Pakar: Retorika Anti-Tiongkok Buat Kemitraan Trans-Pasifik Kurang Menarik

Iorsh
Pakar terkemuka Rusia di bidang perdagangan Asia Pasifik berbagi pandangannya mengenai opini Barack Obama terkait Kemitraan Trans-Pasifik yang dipublikasikan oleh Washington Post.

Dalam kolom opini yang dipublikasikan Washington Post pada 2 Mei lalu, Presiden AS Barack Obama mengimbau Kongres AS untuk segera menyetujui kesepakatan dalam Kemitraan Trans-Pasifik. Ia menyebutkan, langkah tersebut membuat AS dapat menyusun peraturan dalam perdagangan internasional.

“Dunia sudah berubah.Peraturan serta tata cara yang menaunginya juga ikut berubah. Amerika Serikat, berbeda dengan Tiongkok, harus menuliskan peraturan tersebut dengan jelas. Mari kita manfaatkan kesempatan, melalui Kemitraan Trans-Pasifik, dan memastikan bahwa Amerika tidak menggendong tas, melainkan memegang pena,” tulis Obama.

Obama menyebutkan, Tiongkok juga mendiksusikan peraturan perdagangan dengan negara-negara Asia Pasifik secara aktif. Ia menyatakan kesepakatan multilateral di bawah tata cara yang disusun Beijing dapat (secara teoretis) “menciptakan pertumbuhan pasar yang pesat di dunia, sehingga pekerjaan, bisnis, dan barang-barang buatan Amerika berada di posisi terancam.”

Sebagai respon atas opini tersebut, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebutkan bahwa peraturan perdagangan internasional harus disusun oleh semua negara bersama-sama, bukannya didikte oleh satu pihak saja.

Potongan opini Obama merupakan contoh propaganda terang-terangan yang tak disangka-sangka. Kini jelas tujuan utama presiden AS ialah meyakinkan Kongres AS untuk meratifikasi kesepakatan Kemitraan Trans-Pasifik sesegera mungkin. Jadi, Obama, pertama-tama, perlu bicara tentang keuntungan kesepakatan tersebut bagi warga Amerika.

Seharusnya Obama juga menyinggung bahwa Kemitraan Trans-Pasifik akan memberi keuntungan bagi anggota lain dan seluruh wilayah Asia Pasifik. Namun, menurut opini Obama, negara-negara di wilayah tersebut bukanlah mitra yang seimbang dengan AS, melainkan lapangan uji coba yang menjanjikan bagi Amerika.

Tiongkok adalah satu-satunya negara yang disebutkan dalam teks tersebut selain AS.

Hal yang paling menonjol adalah retorika anti-Tiongkok Obama yang agresif. Hal itu menimbulkan tanda tanya, mengapa AS harus memiliki musuh eksternal untuk memancing persatuan politik dan ekonomi dalam negerinya?

Pendekatan ini bisa diterapkan bagi masyarakat AS, tapi Obama membuat hal ini terdengar seperti strategi kebijakan luar negeri resmi dan tantangan terbuka bagi Tiongkok, yang secara tak sengaja, masih sangat hati-hati dan merespons Kemitraan Trans-Pasifik secara diplomatis.

Transformasi Kemitraan Trans-Pasifik dari sebuah kesepakatan “demi kesejahteraan ekonomi universal” menjadi kesepakatan “melawan Tiongkok” sungguh mengurangi daya tariknya. Hal lain yang bisa dilihat dari opini tersebut yang belum pernah dikuak oleh Amerika ialah kesepakatan Kemitraan Trans-Pasifik sesungguhnya dilihat sebagai lawan dari Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), sebuah kesepakatan perdagangan bebas antara ASEAN dan enam negara yang sudah memiliki zona perdagangan bebas dengan mereka.

Kombinasi kedua wadah multinasional tersebut tak masuk akal, karena bisa saja negara-negara Asia terlibat dalam keduanya. Tujuh dari 12 anggota Kemitraan Trans-Pasifik merupakan anggota dari kedua wadah. Negara-negara tersebut menilai kedua wadah saling melengkapi dan belum bisa memilih antara AS dan Tiongkok.

Bahkan jika artikel Obama menginspirasi Kongres AS untuk meratifikasi kesepakatan, kemitraan itu akan menghancurkan hubungan Washington dengan mitra asingnya. Artikel ini bisa digunakan lawan Kemitraan Trans Pasifik di Asia sebagai bukti bahwa wadah tersebut secara eksklusif mempromosikan kepentingan Amerika.

Natalia Stapran merupakan Direktur Pusat Studi APEC Rusia di Akademi Kepresidenan Rusia untuk Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik (RANHiGS).

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh Kommersant.ru.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.