Bagaimana Rusia Membantu Pembangunan Vietnam Pascaperang?

Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh Perpustakaan Kongres Amerika, bantuan ekonomi Soviet bagi Vietnam berkisar 0,7 miliar hingga satu miliar dolar AS pada 1978.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh Perpustakaan Kongres Amerika, bantuan ekonomi Soviet bagi Vietnam berkisar 0,7 miliar hingga satu miliar dolar AS pada 1978.

Roger Violet / East-News
Dari tahun 1978 hingga pertengahan 1980-an, Uni Soviet memberi bantuan sebesar satu miliar dolar AS untuk Vietnam tiap tahunnya. Bantuan tersebut terdiri dari pinjaman, kredit perdagangan, pelatihan teknis, dan subsidi harga.

Setelah menandatangani sebuah kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Ekonomi Eurasia pada 2015, pemimpin Vietnam berbicara tentang rencana peningkatan perdagangan bilateral dengan negara-negara bekas Soviet hingga sepuluh miliar dolar AS pada 2020. Hal ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan perdagangan bilateral antara Vietnam dan AS yang mencapai 30 miliar dolar per tahun.

Moskow pernah menjadi mitra dagang terbesar Hanoi cukup lama. Hubungan khusus ini berlangsung dari tahun 1970-an hingga 1991 karena Uni Soviet merupakan pemberi bantuan terbesar bagi Vietnam.

Agen Oranye adalah julukan yang diberikan untuk herbisida dan defolian yang digunakan oleh Militer Amerika Serikat dalam peperangan herbisida (herbicidal warfare) selama Perang Vietnam.

“Seluruh dasar industri Vietnam dibangun oleh Rusia setelah perang berakhir,” kata Hoang Khu, mantan spesialis teknik di Vietsovpetro, sebuah perusahaan gabungan minyak dan gas yang dibangun pada 1981. Khu, yang merupakan konsultan industri energi di kota Vung Tau, menyebutkan bahwa bantuan Rusia lebih dari sekadar minyak dan gas. “Ahli Soviet terutama membantu membersihkan ranjau di bagian selatan Vietnam dan menyuburkan kembali lahan pertanian yang diselimuti Agen Oranye dan zat kimia beracun lainnya.”

Teman yang Sedang Kesusahan

Segera setelah Perang Vietnam, sejumlah negara bersedia memberi bantuan untuk negara tersebut. Tiongkok memberi bantuan sebesar 300 juta dolar AS per tahun, hingga kedua negara memperebutkan perbatasan pada akhir 1970-an. Jepang, yang merupakan salah satu donor yang paling sigap, menghentikan bantuan setelah Vietnam menduduki Kamboja.

Satu-satunya negara barat yang menyediakan pendampingan pembangunan bagi Vietnam pada masa Perang Dingin adalah Swedia. Bantuan tahunan dari Barat bagi Vietnam hingga 1986 berkisar seratus juta dolar AS. Bantuan Rusia bagi Hanoi meroket setelah Vietnam bergabung dengan Comecon, sebuah organisasi ekonomi bagi negara-negara komunis.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh Perpustakaan Kongres Amerika, bantuan ekonomi Soviet bagi Vietnam berkisar 0,7 miliar hingga satu miliar dolar AS pada 1978. Setelah pertengahan 1980-an, bantuan Soviet bagi negara tersebut mencapai satu miliar dolar AS per tahun. Bantuan ini terdiri dari pinjaman, kredit perdagangan, pelatihan teknis, pendampingan proyek, dan subsidi harga.

“Kami membangun semua pembangkit energi di negara tersebut, sejumlah bendungan dan membuat negara ini bisa mendapat keuntungan dari ledakan perangkat keras di Asia,” kata Nikolai Baltak, seorang spesialis teknis yang tinggal di Vietnam pada 1983-1987. “Hal itu berakhir pada masa Perestroika, ketika Uni Soviet tak bisa lagi menyubsidi Vietnam.”

“Rel kereta utara-selatan dari Hanoi ke Ho Chi Minh (Saigon) dibangun kembali oleh Uni Soviet,” kata Khu. “Mereka juga menyediakan pendampingan teknis untuk membangun kembali jembatan terbesar di negara tersebut.”

Khu menambahkan bahwa infrastruktur turisme era Prancis yang hancur kembali dibangun oleh Rusia. “Turis Eropa pertama di Vietnam setelah perang adalah orang-orang Rusia yang mengerjakan proyek untuk negara tersebut,” tuturnya. “Negara ini memasuki periode isolasi setelah perang, dan warga biasa Rusialah yang membantu membangun kembali negara Vietnam.” Kini, Vietnam merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di Asia bagi warga Rusia.

Kembalinya Amerika

AS menormalisasi hubungan perdagangan dengan Vietnam pada 1990-an dan menunjukkan kehadiran ekonominya sejak itu. Sejumlah besar investasi AS datang dari anggota komunitas Vietnam-Amerika yang kaya raya.

“Amerika berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi besar di Vietnam ketika negara ini membuka diri untuk perdagangan,” kata Baltak yang kembali ke Vietnam pada 2003 untuk mengunjungi putranya yang bekerja bagi Vietsovpetro. “Sungguh sulit bagi Rusia dan Uni Eropa untuk berkompetisi di sana, tapi seharusnya ada jalan yang lebih pragmatik untuk membangun hubungan ekonomi,” tambahnya.

“Terdapat sejumlah celah bagi Rusia untuk menembus pasar Vietnam,” kata Khu. “Rusia tentu tetap menjadi mitra preferensi Vietnam dalam teknologi tinggi, pertahanan, dan energi nuklir.”

Moskow dan Hanoi mengharapkan kerja sama yang lebih besar di bidang ekonomi. Ekspor mobil Renault buatan-Rusia ke Vietnam dan pembangunan klaster industri Vietnam di Moskow seharusnya membantu membangkitkan hubungan ekonomi yang pernah menjadi hubungan terpenting bagi Vietnam.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.