Agar Tak Bergantung pada Asing, Indonesia Perlu Produksi Alumina Secara Mandiri

Indonesia sangat membutuhkan pabrik pengolahan bauksit karena negara ini merupakan salah satu eksportir bauksit terbesar di dunia selama periode beberapa puluh tahun terakhir. Foto: RUSAL

Indonesia sangat membutuhkan pabrik pengolahan bauksit karena negara ini merupakan salah satu eksportir bauksit terbesar di dunia selama periode beberapa puluh tahun terakhir. Foto: RUSAL

Baru-baru ini, nama RUSAL mencuat setelah ekonom Indonesia Faisal Basri menuding RUSAL berada di balik kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah Indonesia karena perusahaan Rusia tersebut hendak berinvestasi di bidang pengolahan bauksit di Indonesia.

Berdasarkan laporan Kompas.com, dalam acara bertema "Kondisi Terkini, Harapan dan Tantangan di Masa Depan Industri Pertambangan Bauksit dan Smelter Alumina Indonesia" di Jakarta, Senin (25/5), Faisal mengatakan bahwa pada awal 2014 Hatta Rajasa selaku Menteri Koordinator Perekonomian melarang ekspor mineral mentah, termasuk bauksit. Menurut Faisal, larangan ekspor bauksit tersebut merupakan permintaan perusahaan aluminium Rusia UC RUSAL, yang saat itu berencana menanamkan investasinya di Indonesia untuk membuat pabrik pengolahan bauksit (smelter alumina) di Kalimatan.

"RUSAL itu tahun 2007 sudah pernah tanda tangan MOU dengan Antam buat smelter, tetapi tidak jadi. Lalu pada 2014 buat MOU lagi dengan Suryo Sulisto (Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia). Untuk itu (investasi RUSAL), pemerintah dengan gagah berani memenuhi syarat RUSAL untuk melarang ekspor. Sekitar 40 juta ton bauksit hilang di pasaran sehingga harga naik dan saham RUSAL naik, untungnya ratusan juta dolar," kata Faisal.

Menurut Faisal, hal ini juga ada kaitannya dengan langkah Hatta Rajasa untuk maju dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 lalu.

Menanggapi hal ini, Hatta Rajasa membantah kebijakan pelarangan ekspor bauksit terkait dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Hatta juga membantah bahwa kebijakan itu merupakan pesanan perusahaan aluminium asal Rusia, UC RUSAL, seperti tudingan pengamat ekonomi Faisal Basri.

"Saya yakin putra-putri kita mampu mengolah bahan mentah tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah," tulis Hatta. "Dan itulah salah satu prasyarat untuk kita menjadi bangsa yang mandiri, bangsa yang maju, bangsa yang tidak tergantung bangsa lain," katanya menegaskan.

Apakah Indonesia Butuh Pabrik Pengolah Bauksit?

United Company RUSAL

RUSAL merupakan perusahaan Rusia yang bergerak dalam industri bauksit, alumina, dan aluminium. Perusahaan ini merupakan salah satu yang paling unggul dan canggih di dunia, baik dari segi kapasitas maupun teknologi yang mereka miliki.

Saat ditemui RBTH Indonesia pada Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) April lalu, Direktur Dewan Bisnis Rusia-Indonesia Mikhail Kuritsyn menyebutkan keseriusan perusahaan Rusia UC RUSAL untuk berinvestasi di Indonesia. "Perkembangannya cukup baik. Sebagian besar urusan teknis telah disepakati. Tapi saya tak bisa mengumumkan detilnya karena itu seharusnya diumumkan oleh pihak pemegang saham," kata Kuritsyn.

Menurut Kuritsyn, Indonesia sangat membutuhkan pabrik pengolahan bauksit karena negara ini merupakan salah satu eksportir bauksit terbesar di dunia selama periode beberapa puluh tahun terakhir, namun sayangnya masih mengimpor alumina dari Australia untuk kebutuhan produksi alumunium perusahaan Indonesia Inalum. Hal itu dikarenakan Indonesia belum bisa mengolah bauksit menjadi alumina secara langsung.

"Jika Indonesia berencana mengembangkan dan meningkatkan kapasitas Inalum, maka kebutuhan alumina juga akan semakin tinggi. Indonesia perlu memproduksi sendiri alumina agar tidak bergantung pada pasokan dari negara lain," terang Kuritsyn.

Saat ini, lanjut Kuritsyn, diperkirakan jumlah impor alumina Indonesia mencapai tiga hingga empat kali lipat produksi dalam negeri. "Jadi ketergantungan Indonesia dalam produk pengolahan alumunium sangat tinggi," katanya.

Menurut Kuritsyn, negara yang berpenduduk 250 juta orang dengan tingkat perkembangan ekonomi seperti Indonesia memerlukan paling sedikit satu juta ton aluminium untuk diproses menjadi produk yang dapat digunakan oleh masyarakat. Jika Indonesia tak bisa memenuhi kebutuhan tersebut dari pasokan dalam negeri, maka Indonesia harus mengimpor dari negara lain. "Itu artinya, secara tak langsung Indonesia memberi subsidi bagi industri alumunium asing seperti Tiongkok, Jepang, Korea, dan AS," kata Kuritsyn.

Di sisi lain, Rusia melalui perusahaan RUSAL tertarik membantu Indonesia mengembangkan industri alumunium untuk mengatasai ketidakwajaran dari skema yang ada saat ini.

"Tapi jelas proyek ini luar biasa besar, karena ini bukan hanya tentang pengolahan, tapi juga pembuatan infrustruktur logistik seperti pelabuhan, pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Proyek RUSAL di Indonesia ini bisa mengembangkan seluruh zona industri di Kalimantan Barat dan menjadikan daerah ini salah satu zona geografis di Indonesia yang paling kuat dari segi prospek industri," tutur Kuritsyn.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.