi lain, Bank Badr-Forte — menurut regulator — tidak sepenuhnya mematuhi undang-undang ini dan memiliki transaksi yang mencurigakan hingga mencapai 33,9 miliar rubel (sekitar 550 juta dolar AS).

“Hal tersebut terjadi bukan karena sistem perbankan Islam, melainkan ada alasan lain,” tutur Nina Mamedova, Kepala Sektor Iran di Institut Studi Oriental Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia kepada RBTH.

Kurang Peminat

Sejak saat itu, sudah banyak organisasi bank yang didirikan, tapi pada akhirnya terpaksa gulung tikar. Rumah Finansial Amal, anak perusahaan Bank Bulgar di Yaroslavl kehilangan lisensinya pada 2017. Bank Ellips di Nizhnihy Novgorod dan Bank Express di Dagestan yang didirikan pada 2011 juga dicap tidak efisien dan akhirnya dilikuidasi pada 2013.

Mereka bukan bank, melainkan “jendela” Islam di dalam bank konvensional. Karena undang-undang Syariah melarang penerimaan bunga atau biaya khusus, “jendela” ini dimanfaatkan untuk melewati undang-undang Rusia yang menyatakan bahwa bank harus selalu mengenakan biaya kepada nasabah.

Sistem keuangan Islam memang bisa membingungkan orang awam. Tidak banyak muslim di Rusia yang mengetahui perbedaan antara bank konvensional dan bank Syariah. Dalam sebuah artikel di Jurnal Asia Tengah dan Kaukasus, seorang profesor dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Renat Bekkin, menulis bahwa pengetahuan ekonomi Islam yang tidak memadai adalah salah satu alasan mengapa perbankan Islam menghadapi begitu banyak hambatan di Rusia.

Tidak Ada Kerangka Hukum

Murad Aliskerov, Kepala Eksekutif LaRiba Finance yang merupakan organisasi perbankan Islam terbesar yang masih beroperasi di Makhachkala, ibu kota Republik Dagestan, percaya bahwa kegagalan bank berbasis Syariah berkaitan dengan “pembersihan di ranah perbankan Rusia, dengan mencabut lisensi dari banyak bank yang memiliki reputasi baik”.

“Pembersihan” ini dicetuskan pada 2013, ketika Elvira Nabiullina yang sebelumnya menjabat sebagai menteri ekonomi dan perdagangan Rusia, ditunjuk sebagai kepala Bank Sentral Rusia. Elvira meyakini bahwa banyak bank yang tidak mematuhi peraturan perbankan dan membuat perekonomian Rusia terancam. Selama beberapa tahun berikutnya, sebanyak 293 bank kehilangan lisensi mereka — beberapa di antaranya termasuk bank besar (termasuk Vneshprombank dan Intercommerzbank) yang secara finansial cukup stabil.

Sumber: Mikhail Japaridze/TASSMantan Menteri Ekonomi dan Perdagangan Rusia Elvira Nabiullina. Sumber: Mikhail Japaridze/TASS

Namun, LaRiba Finance mamang secara resmi tak tercatat sebagai bank, melainkan seperti Kommanditgesellschaft (persekutuan komanditer) Jerman dan Austria atau sebuah kemitraan terbatas. Menurut KUH Perdata Rusia, organisasi semacam ini dapat menjalankan bisnis di luar penyewaan dan investasi produk dan dapat melakukan kegiatan jual-beli, yang secara hukum merupakan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh bank-bank Rusia.

“Rusia tidak memiliki kerangka hukum yang baik untuk perbankan Syariah,” tutur Mamedova. “Namun, seiring dengan pertumbuhan populasi muslim di Rusia, beberapa bentuk sistem perbankan Islam akan terus berjalan di Rusia.”

Minim Investasi

Salah satu argumen yang mendukung perbankan Islam di Rusia adalah harapan lonjakan investasi dari negara-negara muslim yang kaya.

Aliskerov menjelaskan bahwa setelah krisis keuangan 2008, “Rusia harus fokus pada pasar modal lainnya, terutama pasar Asia dan negara-negara Teluk, dan pada saat itu muncul perbedaan antara Tiongkok dan Rusia.”

Meski begitu, selama ‘Rusia-Arab World Business Dialogue’ pada 2009, Wakil Pertama Perdana Menteri Rusia Igor Shuvalov menekankan bahwa Moskow tidak mencari investasi di sektor perbankan dari negara-negara Teluk.

“Akhir-akhir ini, banyak negara — bahkan pemerintah Barat — yang melihat Arab sebagai komunitas pendonor. Kami bukan salah satunya,” katanya.

“Perbankan Syariah bukan hal yang esensial untuk investasi asing,” tutur Profesor Renat Bekkin kepada RBTH. “Bank konvensional seperti Globex dan Ak-Bars telah mengumpulkan dana” yang sejalan dengan konsep Syariah.

Pada tahun 2011, Bank Ak-Bars (yang hingga kini masih beroperasi) di Kazan mengumpulkan investasi sebesar 60 juta dolar AS dari Citibank dan Korporasi Islami untuk Pengembangan Sektor Swasta yang sesuai dengan undang-undang Syariah. Tiga tahun kemudian, Ak-Bars mengumpulkan 100 juta dolar AS dari Citibank, Commerzbank Aktiengesellschaft dan Emirates NBD Capital Limited.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.