Apa Makna Kegagalan Yunani dalam Melunasi Utang bagi Rusia?

Masyarakat Yunani berunjuk rasa di pusat Syntagma Square, di depan gedung parlemen Yunani, Athena, Yunani (29/6). Masyarakat Yunani telah menolak membayar utang mereka pada IMF dan mereka akan mengumumkan kegagalan teknis tersebut setelah referendum yang digelar Minggu (5/7). Hal ini berarti Yunani pada dasarnya telah berada dalam posisi gagal melunasi utang. Foto: Fotis Plegas G./EPA

Masyarakat Yunani berunjuk rasa di pusat Syntagma Square, di depan gedung parlemen Yunani, Athena, Yunani (29/6). Masyarakat Yunani telah menolak membayar utang mereka pada IMF dan mereka akan mengumumkan kegagalan teknis tersebut setelah referendum yang digelar Minggu (5/7). Hal ini berarti Yunani pada dasarnya telah berada dalam posisi gagal melunasi utang. Foto: Fotis Plegas G./EPA

Pemerintah Yunani telah menolak membayar utang mereka pada IMF dan mereka akan mengumumkan kegagalan teknis tersebut setelah referendum yang digelar Minggu (5/7). Sejauh ini, perekonomian Rusia aman dari potensi kekacauan terkait kegagalan membayar utang. Namun, pakar ekonomi Rusia yakin jika Yunani meninggalkan Eurozone, ini akan membuka kesempatan baru bagi Rusia untuk membangun hubungan ekonomi dan perdagangan yang baru dengan Athena.

Pada Selasa (30/6), Pemerintah Yunani menolak untuk membayar utang sebesar 1,6 miliar euro pada IMF. Pengumuman tersebut dibuat oleh Menteri Keuangan Yunani Yanis Varoufakis, demikian dilaporkan Agence France-Presse (AFP). Hal ini berarti Yunani pada dasarnya telah berada dalam posisi gagal melunasi utang. Bursa saham Rusia tak bereaksi terhadap berita ini.

"Kegagalan Yunani adalah hal yang sudah diduga, oleh karena itu reaksi investor akan terkendali meski negatif," kata Anna Kokoreva, analis ekonomi di Alpari. "Kami tak memprediksi jatuhnya euro dan pasar modal, namun sedikit penurunan tentu tak terhindarkan. Indeks pasar mungkin akan turun sekitar dua hingga tiga persen."

Dolar juga diduga akan menguat. "Volatilitas umum mata uang dan sekuritas Rusia akan meningkat," kata Elizabeta Belugina dari FSB Brokerage. "Namun, mengingat melemahnya rubel punya dampak positif terhadap perekonomian Rusia, tak akan ada konsekuensi negatif yang serius dari kegagalan Yunani membayar utang."

 

Pakar yakin bahwa kegagalan Yunani akan berdampak secara temporer terhadap arus modal keluar dari Rusia. "Investor akan menghindari risiko dan akan ada peningkatan permintaan terhadap aset yang tak terlalu menguntungkan namun lebih terpercaya," terang Kokoreva.

Ekonomi Rusia saat ini tak terlalu bergantung pada arus masuk modal, karena pasar telah ditutup selama setahun, kata Egor Susin, Kepala Pakar Gazprombank. "Sehingga, kita tak perlu memprediksi adanya tekanan dan arus modal keluar secara aktif."

Gairah Baru Kembangkan Hubungan Ekonomi

Hal yang lebih penting apakah Yunani akan meninggalkan Eurozone atau tidak. Analis di S&P menyebutkan bahwa Grexit punya 50 persen kemungkinan.

"Jika Yunani meninggalkan Eurozone, maka Yunani dapat mengembangkan kerja sama perdagangan dengan Rusia," kata Kokoreva. "Mata uang baru negara tersebut akan lemah dan barang-barang mereka dijual murah. Dan menurunnya ketergantungan negara tersebut terhadap kreditor eksternal dapat memberi pengaruh positif dalam kebijakan luar negeri dengan Rusia."

"Hal ini bahkan bisa mempercepat terwujudnya jalur Turkish Stream, karena setelah meningalkan Eurozone Yunani akan lebih tertarik untuk bekerja sama dengan negara lain," terang Susin. "Namun, kita tak bisa menyebutkan bahwa Yunani ditakdirkan untuk meninggalkan Eurozone."

 

Susin menyebutkan bahwa Uni Eropa sendiri diragukan akan mengizinkan Yunani meninggalkan Eurozone, karena hal ini dapat menimbulkan dampak yang tak terduga. Volume sistem keuangan Yunani mencapai lebih dari satu triliun euro.

Kegagalan tersebut dapat mengembalikan Eropa ke masa resesi negara dan ini akan berdampak langsung terhadap perdagangan dan hubungan ekonomi dengan Rusia, yang merupakan salah satu eksportir dan importir utama Uni Eropa.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.