Rusia dan Indonesia Ingin Bertransaksi dalam Mata Uang Rupiah dan Rubel

Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur 2015 (World Economic Forum on East Asia 2015) yang digelar 19-21 April di Jakarta. Foto: Reuters

Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur 2015 (World Economic Forum on East Asia 2015) yang digelar 19-21 April di Jakarta. Foto: Reuters

Rusia dan Indonesia tengah aktif membicarakan rencana melakukan pembayaran menggunakan mata uang nasional. Para pakar percaya hal ini dapat membuat biaya perdagangan lebih ekonomis.

Dalam kunjungan Wakil Perdana Menteri Rusia Arkady Dvorkovich ke Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur 2015 (World Economic Forum on East Asia 2015) yang digelar 19-21 April di Jakarta, delegasi dari Rusia dan Indonesia memunculkan wacana terkait rencana melakukan transaksi perdagangan dalam rupiah dan rubel.

Menurut Menteri Industri Rusia Denis Manturov, perlu waktu lima bulan hingga kedua negara dapat menerapkan sistem transaksi menggunakan mata uang nasional.

 

“Pembayaran dalam mata uang nasional membantu memaksimalkan keuntungan bagi kedua negara dan meningkatkan potensi ekspor-impor,” kata Direktur Eksekutif Dewan Bisnis untuk Kerja Sama dengan Indonesia Mikhail Kuritsyn, yang menjadi salah satu delegasi dari Rusia. “Bagi kami, lebih mudah untuk memberi kredit bagi eksportir dalam bentuk rubel, dan bagi Indonesia pun tentu lebih mudah memberi kredit bagi eksportir dalam bentuk rupiah.”

Pada tahun-tahun mendatang, lanjut Kuritsyin, jumlah pembayaran menggunakan rubel dan rupiah akan meningkat sekitar lima hingga sepuluh persen. “Mungkin volume tersebut bahkan bisa lebih besar jika sudah ada sistem transaksi yang jelas. Saat ini, kami masih menunggu persetujuan dari Vnesheconombank.”

Kuritsyn menyebutkan, pemerintah Rusia percaya model pembayaran dalam mata uang nasional adalah hal yang positif secara finansial. Ia juga berharap langkah ini dapat membuat biaya perdagangan menjadi lebih ekonomis. “Tak perlu ada biaya tambahan seperti saat menggunakan mata uang ketiga, dan tak ada kebutuhan untuk menukar mata uang tersebut.”

Investasi Ratusan Juta Dolar

Dalam kunjungannya ke Jakarta, Arkady Dvorkovich menyebutkan bahwa investor Rusia siap berinvestasi hingga ratusan juta dolar di Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Harian The Jakarta Globe menuliskan, kerja sama antara Rusia dan Indonesia akan mencakup bidang energi, transportasi, pertanian, dan lain-lain.

“Harga yang kami tawarkan sangat kompetitif, terutama saat ini, setelah rubel mengalami devaluasi,” kata Dvorkovich. “Kami dapat menawarkan harga yang lebih rendah dari negara lain. Dan jelas, ini adalah hal yang sangat penting.”

Wakil Perdana Menteri Rusia tersebut juga menyebutkan bahwa Rusia siap memasok Indonesia dengan LNG, helikopter, pesawat sipil, perangkat satelit, pabrik mobil, serta membuat perusahaan gabungan untuk merakit dan memperbaiki rel kereta api.

Rusia juga telah sepakat melakukan kerja sama serupa dengan Vietnam dan Thailand, saat kunjungan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev ke kedua negara pada April lalu.

Terkait perdagangan menggunakan mata uang nasional, belum lama ini Rusia telah menyusun langkah untuk mengimplementasikan hal tersebut dengan Tiongkok. Dvorkovich menyebutkan bahwa saat ini bank Rusia dan Tiongkok tengah mengembangkan detil mengenai sistem tersebut.

Baca juga: GLONASS: Teknologi Canggih nan Murah, Solusi Masalah Kelautan Indonesia >>>

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.