Turis Rusia Ubah Rute Wisata dari Turki ke Asia

Para turis berjemur di pesisir Laut Merah, di hotel yang menampung wisatawan yang tengah menunggu dievakuaao dari kota Sharm el-Sheikh, Sinai selatan, Mesir, Sabtu (7/11). Rusia menangguhkan semua penerbangan ke Mesir, bersama Inggris, yang mengeluarkan larangan penerbangan ke kota resor tersebut menyusul kecelakaan pesawat minggu sebelumnya di Sinai. Pesawat sewaan kosong telah diterbangke ke resor tersebut untul menjemput para turis Rusia dan Inggris yang masih berada di sana.

Para turis berjemur di pesisir Laut Merah, di hotel yang menampung wisatawan yang tengah menunggu dievakuaao dari kota Sharm el-Sheikh, Sinai selatan, Mesir, Sabtu (7/11). Rusia menangguhkan semua penerbangan ke Mesir, bersama Inggris, yang mengeluarkan larangan penerbangan ke kota resor tersebut menyusul kecelakaan pesawat minggu sebelumnya di Sinai. Pesawat sewaan kosong telah diterbangke ke resor tersebut untul menjemput para turis Rusia dan Inggris yang masih berada di sana.

AP
Beberapa bulan sebelum Tahun Baru, warga Rusia kehilangan Turki dan Mesir — dua tujuan wisata utama, yang pada 2014, menurut Badan Pariwisata Federal, dikunjungi masing-masing oleh empat dan 2,2 juta warga Rusia (42 persen dari keseluruhan jumlah turis Rusia yang berkunjung ke luar negeri).

Pertama, setelah terjadinya ledakan bom di pesawat Rusia yang mengangkut turis-turis Rusia di Semenanjung Sinai pada 31 Oktober lalu, Rusia menutup jalur penerbangan dengan Mesir dan mengevakuasi semua turis. Kedua, setelah 24 November lalu Turki menembak pesawat pengebom Rusia Su-24 yang melakukan misi tempur di Suriah, Moskow melarang penerbangan sewaan ke Turki, menghapus kebijakan bebas visa, dan merekomendasikan turis untuk tidak mengunjungi negara tersebut.

Penutupan dua tujuan paling terkenal tersebut memaksa agen travel segera mencari pengganti dan salah satu kandidat utamanya, sejauh ini, adalah negara-negara Asia Tenggara.

Menurut para peserta riset yang disurvei oleh RBTH, pantai-pantai di Asia tergolong kompetitif dari segi harga dan pelayanan. Namun demikian, perlu waktu lebih lama untuk terbang ke sana dari Rusia bagian Eropa, dan mereka kurang dikenal oleh turis Rusia.

Siapa yang Dapat Menggantikan Turki dan Mesir?

Menurut CEO salah satu agen perjalanan terbesar Rusia Tez Tour Vladimir Kaganer, Turki dan Mesir dapat digantikan oleh 'Vietnam, Thailand, Tiongkok, dan Srilanka' karena negara-negara tersebut setara dengan Turki dan Mesir dari segi pelayanan, paket tur, dan hotel.

“Hainan (pulau wisata di Tiongkok selatan) mungkin menjadi alternatif bagi Mesir, karena ia juga memiliki rekreasi pantai yang tersedia di musim dingin,” terang Svetlana Pyatikhatka, Direktur Eksekutif Asosiasi Wisatawan Dunia Tanpa Batas.

“Namun, berbeda dengan Mesir dan Turki, Hainan tak berbatasan dengan wilayah yang memiliki ancaman teroris.”

Jauh dan Mahal

Namun, para agen perjalanan sadar bahwa resor Asia tak bisa sepenuhnya menggantikan Turki dan Mesir karena letaknya yang jauh dan tingginya harga penerbangan. Penerbangan dari Moskow ke Tiongkok atau Vietnam memakan waktu delapan jam dan harga tikernya hampir tiga kali lipat lebih tinggi.

Akan tetapi, berbeda dengan Moskow dan area barat Rusia, wilayah timur Rusia, seperti Ural, Siberia, dan Timur Jauh juga memiliki jarak yang sama dari Eropa dan Asia. Dengan begitu, masalah jarak tak telalu penting.

“Bagi penduduk Trans-Ural dan Timur Jauh, tur ke Vietnam atau misalnya Pulau Hainan bisa lebih murah daripada ke Mesir,” kata perwakilan layanan online Rambler.Puteshestviya pada RBTH.

Masalah lain yang menjadi penghambat turis Rusia mengunjungi Asia adalah kurangnya informasi mengenai resor. Menurut Svetana Patikhatka, hanya 450 ribu dari 1,12 juta orang yang mengunjungi Tiongkok pada sembilan bulan pertama 2015 yang merupakan turis.

“Mesir dan Turki memimpin segmen pariwisata dari segi iklan. Papan iklan raksasa ditempatkan di kota-kota besar, iklan di televisi, artikel majalah dan koran — semua menceritakan kecantikan pantai dan beragam pilihan wisata di negara tersebut bagi warga Rusia,” kata Patikhatka.

Menurut Patikhatka, Menteri Budaya dan Pariwisata Turki menginvestasikan lima juta dolar AS di Rusia pada 2012 hanya untuk mengiklankan Turki sebagai tujuan wisata.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.