Mengapa Mata Uang Rubel Rusia Sangat Tak Stabil?

Sebuah papan digital menampilkan nilai tukar mata uang di luar kantor jasa penukaran uang. Mata uang euro naik hingga 91 rubel per euro, sedangkan dolar AS berada di atas 84 rubel per dolar AS dalam jam perdagangan Moscow Exchange.

Sebuah papan digital menampilkan nilai tukar mata uang di luar kantor jasa penukaran uang. Mata uang euro naik hingga 91 rubel per euro, sedangkan dolar AS berada di atas 84 rubel per dolar AS dalam jam perdagangan Moscow Exchange.

Valery Sharifulin/TASS
Dalam beberapa tahun terakhir, rubel Rusia memang mengalami masa-masa yang sulit. Hanya dalam waktu beberapa bulan, rubel telah kehilangan sekitar 20 persen nilainya terhadap dolar AS dan euro, meski kemudian memenangkan kembali sekitar 10 persen dari nilai sebelumnya. Perubahan drastis yang terjadi dengan rubel bukan pertama kalinya terjadi, penyebab utama volatilitasnya adalah perubahan harga minyak.

Sejauh mana ketergantungan mata uang rubel terhadap minyak?

Rubel Rusia sering disebut sebagai turunan dari harga minyak. Setelah pada awal Januari 2016 harga minyak mentah Brent jatuh di bawah 27 dolar AS per barel, rubel telah kehilangan nilainya ke tingkat terendah dalam sejarah terhadap dolar AS dan euro. Segera setelah Pertemuan Luar Biasa OPEC pada bulan Februari mengenai kemungkinan penurunan produksi minyak sebesar lima persen, harga minyak per barel naik menjadi 35 dolar AS. Hal tersebut berdampak pada naiknya nilai rubel.

Nilai tukar mata uang Rusia ikut naik dan turun pada hari yang sama dengan bergejolaknya harga minyak. Hal ini mengindikasikan bahwa rubel Rusia sepenuhnya tergantung pada harga sumber energi tersebut. Pengurangan ketergantungan ini — jika bisa dilakukan — tidak akan terjadi dalam waktu cepat. Dibutuhkan pembangunan kembali struktur ekonomi Rusia untuk dapat melakukan ini. Menurut perkiraan ekonom Rusia Sergey Hestanov, hal ini akan memakan waktu hingga 15 tahun lamanya.

Alternatif lainnya adalah pengetatan kontrol devisa. Namun demikian, hal ini pasti akan memicu meningkatnya praktik pasar gelap. Praktik semacam ini terjadi di Venezuela. Ketika akan bepergian ke luar negeri, warga Venezuela hanya dapat menukar dolar jika mereka menunjukkan tiket pesawat. Oleh karena itu, di Venezuela pun bermunculan pasar tiket palsu agar masyarakat bisa menukarkan mata uang. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali mengatakan bahwa tidak akan ada peraturan pembatasan pertukaran mata uang di Rusia.

Sejak kapan semuanya bermula?

Pada tahun 2014, ketika harga minyak turun di bawah 100 dolar AS per barel, Bank Sentral Rusia mengumumkan mengenai transisi ke kurs bebas. Sebelumnya, otoritas resmi telah mendirikan koridor mata uang, dan jika nilai tukar rubel melenceng dari nilai tukar yang ditetapkan, Bank Sentral akan mulai menjual dolar di pasar.

Dalam situasi turunnya harga minyak yang tajam dan penarikan modal dari Rusia — sehubungan dengan diberlakukannya sanksi — Bank Sentral menolak untuk mendukung rubel. Jika saja Bank Sentral saat itu memberi dukungan terhadap rubel, Bank Sentral harus melawan seluruh pasar dan spekulan yang dapat mengancam hilangnya cadangan devisa Rusia.

Akibatnya, rubel kehilangan nilainya sebesar 60 persen dalam setahun terhadap dolar dan euro. Bagi masyarakat, terjadi peningkatan tajam terhadap harga barang-barang impor dan harga tiket. Perjalanan ke luar negeri kini terasa jauh lebih mahal. Semua ini berakibat pada meningkatnya inflasi di Rusia. Sebagai contoh, menurut surat kabar bisnis Vedomosti, sebesar 75 persen kentang yang beredar di Rusia adalah produk impor — termasuk benih dan pupuk juga diimpor.

Siapa pihak yang paling dirugikan?

Pada posisi pertama adalah anggaran Rusia, yang menurut angka resmi, sebesar 60 persen anggaran Rusia bergantung pada pendapatan minyak dan gas. Semua anggaran dan beban ditentukan dalam rubel. Oleh karena itu, penurunan harga minyak dapat dikompensasikan dengan harga rubel yang lebih rendah pula, sedangkan jumlah anggaran tetap dalam angka yang sama. Sebagai contoh, anggaran untuk 2016 dihitung dari harga rata-rata minyak tahunan sebesar 50 dolar AS per barel Brent dan nilai tukar rubel pada tingkat 60 rubel terhadap dolar AS.

Namun jika minyak hanya dihargai sebesar 25 dolar AS per barel, harga dolar akan naik terhadap Rusia hingga 120 rubel. Angka ini adalah tingkat kritis bagi perekonomian Rusia sehingga pemerintah tidak bisa membiarkan nilai tukar yang mengarah kepada defisit anggaran. Pada 2015, menurut Kementerian Keuangan Rusia, defisit anggaran adalah sebesar 2,6 persen dari PDB dan akan mencapai sekurangnya tiga persen pada tahun 2016.

Apa yang dapat dilakukan Bank Sentral?

Layaknya di negara mana pun, Bank Sentral akan menaikkan suku bunga utamanya, yaitu harga uang di dalam negeri yang menjadi orientasi bagi bank swasta. Pada akhir 2014, di tengah serangan terhadap rubel, Bank Sentral menaikkan suku bunga utamanya hingga 17 persen sehingga pinjaman di Rusia dibekukan.

Suku bunga pinjaman yang tinggi akan melindungi ekonomi negara dari “kebakaran”, tetapi hal ini membuat sejumlah perusahaan tidak akan mendapatkan pinjaman untuk pembangunan. Dalam situasi ini, banyak bank yang menolak memberikan pinjaman. Para ekonom membandingkan situasi ini seperti bisnis pembangunan gedung olahraga yang menghabiskan oksigen.

Lebih lanjut, mantan menteri keuangan yang sekaligus kawan pribadi Presiden Rusia Vladimir Putin, Aleksey Kudrin, telah berulang kali menyatakan perlunya menaikkan suku bunga lebih tinggi, yaitu hingga 30 persen. Terakhir, suku bunga turun menjadi 11 persen. Sebagai perbandingan, di AS tingkat suku bunga kunci adalah sebesar 0,25 persen hingga 0,5 persen, dan di Uni Eropa adalah sebesar 0,05 persen.

Dalam penulisan artikel ini, RBTH dibantu oleh salah satu spesialis ekonomi makro, dosen di Departemen Pasar Finansial dan Rekayasa Finansial, Fakultas Keuangan dan Perbankan Akademi Kepresidenan Rusia untuk Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik (RANHiGS) Sergey Hestanov, serta dua analis dari perusahaan investasi “Russ-Invest” Semyon Nemtsov dan UFS IC Pyotr Dashkevich.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.