Nilai Rubel Mulai Merangkak Naik, Secercah Harapan untuk Ekonomi Rusia

Pakar menilai, jika harga minyak meningkat dan modal keluar dari Rusia tetap berada di level yang sama seperti saat ini, prospek rubel pada 2016 akan semakin suram. Foto: DPA/Vostock Photo

Pakar menilai, jika harga minyak meningkat dan modal keluar dari Rusia tetap berada di level yang sama seperti saat ini, prospek rubel pada 2016 akan semakin suram. Foto: DPA/Vostock Photo

Antara awal Februari dan awal April 2015, nilai rubel Rusia meningkat sebesar 22,3 persen terhadap tolak ukur utama, membuat rubel menjadi mata uang berperforma terbaik di dunia. Namun, para pakar belum yakin penguatan yang mengesankan ini akan menjadi tren yang bertahan untuk jangka panjang.

Antara awal Februari dan awal April 2015, nilai rubel Rusia meningkat sebesar 22,3 persen, setelah kehilangan hampir separuh nilainya terhadap mata uang AS dan euro pada Desember lalu. Menurut kepala analis UFS IC Alexei Kozlov, penguatan tersebut membuat rubel menjadi mata uang berperforma terbaik di dunia.

Peningkatan nilai rubel lebih tinggi dibanding peningkatan harga minyak dunia, padahal biasanya nilai rubel mengikuti tren harga minyak. Pada periode yang sama, harga minyak mentah Brent meningkat sebesar 9,8 persen, dari 53 dolar AS menjadi 58,2 dolar AS. Menurut Kozlov, penguatan nilai rubel dapat dikaitkan dengan investasi dalam bidang-bidang berprospek cerah di pasar berkembang.

Faktor Pendukung

Konstantin Korishchenko, Wakil Kepala Departemen Pasar Saham dan Rekayasa Keuangan di Russian Presidential Academy of National Economy and Public Administration—organisasi yang cukup berpengaruh terhadap kebijakan fiskal pemerintah Rusia—menyatakan pada RBTH bahwa pemulihan nilai rubel merupakan dampak positif dari kombinasi dari beberapa faktor pendukung dalam beberapa minggu terakhir.

Korishchenko menyebutkan, keputusan Bank Sentral Rusia untuk memberi pinjaman mata uang asing senilai 30 miliar dolar AS pada bank-bank Rusia serta menurunkan nilai suku bunga dari 17 menjadi 14 persen adalah faktor utama yang memengaruhi hal tersebut, dibarengi dengan menurunnya ketegangan di Ukraina timur.

“Semua itu membuat investasi rubel dan aset rubel menjadi lebih menarik secara spekulatif,” kata Korishchenko.

Kesepakatan dengan Yunani

Analis dari Finam Investment Anton Soroko menyebutkan bahwa mata uang Rusia akan semakin kuat jika terjadi peningkatan harga minyak dan indikasi jelas bahwa sanksi terhadap Rusia akan dicabut.

Namun, di antara semua faktor positif yang disebutkan, ia menyatakan kesepakatan dengan negara-negara Uni Eropa secara individual paling berpengaruh, termasuk kesepakatan investasi dengan Yunani yang dibicarakan dalam pertemuan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow awal April lalu.

"Situasi di Ukraina saat ini secara umum terlihat stabil, jadi tak ada alasan bagi Uni Eropa dan AS untuk memberi sanksi yang lebih keras,” tambah Soroko.

Kozlov juga setuju bahwa penguatan nilai rubel terjadi berkat Bank Sentral, yang telah membangun kebijakan moneter yang berhasil menahan volatilitasnya secara signifikan. Namun, tambah Kozlov, di saat yang sama belum ada peningkatan minat investor dalam perekonomian Rusia, sehingga ia belum yakin peningkatan nilai rubel ini akan menjadi tren jangka panjang.

“Klaim bahwa nilai rubel tak lagi terikat pada harga minyak tidak terlalu tepat. Rubel dan harga minyak berada pada level yang berbeda pada tahun ini,” kata Korischenko, yang merupakan mantan Wakil Kepala Bank Sentral Rusia.

Prospek Tak Jelas

Korischenko menilai, arah yang dituju oleh harga minyak internasional belum jelas: kesepakatan nuklir dengan Iran memberi sinyal positif, sementara konflik Yaman menciptakan pengaruh negatif.

Perekonomian Rusia masih ditunggangi oleh masalah-masalah fundamental, kata sang pakar.

“Bank kekurangan modal, pertumbuhan ekonomi yang rendah, serta berlanjutnya tren peningkatan peran negara dalam perekonomian, semua faktor tersebut memicu kekhawatiran dan membatasi optimisme terhadap nilai mata uang kita di masa depan,” kata Korishchenko.

Ia menambahkan, jika harga minyak meningkat dan modal keluar dari Rusia tetap berada di level yang sama seperti saat ini, prospek rubel pada 2016 akan semakin suram.

Gambaran umum rubel memang terlihat lebih baik dibanding beberapa bulan lalu, namun untuk melanjutkan tren positif ini, pemerintah harus menciptakan insentif untuk mekanisme perekonomian pasar, tak bisa hanya berharap terhadap peningkatan harga minyak, demikian disimpulkan oleh mantan pejabat Bank Sentral tersebut.

Baca juga: Putin: Ada yang Mengharapkan Kehancuran Ekonomi Rusia >>>

Artikel Terkait

Rusia dan Indonesia Ingin Bertransaksi dalam Mata Uang Rupiah dan Rubel

Standard & Poor's Golongkan Rusia Sebagai Negara yang Gagal Melunasi Utang

Setelah Jatuhnya Nilai Rubel, Tantangan Apa yang Menanti Perekonomian Rusia di 2015?

Pemerintah Rusia Prediksi Terjadi Resesi Tahun Depan

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.