Apa yang Dicari Orang Terkaya Kedua di Dunia di Rusia?

Amancio Ortega.

Amancio Ortega.

EPA
Pada Maret 2016, Amancio Ortega (79), orang terkaya kedua di dunia dan sekaligus pemilik kerajaan Inditex, menerima tawaran tak terduga dari Rusia. Pemerintah Rusia mengundang miliarder tersebut untuk memindahkan pabriknya ke Rusia, yang — akibat jatuhnya nilai rubel — menawarkan biaya produksi yang lebih murah bahkan dibanding Tiongkok.

Kehadiran Inditex sudah cukup aktif di pasar Rusia: merek seperti Zara, Pull & Bear, MassimoDutti, dan Bershka digemari secara konsisten di Rusia. Perusahaan ini tengah mempertimbangkan untuk memindahkan pabriknya ke Rusia dan sedang mendiskusikan hal tersebut dengan Kementerian Industri dan Perdagangan Rusia, demikian disampaikan pihak kementerian. Pabrik lainnya, seperti H&M, IKEA, dan Decathlon, juga siap membuntuti jejak Ortega.

Mengapa Zara?

Ketertarikan Zara terhadap Rusia didorong oleh kondisi yang tercipta akibat krisis ekonomi yang melanda Rusia. Setelah rubel terus-menerus mengalami devaluasi, Rusia masuk ke daftar negara dengan tenaga kerja termurah di dunia.

Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Ortega pada 2016 mencapai 67 miliar dolar AS.

Berdasarkan data badan informasi dan analisis Infoline, gaji buruh tekstil di Tiongkok saat ini berkisar 250 – 300 dolar AS per bulan. Sementara, di Rusia hanya 200 dolar AS (15 ribu rubel). Dalam situasi seperti ini, pengembangan industri tekstil Rusia merupakan langkah yang pintar dari pemerintah Rusia, kata pakar ekonomi.

“Jumlah pengangguran meningkat sehingga lebih banyak buruh yang tersedia. Oleh karena itu, produksi eceran menjadi lebih menarik,” kata Kepala Infoline-Research Mikhail Burmistrov.

Tak mengejutkan jika Inditex kemudian melirik kapasitas produksi di Rusia. Perusahaan ini dikenal dengan keefektifan model bisnis mode yang cepat, yang mulai dari waktu perancangan hingga distribusi ke toko mampu ditekan hingga dua minggu. Saat ini, Inditex memproduksi barang-barangnya di Vietnam, Indonesia, Tiongkok, Turki, dan Eropa. Perusahaan ini memiliki 485 cabang di Rusia, dan meski berada di tengah krisis, berhasil membuka 30 cabang baru pada 2015, sehingga meningkatkan jangkauannya di Rusia hingga enam persen, berdasarkan laporan tahunan Inditex. Dengan begitu, Rusia kini menjadi pasar terbesar ketiga bagi Inditex (setelah Spanyol dan Tiongkok, dengan 1.826 dan 566 toko di kedua negara tersebut).

Inditex adalah sebuah perusahaan asal Spanyol yang bergerak di sektor produk konsumsi diskret. Fokus utama Inditex adalah industri pakaian dan sepatu. Pada 2014, Inditex mendapatkan penjualan sebesar 22,2 miliar dolar AS dengan total keuntungan 3,2 miliar dolar AS. Pada tahun yang sama, Inditex menempati peringkat ke-313 dalam daftar Global 2000, sebuah daftar perusahaan terbesar di dunia yang diperingkat oleh majalah bisnis Forbes, dengan total nilai pasar (market value) 94,3 miliar dolar AS dan total aset sebesar 18,6 miliar dolar AS.
Ketertarikan pemain asing pada industri tekstil Rusia juga dipicu oleh ketegangan hubungan Rusia dengan Turki setelah Turki menembak jatuh pesawat militer Rusia di perbatasan Suriah pada November 2015 lalu. Akibat insiden tersebut, Rusia memotong jumlah impor dari Turki secara drastis, tapi tekstil tak masuk dalam paket sanksi tersebut.

Pada Desember 2015, harian bisnis Kommersant melaporkan bahwa pemerintah Rusia mungkin akan memperluas sanksi terhadap Turki dengan melibatkan bidang pakaian eceran. Lalu, pada akhir 2015, majalah konservatif Rusia Expert mengutip stasiun televisi Turki T24 yang menyebutkan bahwa Zara, Mango, dan H&M meminta Turki mencabut label “Made in Turkey” di pakaian mereka. Dengan demikian, relokasi produksi ke Rusia dapat mengatasi masalah identitas barang, akibat ketegangan politik saat ini.

Seberapa Kompetitif Pabrik Rusia?

Sejauh ini, pabrik Rusia hanya bekerja sama dengan pengecer dan konsumen lokal. Oleh karena itu, masih perlu dilihat seberapa kompetitif pabrik Rusia dibanding rivalnya di Tiongkok dan Vietnam, yang beroperasi beberapa giliran dan mampu menghasilkan jumlah barang seratus kali lipat lebih banyak.

“Salah satu fitur khusus yang dimiliki merek internasional adalah mereka beroperasi dalam sebuah sistem tenaga kerja alih daya (outsourcing) global. Misalnya, mereka menandatangani konrak untuk memproduksi pakaian dengan sebuah pabrik di satu negara, kemudian menjual barang yang sudah siap di toko-toko mereka di seluruh dunia,” kata Mikhail Burmistrov. Sistem ini membutuhkan prosedur standardisasi yang ketat dan investasi serius dari pihak pabrik. Ini adalah tantangan yang akan dihadapi oleh manufaktur Rusia.

Jika baju-baju merek Zara atau H&M dibuat di Rusia, kualitas mereka tak akan terpengaruh secara negatif, demikian disampaikan Kepala Komite Industri Mode di bawah Persatuan Industri Tekstil Rusia, Lyudmila Ivanova. “Kita sudah belajar bagaimana membuat pakaian berkualitas baik. Banyak merek Rusia yang populer di kalangan konsumen dalam negeri. Jika Anda tak diberitahu bahwa barang itu dibuat di Rusia — di Ivanovo, Vladimir, Yaroslavl, atau Voronezh — Anda mungkin mengira itu dibuat di Eropa,” tuturnya.

Merek pakaian terbesar Rusia, Gloria Jeans dan Sela, sejauh ini memproduksi pakaian mereka di pabrik-pabrik Asia. “Saat ini, kami menggunakan jasa pekerja di Tiongkok dan Bangladesh, tapi kami juga tertarik untuk bekerja sama dengan manufaktur Rusia,” kata Wakil Presiden Sela, Eduard Ostrobrod. Perusahaan ini tengah mencari kesempatan untuk memindahkan produksinya ke Rusia. “Dalam forum industri tekstil Kementerian Industri dan Perdagangan baru-baru ini, kami bertemu beberapa manufaktur Rusia yang menarik dan kami siap bekerja sama dengan mereka,” tambahnya.

Siapa Saja yang Sudah Melakukan Relokasi ke Rusia?

Sejak krisis ekonomi melanda Rusia, banyak pengecer Rusia yang mulai memindahkan pabrik mereka dari negara-negara Asia ke Rusia. Merek-merek lokal, seperti Befree, Zarina, dan Love Republic, telah meningkatkan jumlah pesanan mereka terhadap pabrik Rusia. Kira Plastinina juga membuka pabriknya sendiri di Wilayah Moskow, tak jauh dari ibu kota. Merek ini dibuat oleh pendiri perusahaan jus terbesar Rusia Wimm-Bill-Dann, yang dijual ke PepsiCo pada 2011 senilai 3,8 miliar. Perwakilan merek Rusia lainnya, Incity, menyampaikan pada RBTH bahwa mereka juga berencana memindahkan produksi mereka ke Rusia.

Tak hanya merek dalam negeri yang mempertimbangkan untuk memindahkan pabrik mereka ke Rusia. MMD East and West yang merupakan anak perusahaan Bosco di Ciliegi (produsen baju tim Olimpiade Rusia) hendak membuka pabrik baju olahraga di wilayah industri Kameshkovo di Wilayah Vladimir (200 kilometer sebelah tenggara Moskow). Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai satu miliar rubel (17,4 juta dolar AS).

Pengecer baju olahraga Prancis Decathlon telah menandatangani kesepakatan dengan pabrik S-Tep yang berbasis di Novosibirsk untuk memproduksi celana olahraga. Sebagai tahap awal, pabrik ini akan memproduksi celana olahraga bagi toko-toko Decathlon di Rusia, tapi distribusinya kelak akan diperluas ke ranah global, demikian disampaikan harian bisnis Vedomosti pada Februari 2015.

Pada saat yang sama, pabrik-pabrik Rusia tak terlalu terlena akan prospek kedatangan pemain luar negeri. “Mereka bisa dan perlu memindahkan fasilitas produksinya ke Rusia, tapi tak seharusnya dimulai dengan pemain global, melainkan mereka yang sudah bekerja di Rusia,” kata Mikhail Burmistrov. Pemerintah Rusia perlu mendukung pabrik-pabrik lokal, lanjutnya, dan memastikan tingkat integrasi yang diperlukan antara mereka dan pihak pembeli.

Hal lain yang perlu diperhatikan pemerintah ialah perbaikan iklim investasi, agar perusahaan asing tak takut menginvestasikan pabriknya di Rusia. “Dampak devaluasi rubel tak akan berlangsung selamanya. Kemungkinan ini akan terjadi selama dua hingga empat tahun, tergantung situasi di pasar luar. Jika Rusia tak bisa menawarkan keuntungan kompetitif lainnya, tak ada gunanya membuat investasi jangka panjang atau mengembangkan hubungan dengan manufaktur lokal,” tutur Burmistrov.

Kesuksesan Perdana

Sudah ada beberapa contoh integrasi yang sukses antara bisnis global dengan industri Rusia. IKEA dan para pengecer pakaian yang menerima undangan dari pemerintah Rusia, telah suskes bekerja sama dengan pabrik Rusia sejak lama. Kantor penjualan IKEA dibuka di Rusia sejak 1991, bahkan sebelum toko pertamanya di Rusia berdiri. Saat ini, lebih dari 50 persen volume penjualan toko IKEA di Rusia diproduksi secara lokal. Pada kategori tekstil, jumlah barang produksi dalam negeri mencapai 40 persen, demikian disampaikan siaran pers IKEA di Rusia.

Kemudian, IKEA berencana meningkatkan produksi lokalnya di Rusia. “Dengan meningkatkan jumlah pembelian dari pemasok lokal, kami bisa mengurangi biaya produksi, terutama pada biaya transportasi dan bea cukai,” terang perusahaan tersebut. Saat ini, pengecer Swedia menggunakan jasa sekitar 60 pabrik Rusia. Pabrik Rusia juga telah terintegrasi sepenuhnya dengan rantai produksi dan distribusi global: barang-barang buatan Rusia dapat ditemukan di toko-toko IKEA di Eropa, Amerika, dan Asia. Selain itu, IKEA memiliki empat pabrik di Rusia dan segera berencana meluncurkan pabriknya yang kelima.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.