Perjalanan Rubel Menembus Waktu, dari Abad Pertengahan Hingga Hari Ini

Ilustrasi oleh Slava Petrakina.

Ilustrasi oleh Slava Petrakina.

Pada 2014, rubel Rusia menjadi mata uang paling lemah di dunia. Berdasarkan survei terbaru Levada Center, hanya 36 persen warga Rusia yang masih mempertahankan tabungan dalam bentuk rubel. Mengapa warga Rusia sangat skeptis terhadap mata uang nasional mereka? RBTH telah menyusun rangkuman lima abad perjalanan nilai rubel, menguak kisah naik-turunnya mata uang ini saat diterpa reformasi dan krisis, serta menunjukan fluktuasi dalam daya beli mata uang Rusia selama lima abad terakhir.

Rubel Rusia secara umum mengikuti tren sejarah moneter dunia, yakni perak, tembaga, emas, dan sejak pertengahan 1970-an ketika platform pengeboran Soviet mulai memproduksi sejumlah besar minyak, rubel mulai bergantung secara langsung pada nilai 'emas hitam' tersebut. Harga minyak dunia tak bisa dipastikan stabilitasnya dan cenderung mengalami perubahan mendadak—sama seperti harga emas dunia—sehingga tak heran sepanjang abad ke-20 rubel mengalami enam kali reformasi moneter, delapan kali redenominasi, dan sejumlah kasus hiperinflasi, bahkan pernah kehilangan lebih dari 200 persen nilainya hanya dalam beberapa tahun.

Tentu perubahan harga minyak atau emas bukan satu-satunya faktor yang memicu naik-turunnya nilai mata uang, karena kita tak lupa pada faktor ekonomi dan politik yang turut berperan besar.

Sejak abad ke-13, pemerintah dari berbagai negara mengukur mata uang mereka dalam nilai riil yang setara dengan logam, baik tembaga, perak, atau emas. Pada akhir abad ke-19, emas terpilih menjadi penyokong mata uang utama dunia.

Beberapa abad kemudian, pada 1930-an, dunia mulai mengabaikan sokongan emas pada mata uang, dan pada awal 1970-an, 'standar emas' telah dihapuskan seutuhnya. Selama 40 tahun terakhir, nilai uang bergantung pada perekonomian negara, ekspektasi pasar, serta keputusan yang diambil oleh bank sentral negara.

RBTH telah menyusun rangkuman lima abad perjalanan nilai rubel, menguak kisah pencarian panjang negara untuk memodernisasi sistem moneter dan memperoleh mata uang yang stabil, serta menunjukkan daya beli rubel selama 500 tahun terakhir—yang diukur terhadap dolar AS. Apa yang bisa dibeli dengan seratus rubel tembaga pada 1966? Apa yang dapat dibeli dengan seratus rubel Soviet pada 1920-an? Simak penjelasannya berikut ini.

* Dolar AS baru muncul pertama kali pada 8 Agustus 1786, sehingga kami tak bisa mengonversi nilai rubel ke dolar pada abad ke-16 dan ke-17.

Rubel Perak, 1534

100 rubel = 100 sapi atau 100 kuda

Sistem moneter pertama Rusia muncul di bawah pemerintahan putri Lithuania muda, Elena Glinskaya, ibu dari Ivan yang Mengerikan, ketika ia menjadi kepala negara pada 1530-an. Saat itu, Rusia menghadapi krisis keuangan akibat buruknya sistem moneter nasional dan pasar dibanjiri oleh mata uang palsu. Glinskaya memerintahkan percetakan uang logam yang lebih sulit ditiru, dan muncul rubel perak sebagai alat tukar dasar dan mata uang keras pertama Rusia.

Rubel Tembaga, 1662

100 rubel = 20 tong ikan sturgeon atau 4 mantel bulu mahal dengan hiasan emas dan renda

Tsar Alexei Mikhailovich, ayah dari Petr I (yang Agung), mencoba melakukan reformasi moneter untuk membiayai Perang Rusia-Polandia pada 1654-1667. Ia memutuskan mengambil uang 'kredit dari masyarakat' dan mengeluarkan mata uang tembaga yang setara, yang dapat ditukar kembali ke rubel perak di masa depan. Gaji pegawai negeri dan para pemanah dibayar menggunakan tembaga, sementara pajak dipungut dalam mata uang perak. Karena tembaga mudah ditiru, nilai uang baru ini turun hingga tujuh kali lipat dalam kurun waktu dua tahun, dan memicu terjadinya Kekacauan Tembaga pada 1662, sebuah pemberontakan di Moskow yang melibatkan sepuluh ribu warga Moskow yang kebanyakan merupakan tentara, pemanah, dan para petani. Pemberontakan berhasil ditekan dan koin tembaga ditarik dari peredaran. Namun, nilai rubel baru berhasil distabilkan oleh Petr yang Agung sekitar 40 tahun kemudian.

Rubel Kertas, 1769

100 rubel = 72 dolar AS (pada 1792) = 10 pondok kayu Rusia atau 'izba'

Pada pertengahan abad ke-18, ketika Eropa telah memiliki jaringan perbankan yang luas dan transaksi tunai menggunakan uang kertas, Rusia masih melakukan pembayaran dengan koin yang dibuat dari logam mulia yang produksinya sangat mahal. Ratu Ekaterina II (yang Agung) kemudian memutuskan untuk memperkenalkan uang kertas pertama, yang disokong oleh rubel perak yang sama. Namun, Rusia belum siap dengan inovasi ini. Masyarakat tak mau menyimpan uang dalam bentuk uang kertas dan mereka tak mempercayai uang kertas. Tapi, negara terus meningkatkan penerbitan uang kertas setiap tahunnya, mengabaikan nilai riilnya dalam perak. Semua faktor tersebut memicu krisis keuangan yang parah setelah kematian Ekaterina yang Agung.

Rubel Emas, 1895

100 rubel = 51 dolar AS = seekor kuda pekerja, atau piano bekas dari masa pra-revolusioner Rusia

Salah satu reformasi moneter yang paling berhasil dalam sejarah Rusia dilakukan oleh Menteri Keuangan Sergei Witte pada masa pemerintahan Kekaisaran Rusia yang terakhir, Tsar Nikolay II. Witte mengganti rubel perak dengan rubel emas, mengakhiri devaluasi nilai uang kertas yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Ekaterina yang Agung (yang sebagian masih beredar), serta mengakhiri spekulasi mata uang. Reformasi tersebut mengontrol arus masuk modal asing ke Rusia dan membuat negara memiliki mata uang nasional yang sulit dikonversi.

Rubel Soviet, 1924

100 rubel = 45 dolar AS = 26 pasang sepatu karet atau enam tahun perjalanan menggunakan trem pertama Rusia

Setelah penggulingan monarki pada 1917, perang sipil dan kebijakan 'perang komunisme' memicu hiperinflasi yang paling parah dalam sejarah mata uang Rusia. Rubel mengalami depresiasi lebih dari 50 juta kali lipat dalam waktu lima tahun. Sebagai contoh, pada 1917, seratus rubel setara dengan 9 dolar AS, namun pada 1923, seratus rubel hanya setara dengan 0,00004 dolar AS. Untuk menstabilisasi keadaan, pada 1924 Uni Soviet memperkenalkan mata uang Soviet baru yang disokong oleh emas. Rubel keras yang baru ini hanya bertahan enam tahun sebelum ditarik dan digantikan dengan sistem kartu untuk mendapatkan roti, daging, dan bahan-bahan kebutuhan pokok lain. Selama periode Soviet dari 1917 hingga 1991, sistem kartu diperkenalkan empat kali untuk mengatasi krisis makanan yang akut.

Pada awal 1920-an, Uni Soviet menghadapi tantangan yang tak terduga: Barat yang menentang habis-habisan rezim komunis yang baru menolak pembayaran barang dalam bentuk koin dengan simbol Soviet.

Untuk mengatasi masalah ini, pada 1925-1927 pemerintah Soviet mencetak uang logam dengan gambar Nikolay II. Ini membuat pemerintah Soviet bisa membeli benda-benda yang dibutuhkan dari luar negeri menggunakan uang logam bergambar Tsar Rusia yang digulingkan dan dieksekusi pada masa kekaisaran tersebut.

Rubel 'Minyak', 1970-1980-an

100 rubel = 140 dolar AS = 27 botol sampanye Soviet atau satu buah celana jeans

Sejak 1931, rubel Soviet hanya menjadi mata uang domestik yang digunakan untuk keperluan pribadi, dan hanya negara yang berhak menukar rubel dengan mata uang asing serta membeli barang dari negara lain. Dengan pertumbuhan harga minyak dunia dan peningkatan produksi minyak sejak pertengahan 1970-an, jumlah minyak dan sumber energi lain yang diekspor Uni Soviet meningkat tajam, mencapai rekor 54 persen pada 1985. Perekonomian Uni Soviet pun kemudian bergantung pada minyak, dan ini harus dibayar mahal pada 1985-1986, ketika jatuhnya harga minyak menghantam pendapatan devisa negara serta nilai rubel.

Sejak 1990, semua penerimaan devisa negara ditujukan untuk menutup utang mata uang asing Uni Soviet. Di saat yang sama, utang rubel negara mulai tumbuh akibat defisit keuangan. Itu semua memainkan peran pada jatuhnya Uni Soviet dan memicu krisis keuangan yang sangat parah bagi Rusia modern. Dalam beberapa dekade, rubel mengalami inflasi dan redenominasi tak kurang dari empat kali.

Rubel Saat Ini, 2015

100 rubel = 1,4 dolar AS = 1 Big Mac atau 2 tiket kereta bawah tanah Moskow

Rubel Rusia kehilangan hampir seratus persen nilainya terhadap dolar AS dalam tiga bulan terakhir 2014 (jatuh dari 37 rubel per satu dolar pada September 2014, menjadi 67 rubel per datu dolar pada Desember 2014). Hal tersebut terjadi akibat jatuhnya 50 persen harga minyak dunia dan pengaruh sanksi Barat yang dilimpahkan pada Rusia sejak Maret 2014 terkait krisis Ukraina. Pada awal 2015, nilai rubel masih tak bisa stabil.

Artikel ini berdasarkan materi dari Asrip Ekonomi Negara Rusia dan data dari sumber-sumber lain.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.