Tak Merugi, Operasi Militer Suriah Penuhi Pundi-pundi Rusia

Helikopter Mi-28N.

Helikopter Mi-28N.

Kommersant
Rusia menghabiskan 464 juta dolar AS dalam operasi udaranya di Suriah. Namun demikian, Rusia bisa mendapat keuntungan finansial yang lebih besar. Potensi kontrak ekspor senjata yang dilibatkan dalam pertempuran di Suriah dapat mencapai enam hingga tujuh miliar dolar AS dalam beberapa tahun mendatang.

Lima setengah bulan Angkatan Udara Rusia melakukan operasi militer di Suriah, dan Negeri Beruang Merah tersebut menggelontorkan biaya sebesar 33 miliar rubel (464 juta dolar AS), demikian disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Namun, angka tersebut tak seberapa dibanding keuntungan yang akan diterima. Beberapa narasumber militer menyampaikan pada Dengi bahwa sejak dimulainya kampanye di Suriah, Badan Kerja Sama Teknis Militer Federal (FSVTS) telah didekati oleh banyak negara yang tertarik terhadap produk industri pertahanan Rusia, terutama pesawat.

“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,” tutur seorang narasumber Dengi yang dekat dengan lembaga tersebut.

Kontrak dengan Aljazair

Pada Desember 2015, Aljazair memesan 12 pesawat pengebom Su-32. Menurut Sergei Smirnov, Direktur Pabrik Pesawat Chkalov yang berbasis di Novosibirsk, diskusi mengenai kerja sama dengan Aljazair telah berlangsung selama delapan tahun. Kesuksesan performa pesawat pengebom ini di Suriah memberi ‘gairah’ baru dalam negosiasi. Menurut narasumber Dengi, militer Aljazair harus merogoh kocek setidaknya 500 – 600 juta dolar AS untuk membeli skuadron pertama Su-32. Sementara, pembicaraan mengenai pembelian setidaknya 10 pesawat tempur Su-35S akan segera dimulai. Kontrak penjualan pesawat tersebut diperkirakan sekitar 850 – 900 juta dolar AS.

Terobosan baru lainnya ialah penandatanganan kesepakatan pasokan 40 helikopter serang Mi-28NE untuk Aljazair. Gelombang pertama siap dikirim. Dalam kasus ini, peran operasi Suriah tak terlalu signifikan karena Irak sudah membeli pesawat ini untuk memerangi ISIS. Kontrak Aljazair untuk Mi-28NE diperkirakan mencapai 600 – 700 juta dolar AS.

Apa yang Menarik Perhatian Asia Tenggara dan Timur Tengah?

Pesawat tempur Su-35 juga menarik perhatian Indonesia, Vietnam, dan Pakistan. Ketiga negara telah berpengalaman mengoperasikan pesawat Soviet dan Rusia, dan mereka hendak meningkatkan kualitas pasukan udara mereka. Dalam kasus Indonesia dan Vietnam, kontrak bernilai satu miliar dolar AS sedang didiskusikan. Indonesia mungkin akan mencari pinjaman untuk pembelian tersebut.

Sementara untuk Pakistan, situasinya lebih rumit: selain buruknya situasi ekonomi, kerja sama potensial ini juga terancam oleh aspek geopolitik berkaitan dengan India. Narasumber Dengi menyebutkan, bahkan dalam skenario terbaik, Pakistan tak akan mampu membeli lebih dari enam pesawat. Namun, kontrak berskala kecil tersebut diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS.

Militer internasional juga tertarik pada helikopter Ka-52 Alligator. Rosoboronexport telah menandatangani kontrak dengan Mesir untuk memasok 46 helikopter, dan pengirimannya dijadwalkan mulai 2017. Diperkirakan demonstrasi karakter tempur Ka-52 dalam operasi di Suriah akan membantu proses pencarian pembeli baru pesawat ini, terutama di Timur Tengah.

Contoh Nyata

Contoh lainnya ialah T-90, yang — selama pertempuran di Suriah — bertabrakan dengan sistem misil anti-tank buatan AS, TOW. Insiden tersebut terekam kamera.

Serangan rudal TOW tak berhasil menghancurkan T-90. Sumber: YouTube / Rusvesna.su 1945

Contoh ini akan digunakan dalam negosiasi dengan klien, demikian disampaikan seorang manajer senior di perusahaan industri pertahanan. Daftar klien tersebut antara lain Irak, Iran, dan negara-negara Teluk lain, serta anggota Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS).

Penggunaan sistem pertahanan udara S-400 di Suriah telah meningkatkan ketertarikan Arab Saudi terhadap senjata ini dan memicu pembicaraan yang lebih aktif dengan India. Kontrak tersebut bisa mencapai dua hingga tiga miliar dolar AS, tergantung jumlah sistem misil.

Wakil Kepala Pusat Analisis Strategi dan Teknologi Konstantin Makienko menyinggung peningkatan ketertarikan terhadap senjata Rusia, tapi saat ini belum terefleksi dalam kontrak nyata. Kontrak harus segera dinegosiasikan karena perlu ada siklus produksi, sehingga kalkulasi akhir baru bisa dilakukan setidaknya dua hingga empat tahun, terangnya.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Kommersant.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.