Akankah Godaan Aliran Dolar Turis Longgarkan Sistem Keamanan Rusia?

Penghapusan visa bagi turis Eropa akan meningkatkan jumlah turis hingga 25 – 30 persen di tahun pertama.

Penghapusan visa bagi turis Eropa akan meningkatkan jumlah turis hingga 25 – 30 persen di tahun pertama.

AP
Agen perjalanan Rusia tengah melobi pemerintah untuk menyederhanakan sistem visa Rusia guna meningkatkan jumlah turis yang mengunjungi Negeri Beruang Merah tersebut. Akankah ekspektasi kencangnya arus pemasukan yang akan didapatkan membuat Rusia mengenyampingkan aspek keamanan?

Kementerian Luar Negeri Rusia, yang merupakan ‘gerbang utama’ bagi para warga asing untuk memasuki Rusia, tengah dilobi oleh sembilan agen tur Rusia yang khusus menangani para turis yang hendak mengunjungi Rusia.

Perwakilan industri pariwisata tersebut meminta kementerian memperhalus persyaratan visa bagi turis yang melakukan transit dan memberlakukan kebijakan bebas-visa 72 jam di titik pemeriksaan perbatasan, serta memperlebar jangkauan visa elektronik.

Kelompok yang bergabung melakukan lobi tersebut termasuk Intourist/Thomas Cook, City Sightseeing Moscow, Roza Vetrov, dan Academservice. Banyak argumen meyakinkan dan menggiurkan yang disajikan oleh pihak pelobi.

‘Gudang Uang’ yang Belum Tersentuh

Saat ini, peningkatan sektor turisme baru sekitar empat hingga lima persen per tahun, jika dihitung dari jumlah turis. Tokoh senior di bidang industri pariwisata Rusia menyebutkan, ini menunjukkan Rusia telah melewatkan kesempatan besar, dan ia mengklaim ada potensi peningkatan drastis yang terverifikasi di bidang tersebut.

Penghapusan visa bagi turis Eropa akan meningkatkan jumlah turis hingga 25 – 30 persen di tahun pertama, menurut CEO Intourist Leonid Marmer.

Prediksi tersebut didukung fakta meningkatnya jumlah turis Korea Selatan ke Rusia setelah mereka menghapuskan kebijakan visa pada 2014. Jumlah turis Korea Selatan meningkat dua kali lipat, dari 40 ribu orang pada 2013 menjadi 70 ribu pada 2015. Peningkatan tersebut tentu menyuntikkan dana segar bagi wilayah yang dikunjungi para turis.

Sambutan bagi para turis nonbisnis juga perlu disesuaikan. Visa sekali-masuk Rusia saat ini rata-rata dibanderol seharga seratus dolar AS. Itu menjadi batu sandungan bagi para turis konvensional dari kelas menenah, membuat mereka lebih berhati-hati menghabiskan uang, dan mencari akomodasi kelas ekonomi.

Jika visa dibanderol seharga 20 – 30 dolar AS, Rusia akan lebih sering dijadikan tujuan liburan, kata Oleg Safonov, Kepala Badan Federal Rusia untuk Pariwisata Rostourism.

Namun, penurunan harga visa akan mengurangi jumlah pemasukan yang diterima Kementerian Luar Negeri Rusia. Selain itu, tarif ini tak ditetapkan secara seragam, tergantung pada kesepakatan bilateral, sebagai praktik diplomatik standar, dengan basis timbal-balik.

Visa sekali-masuk (single entry) Rusia untuk WNI dibanderol seharga 70 dolar AS. Harga ini merupakan harga yang dikenakan untuk pengajuan visa turis, bisnis, kerja, atau transit dengan proses pengerjaan standar, yaitu empat hingga 20 hari kerja. Sementara, untuk proses pengerjaan ekspres (1 – 3 hari kerja), visa sekali-masuk dibanderol seharga 175 dolar AS. Informasi selengkapnya terkait pengajuan visa Rusia bagi WNI dapat dilihat di situs Kedutaan Besar Rusia di Indonesia.

Daya tarik turisme berakar pada argumen yang tak terbantahkan: memotong atau merobek birokrasi akan membuka sebuah sektor dinamis pada perekonomian Rusia yang dapat menghasilkan pemasukan yang berkelanjutan dan menghidupkan negeri lewat pajak. Ini semua adalah sisi positifnya.

Mencocokkan Ambisi dengan Amunisi

Sisi negatifnya, agen wisata tertarik menargetkan ‘turis Barat’ meskipun penduduk yang tinggal di seberang Atlantik tak terlalu tertarik bepergian sejauh itu, dan hal ini didukung oleh data statistik.

Jumlah turis Eropa yang mengunjungi Rusia juga menurun sejak dua tahun terakhir, akibat sanksi Uni Eropa dan demonisasi oleh media garis keras.

Namun, Rusia masih perlu mengerjakan PR-nya dan memperbaiki infrastruktur sektor perhotelan. Mereka harus memastikan tersedianya jumlah hotel dengan beragam harga.

Pencapaian tersebut masih jauh, meski sudah ada beberapa hotel yang sedang dibangun untuk menampung para penonton turnamen olahraga mendatang, seperti Piala Dunia 2018. Menurut Business Monitor International, melemahnya nilai rubel memengaruhi ketertarikan rantai hotel internasional utama, yang berorientasi pada profit dan memperhitungkan ‘tingkat hunian dan tingkat keuntungan’.

Permudah Sistem Visa, Berarti Mengesampingkan Keamanan?

Penolakan juga disuarakan oleh lembaga penegak hukum, yang memiliki kekhawatiran dari segi keamanan. Konflik berbagai front yan tengah berlangsung di Timur Tengah serta ‘krisis pengungsi’' yang menyelimuti Eropa akan mengganggu efektivitas prosedur penyaringan yang sudah ada.

Argumen ini dibantah oleh Oleg Safonov dari Rostourism. Ia menilai, penyederhanaan formalitas visa tak akan mengganggu sistem keamanan yang telah diperketat akibat ancaman teroris.

“Saat visa elektronik dikeluarkan, semua pemeriksaan keamaman yang dibutuhkan tetap dilakukan terhadap turis,” kata Safonov.

Bola sudah dilempar. Pada akhir Februari lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bicara mengenai kerja sama dengan negara-negara Arab untuk mempromosikan pariwisata dan menghapuskan visa antara Rusia dengan negara-negara tersebut.

Pada awal Maret, perwakilan resmi Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova menyampaikan bahwa Rusia tengah bernegosiasi dengan 40 negara untuk menghapus rezim visa dan menghapus visa seluruhnya bagi penduduk dari 24 negara. Selain itu, Tiongkok, India, dan Jepang sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan sistem visa mereka bagi penduduk Rusia.

Menunggangi Pelemahan Nilai Rubel

Sepertinya, jelas langkah mempermudah sistem visa Rusia akan terbayar, mengingat banyak pengusaha asing yang telah memanfaatkan kesempatan melemahnya nilai rubel.

Salah satu agen perjalanan yang berbasis di Delhi memberi tawaran yang menggiurkan: paket tiga malam ke Moskow, termasuk tiket pesawat pulang-pergi, biaya visa, akomodasi bintang empat, dan tur dengan harga terjangkau.

“Sebelumnya hanya masyarakat kelas atas yang pergi ke Rusia karena harganya tergolong mahal,” kata Charu Makin, Direktur Delmos Aviation, yang menjalankan bisnis turisme dengan slogan ‘Visit Russia’.

“Kini idenya adalah meningkatkan jumlah turis dengan menawarkan tujuan yang dapat dijangkau wisatawan dalam jumlah besar, dan rubel membantu kami melakukan ini.”

Selain itu, diplomat senior Tiongkok baru-baru ini menyebutkan bahwa dalam dua tahun terakhir warganya yang mengunjungi Rusia meningkat dua kali lipat, mencapai 1,1 juta orang.

Beijing berencana meningkatkan arus turis hingga lima juta orang. Menurut diplomat, tiap turis akan menghabiskan sekitar dua ribu dolar AS untuk satu perjalanan. Dengan begitu, wisatawan dari Tiongkok saja bisa membawa sepuluh miliar dolar AS bagi Rusia per tahun.

Aliran Dana dan ‘Soft Power’

Rusia sebagai tujuan wisata memiliki banyak hal untuk ditawarkan, dari keindahan alam, eksotisme, serta warisan budaya. Tentu Rusia perlu memanfaatkannya menjadi komoditas, karena hal itu juga akan meningkatkan soft power Rusia.

Argumen ini dapat menjadi kartu As dalam sengketa antara mereka yang mendukung keterbukaan dan mereka yang bertanggung jawab bagi keamanan nasional.

Masih ada kesempatan untuk menyeimbangkan kedua pertimbangan tersebut. Pemerintah Rusia, khususnya Kementerian Luar Negeri, akan mencari keseimbangan tersebut, demi meningkatkan soft power dan memastikan aliran dana yang berkelanjutan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.