Dolar Menguat, Pasar Rusia Runtuh pada Senin Kelabu

Sebuah gedung pencakar langit di daerah bisnis Moscow City, di belakang tempat penukaran uang, Moskow, Rusia (23/8). Rubel Rusia turun sebesar 2,3 pesen pada hari Senin dan menembus level terendah yang bertahan pada tujuh bulan terakhir mengikuti harga minyak, produk kunci ekspor Rusia.

Sebuah gedung pencakar langit di daerah bisnis Moscow City, di belakang tempat penukaran uang, Moskow, Rusia (23/8). Rubel Rusia turun sebesar 2,3 pesen pada hari Senin dan menembus level terendah yang bertahan pada tujuh bulan terakhir mengikuti harga minyak, produk kunci ekspor Rusia.

Getty Images
Rubel Rusia mencapai titik terendah dalam sejarah terhadap dolar AS, sementara indeks saham utama RTS jatuh dalam satu hari sebesar 6 persen. Fenomena pada Senin (24/8) kemarin ini disebut-sebut sebagai "Black Monday" bagi pasar Rusia. Menurut para pakar, sejak awal musim panas, nilai rubel telah jatuh terhadap dolar AS sebesar 35 persen.

Rubel Rusia mencapai titik terendah dalam sejarahnya terhadap dolar AS, sedangkan indeks RTS turun hampir sebesar 6 persen akibat berita runtuhnya rubel terhadap mata uang utama lainnya dan penurunan harga minyak. Jatuhnya indeks Rusia diikuti dengan kepanikan pada wilayah perdagangan utama dunia. Indeks Tiongkok Shanghai Composite jatuh sebesar 8,5 persen, sedangkan Dow Jones jatuh sebesar 6,08 persen atau 1.001,24 poin. Turunnya indeks Dow Jones ini pun tercatat dalam sejarah karena sampai saat ini indeks tidak pernah jatuh hingga 800 poin dalam satu hari. Penurunan terbesar pernah terjadi pada 29 September 2008, yaitu ketika Dow Jones jatuh sebesar 777 poin.

 

Namun demikian, anjloknnya mata uang Rusia secara keseluruhan lebih signifikan dibandingkan dengan sebagian besar negara di dunia. “Sejak awal musim panas, dolar AS naik sebesar 35 persen, sedangkan euro naik sebesar 41 persen,” ujar analis dari TeleTrade Aleksander Egorov. Para pakar sepakat bahwa alasan utama runtuhnya rubel adalah ketergantungan yang tinggi ekonomi Rusia pada harga minyak. Pada Senin (24/8), Brent dihargai sebesar 43,54 dolar AS per barel. Ini merupakan angka terendah sejak krisis 2009.

 

 

Alasan Dasar

 

Menurut seorang ahli dari BKS Express, Ivan Kopeikin, rubel memulai minggu ini dengan penurunan yang tajam terhadap dolar dan euro. “Jatuhnya pasar saham Tiongkok dan penurunan harga minyak adalah penyebab utama terjadinya fenomena ni,” ujar Kopeikin. Menurutnya, keputusan pada hari Minggu yang membahas sejumlah lembaga dana pensiun Tiongkok yang kini dapat berinvestasi hingga 30 persen dari aset di pasar saham tidak membantu. Volume mereka diperkirakan sekitar 100 miliar dolar AS. “Pasar Rusia telah memasuki babak baru penurunan yang curam. Indeks saham dan rubel runtuh secara bersamaan akibat dinamika harga minyak yang tidak stabil. Fenomena ini diamati berdasarkan dinamika bursa saham Tiongkok,” ujar analis dari Perusahaan InstaForex Igor Kovalyov.

 

Menurut Kovalev, salah satu alasan penurunan harga minyak adalah pernyataan Kementerian Perminyakan Iran Bijan Namdar Zangeneh. Ia menyatakan, Iran akan meningkatkan produksi minyaknya apa pun risikonya karena mereka tidak memiliki alternatif lain. “Jika produksi pasar minyak tidak meningkat dengan cepat, kami akan terus kehilangan pangsa pasar,” ujar sang menteri kepada perusahaan Bloomberg.

 

Iran adalah negara penghasil minyak terbesar kedua di antara negara-negara yang tercatat dalam anggota OPEC sebelum jatuhnya sanksi terhadap negara tersebut pada bulan Juli 2012. Beberapa perusahaan minyak besar, termasuk BP dan Shell, telah menyatakan minatnya dalam pengembangan wilayah endapan minyak di Iran. Pada saat yang sama, menurut Badan Energi Nasional, kelebihan minyak di dunia sudah mencapai 3 juta barel per hari.

 

 

Prediksi di Masa Depan

 

“Sangat penting untuk mencatat bahwa anggaran Rusia diatur sesuai harga dasar, yaitu 50 dolar AS per barel. Dalam kondisi saat ini, tidak ada landasan untuk pemulihan sikap optimisme. Oleh karena itu, kami berharap akan ada penurunan dinamika negatif pada pasar saham Rusia,” ujar Igor Kovalyov.

 

Menurut Aleksander Egorov, “Kemungkinan penurunan harga minyak di beberapa wilayah pada tahun 2008 hingga 2009 cukup tinggi, dan saat ini tidak ada alasan objektif untuk mengharapkan kenaikan harga, setidaknya dalam tahun ini.”

 

Selain itu, pada Senin (24/8) kemarin, Menteri Pembangunan Ekonomi Aleksey Ulyukayev mengira harga minyak turun di bawah 40 dolar AS per barel. Sebelumnya, Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev juga telah memberikan perkiraan serupa. Ia mencatat bahwa pada tahun-tahun ke depan, harga minyak diperkirakan ada pada level 30 hingga 40 dolar AS per barel.

 

“Ada kepanikan di pasar. Untuk saat ini, tidak ada alasan untuk berbicara tentang fenomena krisis ini. Penjualan saham memungkinkan investor jangka panjang membeli saham dengan murah,” ujar Kepala Operasi Pasar Saham "Freedom Finance" di Rusia George Vashchenko dengan optimis.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.