Bagaimana Skema Piramida Keuangan MMM Dapat Menjerat Jutaan Nasabah?

Jutaan warga Rusia menjadi korban penipuan skema piramida MMM.

Jutaan warga Rusia menjadi korban penipuan skema piramida MMM.

Boris Kavashkin/TASS
Pada tahun 1990-an, skema piramida keuangan Mavrodi (Mavrodi Mondial Moneybox) atau MMM menyebabkan jutaan warga Rusia kehilangan tabungan mereka. Dalam lima tahun terakhir, skema ini ternyata kembali berkembang di 18 negara, termasuk di Indonesia.

Sergey Mavrodi, pendiri sistem piramida keuangan MMM, adalah seorang warga Rusia. Ia telah membuka sejumlah cabang perusahaannya di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.

RBTH mencoba menelusuri bagaimana MMM melakukan modus operandi penipuan terbesar di tahun 1990-an, dan mengapa Anda harus meragukan iming-iming keuntungan menggiurkan yang dapat mencapai 30 persen, 50 persen, bahkan hingga 100 persen per bulan.

1. Siapakah Sergey Mavrodi?

Di Rusia, nama Sergey Mavrodi mulai dikenal pada tahun 1993 ketika ia meluncurkan penjualan saham MMM yang menawarkan skema piramida keuangan terbesar dalam sejarah Rusia.

Pada saat itu, MMM memiliki struktur yang menyerupai perusahaan dan menawarkan investasi saham kepada masyarakat Rusia dengan iming-iming keuntungan hingga seratus persen per bulannya.

Namun pada1994, MMM ternyata tak mampu membayar kembali uang investor. Mavrodi terbukti melakukan penipuan dan berakhir di dalam sel tahanan. Ia dibebaskan dari penjara pada 2007 lalu.

Pendiri MMM Sergey Mavrodi memberi wawancara kepada RIA Novosti. Sumber: Iliya Pitalev/RIA NovostiPendiri MMM Sergey Mavrodi memberi wawancara kepada RIA Novosti. Sumber: Iliya Pitalev/RIA Novosti

2. Kenapa banyak warga Rusia berinvestasi di MMM?

Menurut berbagai sumber, 20 tahun yang lalu, sekitar dua hingga 15 juta warga Rusia menjadi korban penipuan MMM.

“Tak heran jika ada jutaan orang yang memutuskan untuk menginvestasikan uangnya di MMM pada awal '90-an karena pada saat itu Rusia sedang mengalami hiperinflasi (pada 1992 nilai rubel turun hingga 26 kali), dan oleh karena itu seluruh tabungan rakyat terdevaluasi,” kata Olga Kuzina, seorang ahli keuangan sekaligus peneliti di Laboratorium Penelitian Ekonomi dan Sosiologi Sekolah Tinggi Ekonomi (HSE).

Menurutnya, ketika berhadapan dengan situasi perekonomian yang sulit, masyarakat akan mencari cara untuk menyelamatkan tabungannya. Namun, setelah masyarakat memahami bahwa sistem MMM tidak berhasil, minat masyarakat terhadap saham MMM turun drastis.

3. Selain di Indonesia, di negara mana saja kini MMM beroperasi?

Sejak 2012, Mavrodi mulai membuka sejumlah cabang perusahaan di negara-negara berkembang. Berdasarkan informasi yang didapat dari situs resmi MMM di Thailand (hanya dapat diakses di Thailand), saat ini MMM telah memiliki cabang di 18 negara di Asia, Afrika dan Amerika Selatan.

Di negara-negara tersebut, MMM dipromosikan dengan kedok ‘dana bantuan sesama’. Dengan berinvestasi di MMM, calon investor tak hanya dapat membantu orang-orang yang membutuhkan, tetapi juga mampu meraih keuntungan mulai dari 30 – 100 persen per bulan, tergantung di negara mana MMM beroperasi.

Dilihat dari halaman resmi MMM di Facebook, perusahaan ini sangat populer di India (150 ribu pengikut) dan Nigeria (130 ribu pengikut), diikuti Filipina (60 ribu pengikut), Afrika Selatan (30 ribu pengikut), dan Brasil (10 ribu pengikut). Di Indonesia, Thailand, Tiongkok, Jepang, dan negara-negara lainnya, jumlah pengikut MMM tidak lebih dari lima ribu.

 

#mavrodians

Фото опубликовано OAAAR NATION (@amarichforever)


Di sisi lain, situs-situs MMM sama sekali tidak mencantumkan informasi jumlah orang yang terlibat dalam skema piramida ini di masing-masing negara.

RBTH berusaha meminta informasi kepada Sergey Mavrodi melalui satu-satunya akun media sosial yang ia miliki, Vimeo (Mavrodi tidak memiliki akun lain di jejaring sosial), tapi hingga kini RBTH tidak menerima balasan.

Tim RBTH juga berusaha menghubungi perwakilan MMM di Indonesia melalui akun Facebook mereka, tapi tidak berhasil mendapatkan respons.

4. Apakah MMM benar-benar merupakan skema piramida keuangan?

Cara kerja MMM saat ini tak berbeda dengan metode yang diterapkan 20 tahun lalu, yaitu dengan mengusung skema piramida, kata Sergei Hestanov, seorang penasehat ekonomi makro untuk direktur umum perusahaan penyedia jasa keuangan Otkrytie Broker.

Perbedaan konsep piramida keuangan dengan lembaga keuangan yang jujur (misalnya, perusahaan manajemen aset atau broker) adalah, konsep piramida keuangan tidak menginvestasikan uangnya dalam bentuk instrumen keuangan apa pun, melainkan hanya dikumpulkan saja hingga ada investor yang ingin menarik kembali uangnya.

“Ketika dana yang berhasil dikumpulkan dari nasabah baru jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dana yang ditarik, pada saat itulah konsep piramida keuangan ini akan runtuh,” kata Hestanov menjelaskan.

Situs MMM di Thailand dan Nigeria menyebut mengenai keuntungan hingga 100 persen yang dapat diraup oleh seorang nasabah dalam sebulan. Namun, dalam situs itu pula dijelaskan bahwa MMM tidak bekerja sama dengan bank atau pun berinvestasi di saham atau aset keuangan lainnya.

5. Bagaimana caranya mendapatkan keuntungan 30 – 100 persen?

Tidak bisa. “Tidak ada kegiatan yang dapat menghasilkan keuntungan hingga 30 persen per bulan di dunia ini,” kata Yaroslav Kabakov, wakil dirut perusahaan investasi Finam.

“Jika ada seseorang yang menjamin keuntungan jauh di atas tingkat inflasi, bisa dipastikan ia adalah seorang penipu,” tutur Kabakov menambahkan.

6. Mengapa MMM hanya ‘subur’ di negara-negara berkembang?

“Keberhasilan piramida keuangan sangat bergantung pada tingkat pengetahuan finansial masyarakat suatu negara. Semakin rendah tingkat pengetahuan finansialnya, semakin mudah skema piramida keuangan ini berkembang, dan begitu pula sebaliknya,” kata Hestanov.

“Di negara-negara maju, terdapat aturan dan batasan hukum yang jelas untuk mengidentifikasi struktur investasi dengan karakteristik ‘piramida’. Selain itu, lembaga penegak hukum di negara-negara ini memiliki lebih banyak pengalaman dalam memerangi skema piramida tersebut,” kata Kabakov menambahkan.

Meski begitu, menurut Kabakov, hal tersebut tidak menjamin bahwa warga di negara-negara Barat terhindar dari skema investasi piramida. Pada 2008 – 2009, Bernard Madoff mengaku melakukan penipuan keuangan terbesar dalam sejarah AS.

Madoff mendirikan sebuah bank investasi di Wall Street dengan kedok layaknya sebuah perusahaan penasihat investasi bergengsi. Namun ternyata, perusahaan ini beroperasi berdasarkan konsep piramida.

Elizaveta Moskvina, editor RBTH Indonesia, berkontribusi dalam pembuatan laporan ini. 

 

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.