Bagaimana Sanksi Anti-Turki Pengaruhi Perekonomian Kedua Negara

Seorang pedagang membantu seorang pembeli memilih tomat di pasar Dorogomilovsky di Moskow, Rusia, Jumat, 27 November 2015.

Seorang pedagang membantu seorang pembeli memilih tomat di pasar Dorogomilovsky di Moskow, Rusia, Jumat, 27 November 2015.

AP
Sanksi yang dikirim Rusia untuk Turki, menurut para pakar, akan berpengaruh terutama terhadap impor Turki. Namun, perdagangan kedua negara juga didominasi oleh ekspor Rusia, terutama gandum dan gas, dan pemerintah sejauh ini belum berencana mengeluarkan larangan di bidang tersebut.

Rusia telah memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Turki. Dekrit mengenai hal itu telah ditandatangani oleh Presiden Vladimir Putin pada Sabtu (28/11), demikian disampaikan layanan pers Kremlin. Secara khusus, mulai 1 Januari 2016, perusahaan Rusia tak boleh menerima karyawan berkewarganegaraan Turki dan kebijakan bebas visa antara kedua negara akan ditangguhkan. Selain itu, dalam waktu dekat pemerintah akan melarang penggunaan subkontraktor Turki untuk menerapkan proyek negara. Namun, daftar industri yang terdampak oleh pembatasan tersebut masih belum ditentukan oleh pemerintah.

Menurut data lembaga statistik resmi Rusia Rosstat, Turki merupakan mitra dagang terbesar kelima Rusia. Pada 2014, perdagangan antara kedua negara mencapai 31 miliar dolar AS, dan dalam sembilan bulan pertama 2015 nilai transaksi mencapai 18,1 miliar dolar AS. Sebagian besar dari jumlah ini adalah ekspor Rusia. Sementara, pada tahun 2015, ekspor Turki ke Rusia hanya mencapai sekitar tiga miliar dolar AS. Pada akhir 2015, perdagangan antara kedua negara diperkirakan mencapai 23-25 miliar dolar AS, dengan jumlah ekspor Rusia mencapai 20 miliar dolar AS dan impor sekitar 4-5 miliar dolar AS, demikian disampaikan Alexander Knobel, kepala Studi Perdagangan Internasional di Akademi Kepresidenan Rusia untuk Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik (RANHiGS), yang dekat dengan Pemerintah Rusia.

 

Jaringan Perdagangan

Ekspor utama Rusia untuk Turki berupa gandum dan gas belum tersentuh oleh sanksi. Pada 2014, perusahaan gas raksasa Rusia Gazprom memasok 27,3 miliar meter kubik gas untuk Turki, membuat Turki menjadi pembeli gas terbesar kedua Rusia, setelah Jerman. Dari pihak Turki, dalam sembilan bulan pertama 2015, Turki mengekspor makanan bernilai hingga satu miliar dolar AS ke Rusia, terutama berupa tomat dan jeruk yang jumlahnya mencapai lebih dari separuh dari keseluruhan produk yang dapat ditemui di Rusia. Menurut Alexander Knobel, Rusia sepertinya tak akan membatasi impor sayuran sebelum liburan Tahun Baru. Ia memprediksi, Moskow sepertinya akan melakukan pengecekan kebersihan impor makanan mendatang dari Turki.

Bidang lain yang diekspor Turki berupa bahan tekstil: banyak perusahaan pakaian dan alas kaki Rusia bekerja sama dengan pemasok Turki. Menurut data Rosstat, dalam sembilan bulan pertama 2015, Rusia mengimpor produk tekstil bernilai hampir 514 juta dolar AS dari Turki dan alas kaki senilai 48 juta dolar AS. Jika sanksi juga dijatuhkan di bidang ini, barang Turki dapat dikirim ke Rusia melalui Belarus, demikian diprediksi Direktur Pelaksana perusahaan Marketolog Olga Zhiltsova.

 

Pengurangan Jumlah Perdagangan

Sanksi mungkin akan membuat perusahaan konstruksi Turki keluar dari pasar Rusia. “Cukup banyak perusahaan Turki yang bergelut di segmen properti, terutama properti komersil, dan kita tak menyangkal ada kemungkinan beberapa dari mereka harus keluar dari proyek skala besar di Rusia. Kepercayaan kepada Turki sebagai mitra telah lenyap,” kata Menteri Konstruksi Rusia Mikhail Men pada kantor berita RBK.

Secara keseluruhan, pakar memprediksi, perdagangan antara dua negara sepertinya tak akan turun sampai 50 persen. “Saya rasa pada 2016, pengurangan jumlah perdagangan tak akan lebih dari 50 persen,” kata Alexander Knobel. Ia menambahkan, kerugian terbesar mungkin datang dari proyek masa depan yang belum terealisasikan. Presiden Turki Tayyip Erdoğan sebelumnya menyampaikan, pada 2020 perdagangan dengan Rusia dapat mencapai seratus miliar dolar AS. Angka tersebut disimpulkan berdasarkan ekspektasi atas proyek antarnegara skala besar, seperti jaringan pipa gas ‘Turkish Stream’ dan pembangkit energi tenaga nuklir Akkuyu, yang sepertinya akan dibatalkan dalam situasi saat ini, kata Knobel menyimpulkan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.