Krisis di Sektor Sandang Rusia Buka Peluang Besar bagi Eksportir Asia Tenggara

Posisi Tiongkok sebagai negara nomor satu di dunia dalam produksi tekstil murah mulai goyah karena kehadiran negara-negara berkembang di Asia yang mulai memasuki pasar seperti India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia. Foto: Reuters

Posisi Tiongkok sebagai negara nomor satu di dunia dalam produksi tekstil murah mulai goyah karena kehadiran negara-negara berkembang di Asia yang mulai memasuki pasar seperti India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia. Foto: Reuters

Kondisi pasar tekstil dan sepatu Rusia terus memburuk sejak 2014 lalu. Akibatnya, banyak produk-produk Eropa terpaksa menutup toko mereka dan keluar dari Rusia. Sementara, Tiongkok kehilangan posisinya sebagai manufaktur garmen terkemuka di dunia dan membuka jalan bagi Vietnam, Bangladesh, dan negara Asia lainnya untuk menjadi eksportir pakaian utama di Rusia.

Sejak awal 2015, volume pasar pakaian dan alas kaki eceran di Rusia merosot hingga 25-35 persen, dan diperkirakan baru akan merangkak sekitar 3,5 persen hingga empat persen pada akhir tahun ini. Pakar ekonomi dari Y-Consulting memperkirakan nilainya akan mencapai 3,21 triliun rubel (60,9 miliar dolar AS). Pada kuartal pertama tahun 2015, volume penjualan di bidang ini menurun hingga 42 persen. Segmen kelas menengah mengalami penurunan yang paling parah.

Banyak merek pakaian internasional yang meninggalkan pasar Rusia sejak 2014 lalu, termasuk OVS (Italia), New Look dan River Island (Inggris), serta Esprit (berkantor pusat di Jerman dan Hongkong). Pakar memprediksi hal serupa akan kembali terjadi pada September-Oktober mendatang.

Pergeseran Tren Impor

Menurut pakar, industri garmen Asia sedang mengalami sejumlah segmentasi. Posisi Tiongkok sebagai negara nomor satu di dunia dalam produksi tekstil murah mulai goyah karena kehadiran negara-negara berkembang di Asia yang mulai memasuki pasar seperti India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia.

Menurut Vietnam Textile & Apparel Association (VITAS), sepanjang 2005-2011 ekspor garmen Vietnam meningkat sebesar 32 persen, sementara ekspor Tiongkok hanya meningkat 15 persen, dan ekspor dari India, Turki, Malaysia, dan Thailand meningkat sekitar tujuh persen.

"Produsen tekstil dan alas kaki secara bertahap meninggalkan Tiongkok. Sebaliknya, industri garmen India, Bangladesh, Pakistan, Vietnam, Kamboja, Indonesia, Laos, dan Korea semakin berkembang secara signifikan," terang Kepala Departemen Tekstil di SCS Group Olga Strelnikova.

Ada dua faktor utama yang membuat impor garmen ke Rusia dari negara-negara tersebut lebih kompetitif dibanding dari Tiongkok, yakni harga dan bea impor yang lebih rendah yang diberlakukan oleh pemerintah Rusia.

"Bicara mengenai pertumbuhan impor pada 2013-2014, kita bisa melihatnya sebagai tren yang sangat jelas. Dinamika negatif terjadi pada Tiongkok, Italia, dan Turki, sementara Vietnam, India, dan Bangladesh mengalami pertumbuhan positif," kata CEO Fashion Consulting Group Anna Lebsak-Kleimans.

Berdasarkan data Consulting Group, Bangladesh dan Vietnam masuk dalam daftar tujuh eksportir sandang terbesar ke Rusia. Meski saham mereka tak sebesar Tiongkok, pertumbuhannya jauh lebih mengesankan. Pada 2012-2014, impor dari Bangladesh tumbuh 25,59 persen dan impor dari Vietnam meningkat 16,96 persen. Sementara impor dari Tiongkok menurun sebesar 4,48 persen.

Anna Lebsak-Kleimans mencatat bahwa negara-negara Asia, terutama Tiongkok, menguasai 75-80 persen produk impor garmen dan alas kaki bajakan di Rusia (biasa disebut 'impor abu-abu'). Pada saat yang sama, volume segmen ini telah berkurang drastis sejak tahun 2000, ketika jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 80 persen dari total penjualan, terang Lebsak-Kleimans. Pada 2014, Tiongkok hanya menguasai tidak lebih dari 25 persen pasar bajakan di Rusia. Segmen yang paling terpengaruh oleh barang bajakan ialah tas dan asesoris, alas kaki, dan sepatu (Adidas, Nike, dan lain-lain).

Vietnam di Garis Depan

Menurut Vietnam National Textile and Garment Group (Vinatex), Uni Eropa masih akan menjadi pasar utama Vietnam untuk tahun-tahun mendatang. Namun, karena Moskow tak lagi memungut tarif yang tinggi untuk produk pakaian dari Vietnam, ekspor mereka ke Rusia tentu akan meningkat.

Minggu lalu, Vietnam baru saja menandatangani kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Ekonomi Eurasia (UEE) yang terdiri dari Rusia, Belarus, Armenia, Kazakhstan, dan Kirgistan. Hal tersebut kemungkinan akan meningkatkan volume ekspor pakaian Vietnam ke negara-negara UEE.

"Implementasi kebijakan tersebut akan meningkatkan volume perdagangan bilateral dan mempererat ikatan perdagangan dan ekonomi antara para partisipan. Kesepakatan ini juga akan mempercepat proses integrasi UEE di wilayah Asia Pasifik," terang pernyataan resmi pemerintah Rusia.

Pemerintah Rusia berharap kesepakatan ini akan menjadi model bagi integrasi Rusia dengan anggota blok perdagangan ASEAN lainnya.

"Pendirian zona perdagangan bebas akan menguntungkan Vietnam, karena ekonomi berorientasi ekspor mereka telah menunjukan pertumbuhan yang baik sejak 2011. Vietnam akan mendapat beberapa keuntungan logistik dibanding rekan-rekan Asianya, sebagai contoh Bangladesh," tutur Anna Lebsak-Kleimans.

Namun, tambah Lebsak-Kleimans, munculnya penyedia produk garmen murah yang baru akan mempersulit pabrik-pabrik lokal Rusia untuk bangkit. "Jumlah impor di segmen pakaian, alas kaki, dan asesoris mencapai lebih dari 80 persen. Jatuhnya pabrik garmen lokal terus berlanjut sejak 20 tahun lalu dan sangat sulit untuk mengembalikannya," kata Lebsak-Kleimans.

Produk Asia Versus Produk Lokal

Para pakar industri fesyen memprediksi pabrik garmen Rusia akan menghadapi kompetisi ketat dengan produk impor dari negara-negara Asia Tenggara. Namun, para pakar menilai pabrik Rusia justru bisa menjadikan negara-negara tersebut sebagai mitra produksi.

Meski pemerintah Rusia mendukung perluasan kapasitas manufaktur domestik dan memperbaiki efisiensi produksi, kondisi masih tetap sulit bagi para pemain domestik di sektor tekstil. Berdasarkan data statistik pemerintah, saat ini Rusia memiliki 653 perusahaan besar dan menengah di sektor sandang, dan sekitar empat ribu perusahaan kecil yang bergerak di bidang industri garmen dan tekstil. Perkembangan di bidang ini berjalan sangat lambat, meski sudah mulai bangkit sejak krisis pada 2009 lalu.

Menurut Soyuzlegprom (Persatuan Pengusaha Tekstil dan Industri Ringan Rusia), pabrik domestik diuntungkan oleh kehadiran Strategi Pengembangan Industri Ringan Rusia yang menyediakan bantuan dari pemerintah bagi pabrik tekstil dan garmen, termasuk modernisasi berbasis teknologi dan peningkatkan level kompetitif mereka. Tahun lalu, pemerintah Rusia melarang penggunaan produk tekstil impor untuk segala keperluan militer atau segala keperluan belanja negara.

Namun, menurut Anna Lebsak-Kleimans, dukungan pemerintah hanya bisa dinikmati oleh pabrik-pabrik besar dan terbatas dalam penempatan pesanan pemerintah, terutama untuk seragam industri dan pertahanan.

BTK Group, salah satu produsen pakaian laki-laki dan seragam di Rusia, memiliki kontrak senilai 1,5 miliar dolar AS dengan Kementerian Pertahanan Rusia untuk pembuatan seragam tentara. Baru-baru ini perusahaan BTK Group masuk dalam daftar 199 perusahan yang dilindungi oleh Komisi Antikrisis Pemerintah Federasi Rusia.

Juru bicara BTK Group yakin Rusia dapat berkompetisi dengan negara-negara Asia Tenggara meski dalam kondisi ekonomi seperti saat ini, terutama dari segi gaji di sektor garmen. "Gaji di sektor tersebut meningkat 20 persen per tahun sejak 2006 dan saat ini mencapai 650 dolar AS per bulan," terangnya sambil menambahkan bahwa kedekatan posisi geografis Rusia ke negara-negara CIS dan Eropa Timur memberi keuntungan lebih bagi produsen lokal.

Namun di saat yang sama, tambahnya, ketergantungan para produsen lokal pada bahan mentah dan mesin impor masih menjadi tantangan utama.

Olga Strelnikova menambahkan bahwa meski pabrik lokal mendapat keuntungan dari fluktuasi nilai tukar yang membuat harga mereka sangat kompetitif, kurangnya keberagaman material dan teknologi dibanding yang dapat ditawarkan oleh negara Asia Tenggara masih menjadi masalah utama bagi para produsen Rusia.

Strelnikova menjelaskan, anjloknya nilai tukar rubel terhadap dolar tahun lalu dan diikuti oleh periode resesi dan ketidakpastian membuat banyak produk Rusia harus memperbaharui strategi manufaktur mereka. "Banyak perusahaan yang lebih memilih tak mengambil risiko dalam mengikat diri mereka dengan kontrak eksternal yang memberlakukan pembayaran dalam dolar, karena mereka tak dapat memprediksi harga akhir produk, sedangkan siklus produksi berjalan setidaknya enam bulan bahkan kadang lebih."

Namun, lanjut Strelnikova, para produsen Rusia kini lebih banyak memilih untuk melakukan produksi gabungan. Mereka membeli kain dan asesoris dari negara lain dan menjahitnya di Rusia, karena harga penjahit di Rusia lebih murah. Strelnikova menambahkan, konsumen saat ini tak hanya mengincar harga yang murah, tapi juga kesan secara keseluruhan dan kualitas produk, sehingga faktor seperti material modern dan teknologi pemrosesan terbaru menjadi penting. "Ini adalah area yang belum bisa dikejar oleh produsen Rusia," kata Strelnikova.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.