Bisakah Harga Minyak Bangkit dari Keterpurukan?

Pompa angguk (pump jack) minyak mentah di kota Almetyevsk, Tatarstan, Rusia.

Pompa angguk (pump jack) minyak mentah di kota Almetyevsk, Tatarstan, Rusia.

TASS
Bagi negara pengekspor minyak, termasuk Rusia, prospek ekonomi masih suram. Harga minyak pada musim semi stabil di atas 60 dolar AS per barel dan terlihat akan menanjak, namun pada akhir musim panas harga minyak kembali turun hingga di bawah 45 dolar AS. Russia Direct berusaha menganalisis apakah harga minyak bisa bangkit dari keterpurukan?

Penyebabnya sudah diketahui dan masih sama: produksi minyak yang berlebih di pasar dunia. Menurut International Energy Agency (IEA), produksi minyak melebihi konsumsi harian minyak, yaitu sekitar tiga juta barel. Namun, setiap hari terdapat sekitar seratus juta barel minyak yang diproduksi—level tertinggi di abad ini. Pada kuartal pertama tahun ini, penawaran melebihi jumlah permintaan sebesar 0,5 juta barel per hari.

Perusahaan minyak dunia, baik swasta maupun milik pemerintah, segan untuk mengurangi jumlah produksi. Sebaliknya, mereka terus meningkatkan produksi untuk mengompensasi kerugian mereka dari jatuhnya harga minyak. Selain itu, minyak Iran kembali memasuki pasar, yang dapat menambah satu juta barel lain per hari ke pasar global. Banyak pakar memprediksi harga minyak dapat jatuh hingga di bawah 40 dolar AS. Bahkan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev memprediksi harga bisa mencapai 30 dolar AS per barel, dan Menteri Pengembangan Ekonomi Rusia Alexei Ulyukayev, yang selalu berhati-hati memberi pernyataan, mengakui ada kemungkinan harga minyak jatuh ke level 30-40 dolar AS per barel.

Namun, kondisi pasar tak sederhana. Dan ada skenario yang dapat mengubah arah perputaran.

Skenario pertama, yang disorot oleh IEA, terkait dengan peningkatan permintaan minyak secara global. Pertumbuhan tersebut, menurut IEA, telah dimulai, dan suatu ketika dapat melebihi penawaran, membuat ‘teh Texas’ ini kembali menjadi komoditas langka. Permintaan minyak harian tahun ini akan meningkat 1,6 juta barel (diperkirakan mencapai 95,24 juta barel pada kuartal keempat), atau meningkat 200 barel lebih dibanding prediksi sebelumnya. Tingkat suku bunga berada di level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Hal itu, antara lain dikarenakan oleh fakta bahwa minyak menjadi lebih murah dan terjangkau. IEA memperkirakan proses pemulihan keseimbangan di pasar global sedang berjalan, dan jika ada kondisi yang menguntungkan tingkat permintaan yang seimbang dengan penawaran dalam kurun waktu setahun.

Tentunya, dinamika permintaan akan tetap negatif, karena situasi di pasar keuangan Tiongkok. Belakangan ini.. 

Versi lengkap artikel ini dapat di baca di situs Russia Direct.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.