Legalkan Sistem Perbankan Syariah, Rusia Perlu Amandemen Undang-undang

Shutter Stock/Legion Media
Pemerintah Rusia telah membuat kelompok kerja yang bertanggung jawab mengimplementasikan sistem perbankan Syariah di Negeri Beruang Merah tersebut. Namun, bank Syariah tersebut kelak harus diizinkan melakukan kegiatan komersil—semua bentuk bunga bank dilarang oleh Islam, sehingga bank Syariah biasanya melakukan pertukaran komoditas.

Pemerintah Rusia telah membuat kelompok kerja untuk mengimplementasikan sistem perbankan Syariah di Rusia, termasuk mengubah sistem hukum perbankan Rusia, demikian dilaporkan kantor berita TASS, mengutip Wakil Kepala Komite Pasar Keuangan Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) sekaligus kepala kelompok kerja tersebut, Dmitry Savelyev.

Menurut sang pejabat, kelompok kerja ini akan melibatkan pakar-pakar dari Bank Sentral Rusia, Kementerian Keuangan Rusia, serta Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia. Kelompok ini berencana mengatur izin bagi bank Syariah untuk melakukan aktivitas komersil karena Alquran melarang penerimaan semua bentuk bunga dan perbankan Syariah biasanya bertukar komoditas satu sama lain. Menurut Konstantin Baymukhashev, pengacara di UFS IC, perubahan undang-undang tersebut akan berkontribusi secara signifikan untuk menarik investasi dari negara-negara Arab.

Menarik Aset Syariah

Pada Juni 2015, Presiden Tatarstan (wilayah Rusia yang didominasi oleh muslim) Rustam Minnikhanov menyatakan dalam pidatonya pada Forum Ekonomi Kazan Summit bahwa sistem keuangan Syariah akan membantu perusahaan Rusia mengatasi masalah kekurangan pasokan dana akibat sanksi Barat.

 

Berdasarkan laporan terbaru IMF, jumlah aset Syariah di dunia akan mencapai sekitar 3,4 miliar dolar AS pada akhir 2015. “Negara-negara muslim belum ikut mengisolasi negara kami di panggung internasional, dan perkembangan terbaru dalam perekonomian dunia menunjukkan bahwa perbankan Syariah dapat mengatasi berbagai krisis global serta memperbaiki sistem keuangan global,” kata sang presiden.

Minnikhanov merupakan pejabat yang paling gencar mempromosikan sistem perbankan Syariah di Rusia. Pada Juli lalu, ia menandatangani kerja sama dengan Presiden Bank Sberbank German Gref, untuk mengembangkan sistem perbankan Syariah di Tatarstan.

Ahmed Mohammed Ali Al-Madani dari Islamic Development Bank menyampaikan pada RBTH bahwa konsep keuangan Syariah juga diterapkan oleh beberapa negara nonmuslim, termasuk Inggris, dan jumlah aset Syariah di seluruh dunia telah mencapai 120 miliar dolar AS. “Republik Tatarstan dapat mempromosikan keuangan Syariah ke seluruh Rusia,” kata Al-Madani.

Bank terbesar di Tatarstan, AK Bark, telah berhasil menarik beberapa investasi Syariah. Pada Januari lalu, perusahaan asuransi Alliance mulai menjual produk asuransi khusus, “Halal Invest”, yang sesuai dengan norma Islam.

Tantangan Utama

“Pengembangan sistem keuangan Syariah di Rusia merupakan sinyal positif. Bisnis semacam ini tengah marak di seluruh dunia, dan dengan demikian kita dapat mendiversifikasi sumber dana serta meningkatkan kepercayaan masyarakat pemeluk Islam terhadap sistem perbankan,” terang Semyon Nemtsov, analis dari perusahan investasi Russ-Invest. Namun, sang pakar menyatakan kita tak bisa mengharapkan peningkatan investasi dari negara-negara Islam secara drastis. “Perbankan Syariah adalah konsep religius dan ideologis, sehingga faktor keuangan menjadi nomor dua. Oleh karena itu, kita menghadapi tantangan besar untuk mengimplementasikan sistem tersebut dalam sistem keuangan dan hukum Rusia,” kata Konstantin Korishchenko, Wakil Direktur Departemen Pasar Modal dan Rekayasa Keuangan di Akademi Kepresidenan Rusia untuk Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik (RANHiGS).

 

Menurut  Korishchenko, terdapat sejumlah faktor yang akan mempersulit penyesuaian sistem perbankan Islam dan ‘Kristen’, termasuk transaksi di masa depan. Oleh karena itu, lanjut sang pakar, pengenalan sistem perbankan Syariah membutuhkan sejumlah perubahan fundamental dalam hukum Rusia.

Seperti yang disampaikan Konstantin Baymukhashev, sistem perbankan Syariah dan Rusia sangat berbeda satu sama lain. “Bank Syariah tak menyediakan dana bagi kliennya dengan metode klasik, namun mereka menjual produk atau berperan sebagai mitra dalam beberapa proyek, dan menghadapi semua risiko yang sama, seperti sang klien,” terang Baymuhashev. Sistem ini juga merefleksikan norma-norma Syariah, melarang beberapa aktivitas perbankan seperti mendanai perusahaan yang menjual atau memproduksi minuman beralkohol.

“Perbedaan sistem perbankan umum dengan Syariah sangat signifikan. Kita harus mengubah undang-undang perbankan sebelum menerapkan sistem tersebut di Rusia,” kata Baymukhashev. Namun, pendanaan dari investor Islam tentu dapat menjadi alternatif dari pasar modal Barat, lanjutnya.

Pada Juni lalu, Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi menginvestasikan dana sebesar sepuluh miliar dolar AS di Rusia, mengembangkan kemitraan dengan Russian Direct Investment Fund—dana yang dikuasai pemerintah untuk mendukung usaha Rusia yang paling menjanjikan. Investasi langsung dalam perekonomian Rusia pada 2014 lalu mencapai 21 miliar dolar AS, dan diprediksi aset Syariah akan mencapai setidaknya separuh dari jumlah tersebut.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.