Apakah Runtuhnya Bursa Saham di Tiongkok Akan Mengancam Perekonomian Rusia?

Foto: EPA

Foto: EPA

Penurunan bursa saham Tiongkok pada awal Juli lalu berdampak pada penurunan indeks saham Hong Kong, Taiwan, Jepang, serta beberapa indeks Amerika Serikat. Menurut para analis, dampak terhadap ekonomi makro Rusia akibat penurunan bursa saham Tiongkok ini bisa menjadi sangat serius meskipun Departemen Keuangan mengatakan sebaliknya.

Runtuhnya pasar saham domestik di Tiongkok yang mengalami penurunan tajam di awal Juli menimbulkan gelombang jatuhnya indeks pasar saham di dunia. Dimulai pada pertengahan Juni, indeks Bursa Efek Shanghai (Shanghai Composite) turun hampir sekitar 35 persen. Dinamika negatif berlanjut ke Bursa Efek Hong Kong yang turun sekitar 23,86 persen sejak pertengahan Mei. Akibatnya, lebih dari 500 perusahaan menghentikan perdagangan saham di bursa efek Shanghai dan Shenzhen.

Pada 8 Juli lalu, para investor Amerika Serikat mulai menjual saham karena takut akan dampak keruntuhan pasar uang Tiongkok dan krisis di Yunani. Pada lelang di New York, indeks Dow Jones turun lebih dari 1,5 persedn, sedangkan NASDAQ dan S&P 500 turun lebih dari 1,7 persen. The Wall Street Journal menulis, turunnya harga pada bursa efek Tiongkok dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan Amerika Serikat yang memiliki hubungan bisnis yang dekat dengan mitranya di Tiongkok.

Pada 7 Juli lalu, indeks Jepang Nikkei menunjukkan penurunan (5 – 6 persen). Sementara, Taiwan Stock Exchange Weighted Index turun sebesar 5,5 – 6 persen. "Saham Tiongkok menunjukkan pertumbuhan yang pesat pada bulan Maret lalu, dan pertumbuhan itu tidak bisa disebut sebagai situasi yang sehat," komentar CEO Nissan Jidosha Hiroto Nishikawa pada surat kabar bisnis Sankei Shimbun.

 

Beberapa analis percaya bahwa terkait dengan hal ini, sell-off di Tiongkok diasosiasikan dengan terbentuknya "gelembung" karena pertumbuhan yang terlalu cepat. Kepala Ekonom Sberbank CIB Evgeny Gavrilenkov berpendapat bahwa pasar Tiongkok dihargai terlalu tinggi.

"Indeks bursa saham Shanghai (sebelum koreksian yang terbaru) meningkat dari sekitar 2.000 menjadi lebih dari 5.000, yaitu meningkat 2,5 kali lipat sejak pertengahan 2014. Secara prinsip, hal itu jelas tidak dibenarkan. Bahkan nilai yang saat ini berada di sekitar 3.700 pun mungkin sudah dikategorikan terlalu tinggi," komentar Gavrilenkov.

"Pasar Tiongkok jatuh dikarenakan sebelumnya telah tumbuh sebesar 150 persen. Banyak perusahaan dari Tiongkok menaikkan harga berkali-kali lipat lebih mahal daripada perusahaan-perusahaan Amerika," ujar Sergey Danilov, direktur jaringan bank BCS Premier. Namun demikian, menurutnya kini pasar Tiongkok telah kembali ke harga yang cukup memadai.

Harga Minyak dan Nilai Tukar Rubel

"Rusia telah mengalami dampak dari penurunan pasar di Tiongkok dengan turunnya harga minyak," ujar Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov (8/7). Menurutnya, hal ini tecermin dalam neraca pembayaran yang otomatis memberi tekanan tambahan pada mata uang rubel Rusia.

"Namun, tidak akan terjadi kerugian apa pun. Bank Sentral secara aktif terlibat di pasar dan mereka membeli mata uang sebagai cadangan sebesar 200 juta dolar setiap harinya. Angka ini bernilai sekitar 15 dolar dalam harga minyak. Artinya, jika harga mengalami fluktuasi secara signifikan, kami sudah memiliki saham yang cukup besar dan Bank Sentral akan bereaksi," ujar Siluanov.

Menurut Siluanov, pembelian mata uang oleh Bank Sentral menegasikan seluruh perubahan pada harga minyak yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

"Sangat memungkinkan untuk membeli mata uang di bawah pengaruh minimum pada nilai tukar, Pada saat yang sama, Bank Sentral membentuk 'penyangga' yang dapat digunakan untuk menyokong rubel dari permasalahan minyak atau guncangan eksternal lainnya," ujar analis ekonomi makro Raiffeisenbank Maria Pomelnikova

Prediksi untuk Rusia

Menurut Gavrilenkov, dampak bagi perekonomian Rusia memang akan sangat minim. Hal ini dikarenakan hanya ada perbedaan tipis bagi perekonomian Rusia jika harga minyak berkisar pada angka 57 dolar per barrel (seperti saat ini) atau, katakanlah, sekitar 60 – 65 dolar per barrel, seperti pada bulan Mei hingga Juni. "Selain itu, sulit untuk memisahkan secara akurat dampak harga minyak terhadap koreksi pasar Tiongkok dan Yunani," kata Gavrilenkov menjelaskan.

 

Menurut Pomelnikova, hal paling menonjol yang tecermin di Rusia akibat runtuhnya pasar Tiongkok, terlihat melalui pengurangan harga minyak dan harga logam yang mengarah pada penurunan ekspor dan devaluasi rubel.

"Untuk ekonomi global, yang penting adalah bukan pasar saham, melainkan melambatnya pertumbuhan di Tiongkok," ungkap direktur peringkat daerah RA "RusRating" sekaligus profesor di Sekolah Tinggi Ekonomi, Anton Tabah. Menurutnya, pada tahun 2015 IMF memproyeksikan Tiongkok untuk pertama kalinya harus mengalah pada India dalam hal pertumbuhan yang akan mempengaruhi harga minyak dan bahan baku. "Di sisi lain, pertumbuhan anggaran infrastruktur dan konsumsi domestik dapat mengimbangi kerugian," katanya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.